Sawit hingga Kopi, Daftar Komoditas Indonesia yang Diuntungkan dalam Perjanjian Dagang RI-AS
Berikut adalah daftar lengkap komoditas yang mengalami perubahan tarif secara signifikan, ada minyak sawit , kopi, karet, Apple hingga Dell.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Sri Juliati
Ringkasan Berita:
- Presiden Prabowo Subianto dan Donald Trump menandatangani kesepakatan dagang yang menurunkan tarif ekspor Indonesia ke AS menjadi 1,9 persen.
- Perjanjian ini membebaskan bea masuk bagi 1.819 produk unggulan Indonesia.
- Sebagai imbalannya, Indonesia menurunkan tarif impor sejumlah produk Amerika, yang diperkirakan memperkuat rupiah dan menurunkan harga barang mulai 2026.
TRIBUNNEWS.COM - Pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada Februari 2026 telah menghasilkan kesepakatan ekonomi bersejarah.
Perjanjian bertajuk Agreement on Reciprocal Trade (ART) ini secara resmi memangkas hambatan tarif besar-besaran yang selama ini membebani arus perdagangan kedua negara.
Mengutip rilis resmi White House, Amerika Serikat memberikan keistimewaan tarif rata-rata sebesar 1,9 persen bagi Indonesia.
Angka ini jauh di bawah tarif standar yang dikenakan pemerintahan Trump kepada negara mitra lainnya.
Berikut daftar lengkap komoditas yang mengalami perubahan tarif secara signifikan:
Komoditas Ekspor Indonesia (Tarif ke AS Turun)
Dilansir dari CNBC dan Bloomberg, ribuan produk asal Indonesia kini memiliki daya saing yang jauh lebih kuat di pasar Amerika Serikat berkat pemangkasan bea masuk:
- Nikel dan Mineral Kritis: Indonesia berhasil memasukkan nikel ke dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) AS dengan tarif khusus, mendukung ambisi hilirisasi nasional.
- Tekstil dan Alas Kaki: Produk fesyen dan sepatu Made in Indonesia mendapatkan pemotongan tarif besar, yang diprediksi akan memicu lonjakan ekspor di sektor padat karya.
- Minyak Sawit (CPO) dan Turunannya: Tarif dipangkas untuk memenuhi kebutuhan industri pangan dan energi di Amerika, memberikan angin segar bagi pengusaha sawit.
- Kopi, Kakao, dan Karet: Produk perkebunan rakyat kini dapat masuk ke AS dengan tarif hingga 0 persen, meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
- Furnitur dan Kerajinan: Sektor kayu dan furnitur mendapatkan akses pasar yang lebih luas tanpa beban pajak impor yang tinggi.
Komoditas Impor Amerika Serikat (Harga di Indonesia Berpotensi Turun)
Sebagai timbal balik, Indonesia menurunkan tarif untuk produk-produk asal AS.
Mengutip analisis dari KPMG dan The New York Times, hal ini akan berdampak langsung pada biaya hidup dan daya beli konsumen di Indonesia:
- Kedelai dan Gandum: Penghapusan tarif pada dua komoditas ini akan menekan biaya produksi tempe, tahu, roti, hingga mie instan di dalam negeri.
- Daging Sapi dan Produk Susu: Akses lebih mudah bagi daging sapi, keju, dan susu berkualitas asal AS yang kini akan tersedia dengan harga lebih kompetitif di supermarket.
- Gadget dan Perangkat Teknologi: Penurunan tarif untuk laptop, ponsel pintar (smartphone), dan perangkat keras IT merek Amerika Serikat (seperti Apple, Dell, dan HP).
- Suku Cadang Otomotif: Suku cadang dan komponen kendaraan bermotor merek Amerika akan lebih terjangkau bagi konsumen lokal.
- Alat Kesehatan dan Farmasi: Produk medis standar FDA asal Amerika akan masuk ke pasar Indonesia dengan harga yang lebih rendah.
- Komoditas Energi: Indonesia berkomitmen mengimpor gas alam cair (LNG) dan minyak dari AS senilai puluhan miliar dolar untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca juga: CORE Indonesia: Kesepakatan Tarif Resiprokal dengan AS Membuat Petani Tanah Air Makin Terjepit
Dampak Strategis bagi Perekonomian
Melansir ulasan ekonomi dari The New York Times, kesepakatan ini merupakan strategi "win-win" di mana Indonesia mendapatkan proteksi tarif di tengah kebijakan perdagangan Trump yang agresif.
Sebaliknya, Amerika Serikat mendapatkan mitra strategis di Asia Tenggara untuk mengimbangi dominasi ekonomi China.
Bagi pelaku usaha di Indonesia, penurunan tarif ini menjadi peluang emas untuk meningkatkan volume produksi dan memperluas pasar ke Negeri Paman Sam.
Sementara bagi masyarakat luas, dampak nyata akan terasa pada stabilitas harga bahan pangan pokok dan barang teknologi dalam beberapa bulan ke depan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)