Oman Tegaskan Komitmen Fasilitasi Dialog Nuklir AS-Iran di Jenewa
Oman Tegaskan Komitmen Fasilitasi Dialog Nuklir Amerika Serikat (AS)-Iran di Jenewa.
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Pemerintah Oman menyatakan komitmen negaranya untuk mendukung dan memfasilitasi dialog antara Amerika Serikat dan Iran.
- Hal itu dikatakan oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi.
- Guna mencapai solusi yang layak terkait program nuklir Teheran.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Oman menegaskan komitmennya untuk terus mendukung dan memfasilitasi dialog antara Amerika Serikat dan Iran dalam upaya mencapai kesepakatan mengenai program nuklir Teheran.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyampaikan pernyataan tersebut usai pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Jenewa pada Rabu malam (25/2/2026).
Pertemuan itu berlangsung menjelang putaran baru negosiasi nuklir tidak langsung antara Teheran dan Washington.
Melalui pernyataan di platform media sosial X pada Kamis (26/2/2026), Kementerian Luar Negeri Oman menyebut diskusi tersebut membahas sudut pandang serta proposal yang akan diajukan Iran guna membantu mengamankan kesepakatan terkait isu nuklir.
Pembahasan itu dibangun di atas “prinsip-prinsip panduan” yang telah disepakati dalam putaran negosiasi sebelumnya di Jenewa.
Kementerian menambahkan, Albusaidi juga dijadwalkan bertemu dengan tim negosiasi AS untuk menyampaikan perspektif Iran sekaligus mendengarkan ide dan proposal yang diajukan Washington.
Baca juga: 6 Poin Krusial Perundingan Nuklir AS-Iran di Jenewa, Bagaimana Nasib Stabilitas Timur Tengah?
Setelah putaran pembicaraan terakhir pada 17 Februari, kedua pihak memberikan penilaian positif dan mengklaim telah menyepakati prinsip-prinsip dasar menuju potensi kesepakatan.
Pembicaraan nuklir tidak langsung antara Teheran dan Washington berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
AS dilaporkan melakukan penumpukan militer di wilayah Teluk Persia.
Sementara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) menggelar sejumlah latihan militer sebagai persiapan menghadapi kemungkinan konflik.
(*)
Baca tanpa iklan