Dubes Iran Sebut Masyarakat Tak Menganggap Keberadaan Putra Mahkota Reza Pahlavi
Boroujerdi mengatakan masyarakat Iran tidak menganggap keberadaan Reza Pahlavi, putra mahkota dari Syah (raja) terakhir Iran.
Penulis:
Gita Irawan
Editor:
Theresia Felisiani
Ringkasan Berita:
- Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menanggapi terkait sosok putra mahkota dari Syah (raja) terakhir Iran, Reza Pahlavi, yang namanya muncul di tengah serangan AS-Israel ke Iran.
- Boroujerdi mengatakan masyarakat Iran tidak menganggap keberadaan Reza Pahlavi.
- Bahkan masyarakat yang merasa tak puas dengan pemerintahan Iran dan menggelar protes sekalipun.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menanggapi terkait sosok putra mahkota dari Syah (raja) terakhir Iran, Reza Pahlavi, yang namanya muncul di tengah serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran.
Bahkan sejumlah media mengutip pernyataannya yang menyebut tengah bersiap-siap untuk kembali ke Iran setelah diasingkan dan hidup di AS selama puluhan tahun.
Baca juga: Rudal Hantam Area Sekitar Rumah Sakit di Iran, Pasien Berlarian di Tengah Kepulan Asap
Boroujerdi mengatakan masyarakat Iran tidak menganggap keberadaan Reza Pahlavi, bahkan masyarakat yang merasa tak puas dengan pemerintahan Iran dan menggelar protes sekalipun.
"Kami di Iran masyarakat negara kami tidak menganggap ada dan tidak menganggap serius orang yang tadi disebutkan oleh wartawan penanya (Reza Pahlavi)," ungkapnya saat konferensi pers di kediamannya di kawasan Menteng Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
"Mungkin saja di Iran terdapat sebuah ketidakpuasan, sebuah protes dari masyarakat. Tetapi pihak yang protes dan tidak puas pun di Iran tidak menganggap orang ini sebagai orang yang serius dan saya rasa media juga menganggapnya demikian," ucapnya.
Boroujerdi mencatat, AS telah mencoba menyerang tatanan demokrasi di Iran pada tahun 1953 melalui sebuah kudeta untuk mengembalikan kekuasaan Syah Iran.
Namun, ia pun heran dengan langkah AS.
"Apabila memang mereka (AS) adalah pihak yang mengharapkan demokrasi bagi Iran mengapa masyarakat Iran harus turun ke jalanan pada tahun 1979 melalui sebuah revolusi menjatuhkan pemerintahan Syah di sana," kata Boroujerdi.
"Apakah mungkin ada orang Iran yang berharap pengeboman terjadi terhadap negaranya lalu mereka menantikan setelah negaranya dihancurkan dan dibom oleh Amerika Serikat diserahkan kembali kepadanya? Apakah orang seperti itu bisa disebut negarawan?" ucapnya.
Ia pun mencontohkan dengan Indonesia.
Menurutnya, tidak akan ada warga negara Indonesia yang berharap Indonesia diserang.
"Anggap aja seperti Indonesia, apakah di Indonesia ada seorang warga negara Indonesia yang mengharapkan adanya serangan terhadap Indonesia? Saya rasa orang-orang seperti itu tidak mungkin dari Indonesia," pungkasnya.