Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Akankah Perang Iran Vs AS-Israel Menciptakan Krisis Ekonomi Dunia Seperti 2008 Silam?

per Senin (9/3/2026) harga minyak telah melonjak lebih dari 25 persen, ke level tertinggi sejak pertengahan 2022.

zoom-in Akankah Perang Iran Vs AS-Israel Menciptakan Krisis Ekonomi Dunia Seperti 2008 Silam?
HO/IST/VCG/Global Times
Sebuah kapal komersial berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, pada 2 Maret 2026, di tengah ancaman Iran akan membakar kapal yang nekat melintas di Selat Hormuz. 

Akankah Perang Iran Vs AS-Israel Menciptakan Krisis Ekonomi Dunia Seperti 2008 Silam?

TRIBUNNEWS.COM - Perang Iran menghadapi serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel menghasilkan kekhawatrian mendalam terhadap ekonomi dunia.

Dilaporkan, per Senin (9/3/2026) harga minyak telah melonjak lebih dari 25 persen, ke level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Kenaikan harga minyak ini dipicu tindakan sejumlah produsen utama memangkas pasokan dan kekhawatiran akan gangguan pengiriman yang berkepanjangan mencengkeram pasar akibat perang yang meluas.

Baca juga: Harga Minyak Melonjak 10 Persen, IRGC Iran Blokade Selat Hormuz: Harga Tembus 200 Dolar per Barel?

Akankah situasi ini menghasilkan krisis ekonomi dunia seperti 2008 silam?

Pada tahun itu, dunia dilanda krisis moneter setelah pasar saham Amerika Serikat menurun drastis dengan nilai yang tersapu akibat krisis mencapai 8 triliun selama periode 2007-2009.

Penyebab utamanya adalah penurunan harga rumah di AS dan meningkatnya jumlah peminjam yang tidak mampu membayar pinjaman mereka.

Rekomendasi Untuk Anda

Secara sistemik kondisi ini membuat depresi besar, termasuk di antara lima krisis keuangan terburuk yang pernah dialami dunia dan menyebabkan kerugian lebih dari 2 triliun dolar AS dari ekonomi global . 

Pun, menurut ekonom peraih Nobel Philippe Aghion, perang Iran ini tidak sampai memicu krisis ekonomi dunia.

"Perang di Iran kemungkinan akan mengurangi pertumbuhan global tetapi tidak mungkin memicu keruntuhan ekonomi dunia dalam skala krisis keuangan global 2008," kata Aghhion. 

“Jika perang berlangsung lebih dari beberapa minggu, jika harga minyak melonjak lebih tinggi dari $150 per barel dan kita melihat inflasi meningkat pesat, maka kita akan melihat situasi yang mirip dengan guncangan minyak tahun 1973,” kata Aghion di radio RTL.

Embargo minyak oleh anggota Arab produsen minyak yang tergabung dalam OPEC terhadap negara-negara yang mendukung Israel dalam perang Oktober 1973 menyebabkan harga melonjak drastis, menyebabkan lonjakan inflasi dan stagnasi ekonomi.

Guncangan seperti itu akan membutuhkan respons kebijakan terkoordinasi dari negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara maju lainnya, katanya.

“Konflik yang berkepanjangan dan meluas akan mengurangi pertumbuhan global,” kata Aghion, yang berbagi Hadiah Nobel Ekonomi 2025 untuk karyanya tentang pertumbuhan berkelanjutan melalui penghancuran kreatif.

“Saya melihat kemungkinan perlambatan” tetapi “saya tidak melihat keruntuhan. Saya tidak melihat sesuatu seperti krisis keuangan 2008, misalnya,” kata dia.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas