Front Baru Muncul dalam Perang Iran, Raksasa Manufaktur Medis AS Kena Serangan Siber
Stryker, sebuah perusahaan yang berbasis di Michigan yang memproduksi berbagai macam peralatan medis
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Front Baru Muncul dalam Perang Iran, Raksasa Manufaktur Medis AS Kena Serangan Siber
TRIBUNNEWS.COM - Media Amerika Serikat (AS), New York Times melaporkan, sebuah kelompok peretas mengaku bertanggung jawab atas serangan siber terhadap sebuah perusahaan manufaktur Amerika.
Kelompok peretas ini mengklaim kalau serangan siber itu sebagai balasan atas serangan yang menargetkan sebuah sekolah di Iran.
Baca juga: Video Terbaru Tunjukkan Rudal Tomahawk AS Hantam Sekolah Dasar Iran yang Tewaskan Ratusan Siswi
Surat kabar tersebut, dalam laporan oleh korespondennya di London, Lynsey Chottle, mengatakan kalau serangan siber terhadap produsen peralatan medis Amerika bernama Stryker telah menimbulkan kekhawatiran yang semakin besar kalau Iran atau kelompok peretas yang terkait dengannya akan secara luas menargetkan perusahaan dan infrastruktur sipil seiring berlanjutnya perang.
Ini artinya, cakupan perang meluas, tidak hanya secara fisik menargetkan fasilitas dengan rudal, tetapi juga menjamah infrastruktur digital yang vital.
Stryker tidak menyebutkan siapa yang berada di balik serangan tersebut, yang mengganggu sistemnya di seluruh dunia yan terjadi pada Rabu (11/3/2026) kemarin.
Namun, sekelompok peretas tampaknya telah mengaku bertanggung jawab, dan menggambarkan serangan itu sebagai pembalasan atas serangan rudal yang menargetkan sebuah sekolah dasar di Iran.
Stryker, sebuah perusahaan yang berbasis di Michigan yang memproduksi berbagai macam peralatan medis, mengatakan kalau mereka masih berupaya memulihkan sistem komunikasi dan pemesanan mereka.
Stryker menyatakan, kelompok peretas yang menyerang jaringan mereka, tidak meminta tebusan.
Pihak perusahaan AS itu menambahkan kalau peretasan tampaknya terbatas pada perangkat lunak Microsoft miliknya, dan mencatat bahwa tidak ada indikasi adanya malware atau ransomware.
Perusahaan tersebut menyatakan, "Anda dapat menghubungi karyawan dan perwakilan penjualan Stryker melalui email dan telepon, serta dari dalam fasilitas Anda," menurut situs webnya.
Stryker memiliki pelanggan di 61 negara.
Handala Mengaku Bertanggung Jawab
Di sisi lain, sebuah kelompok peretas yang menamakan dirinya "Handala" mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut dalam sebuah pernyataan yang diunggah di media sosial.
Pernyataan itu mengatakan peretasan tersebut merupakan pembalasan atas serangan rudal pada 28 Februari terhadap sebuah sekolah dasar di Iran selatan, yang menurut pejabat Iran menewaskan sedikitnya 175 orang, sebagian besar di antaranya anak-anak.
"Kelompok Handala, yang tampaknya muncul beberapa minggu setelah dimulainya perang Israel tahun 2023 di Jalur Gaza, menargetkan perusahaan dan individu yang terkait dengan Israel," menurut perusahaan keamanan siber dan kelompok intelijen, termasuk CyberEnt dan X-Force Exchange milik IBM, yang keduanya berbasis di Amerika Serikat dan Israel.
Sejak dimulainya perang terhadap Iran pada 28 Februari, perusahaan keamanan telah menyuarakan kekhawatiran bahwa Iran atau kelompok-kelompok yang terkait dengannya mungkin terlibat dalam perang siber.
Dalam beberapa kasus peretasan, kelompok "Handala" secara khusus disebutkan sebagai pelaku.