Saat Donald Trump Mulai Ditolak oleh Para Sekutu AS
Dua minggu berlalu sejak AS bersama Israel menyerang Iran, ternyata Iran tak kunjung menyerah.
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Sejumlah negara yang menjadi sekutu AS selama ini menolak tawaran Donald Trump untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
- Dua minggu berlalu sejak AS bersama Israel menyerang Iran, ternyata Iran tak kunjung menyerah.
- “Perang (Iran) ini tidak ada hubungannya dengan NATO," ujar Juru Bicara Kanselir Jerman, Stefan Kornelius.
TRIBUNNEWS.COM, AS - Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memenangkan perang melawan Iran tampaknya hanya isapan jempol belaka.
Dua minggu berlalu sejak AS bersama Israel menyerang Iran, ternyata Iran tak kunjung menyerah.
Bahkan Selat Hormuz kini tetap dalam kendali Iran, kapal-kapal tanker AS dan sekutunya belum berani lewat.
Selat Hormuz yang sangat penting, lalu lintas 20 persen minyak dan gas alam cair dunia mengalir, sebagian besar masih tertutup sehingga menaikkan harga energi dan kekhawatiran akan inflasi.
Presiden Trump telah meminta negara-negara lain terutama para sekutunya membantu mengakhiri kebuntuan di Selat Hormuz dengan dukungan militer.
Namun apa daya satu persatu menolak usul Trump.
Para sekutu menolak Trump
Menurut Reuters sejumlah sekutu AS, termasuk Jerman, Spanyol, dan Italia, mengatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana segera untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk membantu AS.
Juru Bicara Kanselir Jerman, Stefan Kornelius, dalam konferensi pers di Berlin, Senin (16/3/2026) secara tegas menyatakan bahwa konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan bagian dari misi aliansi pertahanan NATO sehingga Jerman tidak akan mengirim dukungan militer ke kawasan tersebut.
“Perang ini tidak ada hubungannya dengan NATO. Ini bukan perang NATO. NATO adalah aliansi pertahanan yang bertugas melindungi wilayah anggotanya,” ujar Kornelius.
Kornelius menyinggung bahwa Amerika Serikat dan Israel juga tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan sekutu Eropa sebelum melancarkan operasi militer terhadap Iran.
Australia, Jepang, juga sama-sama mengatakan bahwa mereka tidak berencana untuk mengerahkan angkatan laut mereka ke Selat Hormuz.
Negara itu secara eksplisit menyatakan tidak ada rencana untuk mengerahkan kapal angkatan laut untuk misi pengawalan di Timur Tengah.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, seorang pendukung setia Trump, menyebutkan kendala konstitusional sebagai alasannya.
Sementara pemerintah Australia menegaskan bahwa mereka tidak akan mengirim kapal meskipun mendapat tekanan.
"Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus meneliti apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum," kata Takaichi kepada Parlemen.
Jepang mendapatkan 95 persen minyaknya dari Timur Tengah.
Trump telah memperingatkan sekutu NATO dengan mengatakan bahwa kurangnya bantuan dapat berarti masa depan yang "sangat buruk" bagi aliansi tersebut.
Dia menyebutkan pembicaraan dengan "sekitar tujuh" negara untuk mengawasi selat tersebut, seperti yang dilaporkan BBC.
Trump juga telah menyampaikan permohonan dukungan kepada China, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan.
Trump, berbicara dalam sebuah acara di Gedung Putih di Washington, mengatakan banyak negara telah menyatakan kesediaan mereka untuk membantu, tetapi mengungkapkan kekecewaannya terhadap beberapa sekutu lama.
"Sebagian sangat antusias, dan sebagian lainnya tidak," katanya, tanpa memberikan rincian spesifik.
"Beberapa di antaranya adalah negara-negara yang telah kami bantu selama bertahun-tahun. Kami telah melindungi mereka dari sumber luar yang mengerikan dan mereka tidak begitu antusias. Dan tingkat antusiasme itu penting bagi saya."
Di luar aliansi NATO, China juga tegas menolak membantu AS amankan Selat Hormuz.
Sumber: India Today/Reuters/Newsweek
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.