Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Iran Jika Tak Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam
Sejak AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz sebagai pembalasan terhadap AS.
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur pembangkit listrik Iran jika tak kunjung membuka Selat Hormuz dalam 48 jam.
- Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik terbesar Iran lebih dulu.
- Sejak AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz sebagai pembalasan terhadap AS.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menebar teror dan ancaman ke Pemerintah Iran. Terbaru, Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur pembangkit listrik Iran jika tak kunjung membuka Selat Hormuz dalam 48 jam agar bisa kembali dilintasi kapal tanker pengangkut minyak.
Ancaman ini dilontarkan Donald Trump dan akan dimulai dengan menghancurkan pembangkit listrik terbesar Iran lebih dulu.
"Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz, dalam waktu 48 jam dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu," tulis Trump di platform media sosial Truth Social, hari Sabtu, 21 Maret 2026.
Trump memposting ancaman tersebut pada pukul 19.44 Waktu Bagian Timur AS (2344GMT), yang berarti ia memberikan tenggat waktu hingga Senin malam.
Tapi Trump tidak menyebutkan pembangkit listrik mana yang dimaksud sebagai yang terbesar.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi hari Jumat sudah menegaskan bahwa Iran akan menunjukkan "nol pengekangan" jika infrastrukturnya diserang.
Baca juga: Iran Kantongi 2 Juta Dolar dari Bea Kapal yang Melintas Selat Hormuz
Trump sebelumnya mengatakan kepada PBS bahwa militer AS sengaja menghindari menargetkan pembangkit listrik di Teheran karena hal itu akan menyebabkan kerusakan dan "trauma" selama bertahun-tahun bagi penduduk sipil. Ancaman ini menandai peningkatan signifikan dalam retorikanya.
Selat Hormuz
Sejak AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup selat tersebut sebagai pembalasan.
Sekitar seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati selat tersebut selama masa damai dan penutupan tersebut membuat negara-negara yang bergantung pada jalur pelayaran tersebut berupaya mencari rute alternatif dan memanfaatkan cadangan.
Baca juga: Gejolak Timur Tengah Ganggu Komoditas Ekspor RI Berbahan Baku Impor
Pukulan terhadap pasokan dari Teluk telah menyebabkan harga bahan bakar melonjak di seluruh dunia, mengancam pemerintah dengan inflasi yang meluas semakin lama perang berlanjut.
Militer AS mengatakan sebelumnya pada hari Sabtu bahwa mereka telah merusak bunker Iran yang menyimpan senjata yang mengancam pengiriman minyak dan gas di Selat Hormuz.
Pernyataan itu tampaknya dirancang untuk menenangkan kekhawatiran pasar energi dan sekutu internasional Washington yang skeptis, yang lebih dari 20 di antaranya mengeluarkan pernyataan yang berjanji untuk mendukung upaya membuka kembali jalur laut utama tersebut.
Sumber: TRT World
Baca tanpa iklan