Sosok Mohammad Marandi, Profesor Iran yang Diancam Aksi Penculikan, Dijuluki 'Kepala Propaganda'
Sebuah akun pro-Israel di platform X mengunggah tawaran hadiah sebesar 1 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat menangkap profesor asal Iran.
Penulis:
Malvyandie Haryadi
Ringkasan Berita:
- Ancaman terhadap akademisi Iran Mohammad Marandi mencuat setelah sebuah akun pro-Israel di platform X menawarkan hadiah 1 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat menangkapnya hidup-hidup.
- Unggahan itu disebut sebagai “paid partnership” dan memicu kontroversi mengenai batas kebebasan berekspresi di media sosial.
- Marandi mengecam keras ancaman tersebut dan mempertanyakan tanggung jawab Elon Musk sebagai pemilik platform.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ancaman terhadap Mohammad Marandi mencuat ke ruang publik setelah sebuah akun pro-Israel di platform X mengunggah tawaran hadiah sebesar 1 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat menangkapnya dalam keadaan hidup.
Unggahan tersebut bahkan disebut sebagai bagian dari “paid partnership”, memicu kontroversi luas terkait batas kebebasan berekspresi di media sosial.
Dalam pernyataannya, Marandi mengecam keras ancaman tersebut dan mempertanyakan tanggung jawab Elon Musk sebagai pemilik platform yang dianggap membiarkan konten berbahaya beredar.
"Ini bukan sekadar ancaman personal, melainkan bagian dari upaya sistematis untuk membungkam suara yang berbeda di ruang publik global," tulisnya.
Lebih jauh, Marandi juga menyoroti sikap media Barat yang dinilainya cenderung diam terhadap insiden tersebut.
Menurutnya, ketidakresponsifan ini menunjukkan adanya standar ganda dalam menilai ancaman terhadap tokoh publik, terutama ketika yang menjadi sasaran adalah individu yang kerap mengkritik kebijakan Barat dan sekutunya.
Sosok Mohammad Marandi sendiri bukan figur sembarangan. Ia merupakan akademisi terkemuka di Iran yang lahir pada 1966.
Marandi dianggap sebagai salah satu pembela terkuat Republik Islam di media berbahasa Inggris, dengan keras menyerang Barat dan membela Republik Islam serta "Poros Perlawanan."
Pemerintah dan sebagian media Barat menjulukinya "Kepala Propaganda Iran dalam bahasa Inggris".
Marandi memiliki latar belakang pendidikan yang kuat di bidang sastra Inggris dan kajian Timur.
Ia mengajar di University of Tehran serta mendirikan Institut Kajian Amerika Utara dan Eropa, sebuah lembaga yang berfokus pada analisis hubungan internasional, khususnya antara Iran dan Barat.
Karier akademiknya juga diwarnai dinamika internal kampus. Ia sempat menjabat sebagai Deputi Urusan Internasional, namun kemudian tidak lagi menduduki posisi tersebut akibat perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan institusi.
Hal ini mencerminkan posisinya sebagai intelektual yang aktif dan tidak jarang kontroversial.
Di luar dunia kampus, Marandi dikenal luas melalui kehadirannya di media internasional berbahasa Inggris.
Ia kerap tampil di berbagai jaringan televisi global untuk menjelaskan posisi Iran dalam isu-isu geopolitik, mulai dari konflik kawasan hingga hubungan dengan negara-negara Barat.
Dalam berbagai wawancara, Marandi secara konsisten membela kebijakan luar negeri Iran. Ia sering mengangkat narasi tentang “Poros Perlawanan” serta menekankan bahwa Iran memiliki kapasitas militer dan teknologi yang signifikan untuk menghadapi tekanan eksternal.
Pernyataannya terkait serangan drone dan rudal Iran ke Israel pada April lalu menjadi salah satu contoh bagaimana ia membingkai kekuatan negaranya.
'Iran bahkan belum menggunakan teknologi paling mutakhirnya," ujar Marandi saat diwawancari Sky News ketika itu.
Ia juga kerap menyoroti biaya besar yang harus ditanggung Israel dalam menghadapi serangan tersebut, sembari menegaskan bahwa konflik di kawasan tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang, termasuk persoalan Palestina yang hingga kini belum terselesaikan.
Dalam konteks ini, Marandi menjadi salah satu suara paling lantang dalam membela posisi Iran terhadap isu Gaza. Ia menegaskan dukungan negaranya terhadap rakyat Palestina serta mengkritik keterlibatan Amerika Serikat yang dinilai memperkeruh situasi kawasan.
Selain itu, Marandi juga memiliki pengalaman langsung dalam diplomasi internasional. Ia pernah menjadi penasihat dalam negosiasi perjanjian nuklir Iran, memberikan perspektif dari dalam terkait bagaimana Teheran memandang tekanan dan sanksi global.
Kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan Iran juga menjadi faktor penting. Marandi dikenal memiliki pandangan yang sejalan dengan arah kebijakan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, sehingga kerap dianggap sebagai salah satu representasi intelektual dari posisi resmi negara.
Selain itu, Mohammad Marandi disebut merupakan putra Alireza Marandi, dokter pribadi Ali Khamenei, pemimpin Republik Islam.
Dalam konteks perang pembentukan opini di media global, keberadaan Marandi dipandang sebagai ancaman oleh pihak-pihak tertentu, termasuk Israel dan sekutunya.
Kemampuannya menyampaikan narasi Iran dalam bahasa Inggris yang fasih, serta aksesnya ke media internasional, menjadikannya figur strategis dalam perebutan pengaruh di ruang informasi—sebuah medan yang kini tak kalah penting dibandingkan konflik militer itu sendiri.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.