Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

AS dan Iran Saling Ancam soal Selat Hormuz, Deadline hingga Selasa Pagi

Donald Trump memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz, disertai ancaman serangan.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
  • Donald Trump memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz, disertai ancaman serangan.
  • Iran melalui Islamic Revolutionary Guard Corps membalas dengan ancaman menargetkan infrastruktur energi AS dan sekutunya.
  • Penutupan Selat Hormuz memicu dampak global, termasuk lonjakan harga minyak dan eskalasi konflik militer di kawasan.


TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran.

Jalur sempit tersebut mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Donald Trump menetapkan tenggat waktu 48 jam sejak “saat ini” bagi Iran untuk sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz.

Ia mengunggah pernyataan tersebut pada Minggu (22/3/2026) pukul 06.44 WIB, yang berarti memberi Iran waktu hingga Selasa (24/3/2026) pada jam yang sama.

“Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz, dalam waktu 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!” tulisnya.

Menanggapi ultimatum Trump, militer Iran mengancam akan menargetkan seluruh infrastruktur energi, teknologi, dan desalinasi milik AS di kawasan tersebut.

“Menindaklanjuti peringatan sebelumnya, jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, maka semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik AS serta sekutunya di kawasan akan menjadi sasaran,” kata komando operasional militer Iran, Khatam Al-Anbiya, seperti dilaporkan AFP.

SELAT HORMUZ - Tangkap layar AP News memperlihatkan peta lokasi Selat Hormuz. Iran mengumumkan penutupan sementara selat tersebut untuk latihan tembak.
SELAT HORMUZ - Tangkap layar AP News memperlihatkan peta lokasi Selat Hormuz. Jalur sempit ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia. (Tangkapan layar AP News)

Pernyataan IRGC

Rekomendasi Untuk Anda

Mengutip PressTV, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) juga mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat, menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap Iran akan dibalas secara proporsional dan bersifat pencegahan.

Dalam pernyataan pada Senin (23/3/2026), IRGC menanggapi klaim terbaru Donald Trump yang menuduh bahwa mereka bermaksud menargetkan pabrik desalinasi regional dan mengganggu layanan bagi penduduk setempat.

“Pertama, tentara Amerika yang agresif dan tidak manusiawi-lah yang memulai perang ini dengan membunuh anak-anak, termasuk 180 siswa sekolah dasar, serta menargetkan lima lokasi infrastruktur air, termasuk pabrik desalinasi di Pulau Qeshm,” bunyi pernyataan tersebut.

Pernyataan itu merujuk pada serangan terhadap sebuah sekolah di kota Minab, Iran selatan, pada 28 Februari, saat AS dan Israel memulai serangan terbaru terhadap Iran, serta serangan lanjutan di wilayah selatan Iran selama konflik tersebut.

“IRGC tidak melakukan tindakan seperti itu,” tambahnya.

Baca juga: Iran Ancam Hancurkan Infrastruktur Air dan Energi Timur Tengah Jika AS Serang Pembangkit Listrik

Pernyataan itu juga menyebutkan sejumlah serangan lain yang diklaim dilakukan pihak lawan, yang disebut tidak dibalas oleh IRGC.

“Anda menyerang rumah sakit kami. Kami tidak membalas. Anda menyerang pusat bantuan kami. Kami tidak membalas. Anda menyerang sekolah kami. Kami tidak membalas.”

Pernyataan itu kemudian menanggapi ancaman Trump untuk menargetkan fasilitas listrik Iran, serta menjanjikan pembalasan setimpal.

“Namun, jika Anda menyerang rantai pasokan listrik kami, kami akan menyerang rantai pasokan listrik Anda.”

IRGC juga menyatakan bahwa pembalasan Iran akan menargetkan pembangkit listrik yang melayani pangkalan AS, serta lokasi ekonomi, industri, dan energi yang terkait dengan kepentingan Amerika.

Pernyataan tersebut diakhiri dengan penegasan kemampuan militer Iran.

“Kami bertekad untuk menanggapi setiap ancaman secara setara untuk menciptakan efek jera yang seimbang, dan kami akan melaksanakannya.”

“Amerika Serikat tidak mengetahui kemampuan kami; mereka akan menyaksikannya di medan perang.”

Sejauh ini, IRGC mengklaim telah menyerang sejumlah target strategis Amerika dan Israel di kawasan sebagai bagian dari Operasi True Promise 4.

Penutupan Selat Hormuz

Mengutip NDTV, Iran menutup Selat Hormuz untuk sebagian besar lalu lintas pelayaran, terutama bagi negara-negara yang terlibat dalam serangan terhadap Iran sejak 28 Februari 2026.

Sekitar seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati selat tersebut.

Penutupan ini memaksa negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut untuk mencari rute alternatif dan memanfaatkan cadangan energi.

Kondisi ini juga mendorong kenaikan harga minyak mentah, yang berpotensi memicu inflasi global jika konflik terus berlanjut.

Sejumlah negara seperti Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Korea Selatan, Australia, UEA, dan Bahrain telah mengutuk penutupan de facto Selat Hormuz oleh Iran.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, sebelumnya memperingatkan bahwa Selat Hormuz tidak akan segera kembali ke kondisi normal sebelum perang.

“Bahkan dalam skenario terbaik, untuk kembali sepenuhnya dibuka membutuhkan waktu beberapa bulan. Ada amunisi yang belum meledak yang mengambang di sekitar. Mungkin juga terdapat ladang ranjau, serta ketegangan tinggi dari pasukan keamanan di kedua sisi,” kata Luckyn-Malone.

Serangan terhadap Fasilitas Nuklir

Di tengah eskalasi konflik, fasilitas pengayaan nuklir Natanz milik Iran kembali dihantam serangan udara pada Sabtu (21/3/2026), untuk kedua kalinya sejak awal perang.

Tidak ada kebocoran radiasi yang dilaporkan, menurut kantor berita resmi Iran, Mizan.

Lokasi tersebut, sebelumnya juga diserang pada pekan pertama perang, dengan sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan berdasarkan citra satelit.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal ke kota-kota di Israel, termasuk Dimona, lokasi fasilitas nuklir, dan Arad, yang mengakibatkan lebih dari 100 orang terluka.

Menurut militer Israel, serangan rudal langsung menghantam sebuah bangunan di Dimona, lapor AFP.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas