AS Siapkan Operasi Darat, Ini Target Iran yang Dibidik Trump
AS siapkan operasi darat ke Iran, bidik Pulau Kharg dan Selat Hormuz. Namun Iran siap balas, konflik terancam meluas dan picu krisis energi global.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Pentagon merancang operasi darat di Iran dengan pasukan khusus dan infanteri, namun keputusan akhir masih menunggu persetujuan Donald Trump.
- AS membidik pusat ekspor minyak Iran dan jalur energi dunia yakni Pulau Kharg dan Selat Hormuz untuk melemahkan ekonomi Iran serta mengurangi kendali atas distribusi minyak global.
- Iran mengancam serangan balik ke aset AS dan sekutunya, sementara operasi darat berisiko tinggi memicu perang berkepanjangan dan krisis global.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru setelah Pentagon dilaporkan tengah menyiapkan rencana operasi darat terbatas di wilayah Iran.
Langkah ini menjadi sinyal eskalasi serius di tengah perang yang telah berlangsung selama beberapa pekan dan melibatkan berbagai kekuatan regional.
Berdasarkan laporan yang dirilis Al Jazeera, rencana tersebut tidak mengarah pada invasi penuh, melainkan operasi militer terbatas yang dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan.
Operasi ini disebut berpotensi melibatkan pasukan operasi khusus serta infanteri konvensional Amerika Serikat.
Tak hanya itu AS juga bakal menerjunkan pasukan infanteri konvensional yang akan membuat personel AS rentan terhadap drone dan rudal Iran, tembakan darat, dan bahan peledak rakitan.
Sebagai bagian dari peningkatan kesiapan, pemerintah AS telah mengerahkan tambahan pasukan ke kawasan Timur Tengah.
Sekitar 3.500 personel militer dilaporkan tiba menggunakan kapal amfibi USS Tripoli, bersama Unit Ekspedisi Marinir ke-31.
Selain itu, ribuan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 juga disiapkan untuk dikirim ke kawasan konflik. Penguatan ini mencakup berbagai aset militer, seperti pesawat tempur, pesawat angkut, hingga perlengkapan serbu amfibi dan taktis.
Langkah ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat tengah meningkatkan kesiapan militernya secara signifikan.
Meski demikian, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa hingga kini Presiden Trump belum memberikan keputusan final untuk menyetujui pengerahan pasukan darat tersebut.
“Merupakan tugas Pentagon untuk melakukan persiapan agar memberikan Panglima Tertinggi pilihan maksimal. Itu tidak berarti presiden telah membuat keputusan,” ujar Leavitt, dikutip dari Washington Post.
Target Strategis: Pulau Kharg dan Selat Hormuz
Adapun rencana invasi darat yang tengah disiapkan Amerika Serikat disebut akan difokuskan pada dua titik strategis utama di Iran, yakni Pulau Kharg dan Selat Hormuz.
Kedua wilayah tersebut dinilai memiliki peran krusial sebagai pusat kekuatan ekonomi sekaligus pengaruh geopolitik Iran dalam peta energi dunia.
Pulau Kharg menjadi target utama karena merupakan terminal ekspor minyak terbesar Iran. Sebagian besar minyak mentah negara tersebut dikirim melalui pulau ini sebelum didistribusikan ke pasar global.
Baca juga: Infrastruktur Energi Jadi Sasaran Serangan, Sejumlah Wilayah Iran Alami Pemadaman Listrik
Gangguan terhadap fasilitas di Kharg berpotensi langsung menekan pendapatan utama Iran dari sektor energi, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut.
Sementara itu, Selat Hormuz memiliki nilai strategis yang tidak kalah penting. Jalur laut sempit ini menjadi rute utama distribusi minyak dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan energi global melewati kawasan tersebut setiap harinya.
Dengan menargetkan kedua titik ini, Amerika Serikat dinilai tengah menjalankan strategi ganda. Pertama, melemahkan kemampuan ekonomi Iran dengan mengganggu ekspor minyaknya.
Kedua, mengurangi kendali Iran atas jalur pelayaran global, yang selama ini kerap digunakan sebagai alat tekanan geopolitik.
Para analis menilai, jika Pulau Kharg berhasil dilumpuhkan atau dikuasai, dampaknya akan sangat signifikan terhadap stabilitas ekonomi Iran.
Bahkan, langkah tersebut dapat mempersempit ruang gerak Teheran dalam membiayai operasi militer maupun mempertahankan pengaruh regionalnya.
Di sisi lain, penguasaan atau pengamanan wilayah sekitar Selat Hormuz juga menjadi kunci bagi Amerika Serikat untuk memastikan kelancaran distribusi energi global.
Hal ini penting guna mencegah Iran menggunakan jalur tersebut sebagai “senjata” yang dapat mengganggu pasokan minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi.
Meski demikian, strategi ini bukan tanpa risiko. Serangan terhadap dua titik vital tersebut berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas, termasuk balasan militer dari Iran yang dapat memperburuk stabilitas kawasan dan mengganggu ekonomi global.
Hingga kini, rencana tersebut masih dalam tahap pertimbangan, pemilihan Pulau Kharg dan Selat Hormuz sebagai target menunjukkan bahwa konflik yang berkembang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga menyasar jantung ekonomi dan jalur energi global yang sangat vital.
Respons Keras Iran: Siap Hadapi Invasi
Pascakebocoran rencana tersebut ke publik, respons keras datang dari pemerintah Iran menyusul meningkatnya wacana operasi darat Amerika Serikat di wilayahnya.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya telah siap menghadapi kemungkinan invasi darat dari militer AS.
Dalam pernyataannya, Ghalibaf menyebut pasukan Iran berada dalam kondisi siaga penuh dan siap memberikan respons militer yang tegas terhadap setiap bentuk agresi.
Ia juga memperingatkan bahwa Iran tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berpotensi melancarkan serangan balasan dengan menargetkan infrastruktur vital di negara-negara regional yang dianggap membantu operasi militer Amerika Serikat.
Peringatan serupa disampaikan oleh kepala angkatan laut Iran, Shahram Irani.
Ia menegaskan bahwa kapal induk Amerika Serikat, termasuk USS Abraham Lincoln, akan menjadi sasaran serangan jika berada dalam jangkauan militer Iran. Pernyataan ini mempertegas potensi meluasnya konflik ke wilayah perairan strategis di kawasan.
Di sisi lain, rencana operasi darat yang dipertimbangkan Washington dinilai mengandung risiko tinggi bagi pasukan AS.
Para pejabat militer memperingatkan bahwa personel di lapangan akan menghadapi berbagai ancaman serius, mulai dari serangan drone, rudal jarak jauh, hingga bahan peledak rakitan yang kerap digunakan dalam perang modern.
Iran sendiri dikenal memiliki kemampuan perang asimetris yang kuat. Negara tersebut didukung jaringan milisi serta sistem persenjataan yang tersebar di sejumlah titik strategis. K
Kondisi ini membuat setiap operasi darat berpotensi berkembang menjadi konflik berkepanjangan dengan tingkat kerugian yang besar.
Dengan meningkatnya retorika dan kesiapan militer dari kedua pihak, situasi di kawasan Timur Tengah kini berada dalam fase yang semakin rawan.
Banyak pihak menilai, jika invasi darat benar-benar terjadi, konflik dapat meluas dan berdampak signifikan terhadap stabilitas regional maupun global.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.