Harga BBM di Israel Akan Melonjak 14,7 Persen, Disebut Mulai 1 April 2026
Konflik Iran memicu lonjakan harga minyak dunia, mendorong harga bensin di Israel naik tajam ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
Penulis:
garudea prabawati
Editor:
Sri Juliati
Ringkasan Berita:
- Harga bensin di Israel naik 14,7 persen menjadi 8,05 shekel per liter akibat lonjakan harga minyak global.
- Pemerintah Israel terpecah soal solusi, dengan usulan pemotongan pajak ditolak Kementerian Keuangan.
- Gangguan di Selat Hormuz memperparah krisis energi global dan menekan pasokan minyak ke berbagai kawasan dunia.
TRIBUNNEWS.COM - Harga bahan bakar minyak (BBM) di Israel dipastikan naik tajam dari harga normal biasanya.
Hal ini seiring dampak konflik yang terus berlangsung antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap pasar energi global.
Kementerian Energi Israel mengumumkan bahwa harga bensin 95 oktan akan meningkat menjadi 8,05 shekel per liter mulai Rabu (1/4/2026), naik dari sebelumnya 7,02 shekel.
Kenaikan ini setara dengan lonjakan sebesar 14,7 persen.
Menurut kementerian, lonjakan tersebut dipicu oleh kenaikan hampir 50 persen harga bahan bakar di kawasan Mediterania.
Hal ini berkaitan langsung dengan melonjaknya harga minyak global akibat perang.
Harga baru ini juga menjadi yang tertinggi dalam lebih dari tiga setengah tahun, mendekati rekor 8,08 shekel per liter yang terjadi pada Juli 2022.
Kenaikan harga BBM ini mencerminkan dampak ekonomi yang semakin meluas dari konflik, yang telah mengganggu aliran energi global dan meningkatkan volatilitas pasar minyak internasional, mengutip Al Mayadeen, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: Ribuan Pasukan Elit AS Tiba di Timur Tengah, Sinyal Perang Besar ke Iran Makin Nyata
Di dalam negeri, muncul perbedaan pandangan terkait langkah penanganan.
Pemerintah Israel dilaporkan tengah mempertimbangkan pengurangan pajak cukai bahan bakar untuk meredam dampak kenaikan harga.
Namun, Kementerian Keuangan Israel menolak opsi tersebut dengan alasan meningkatnya kebutuhan anggaran perang dan pentingnya menjaga penerimaan negara.
Di sisi lain, tekanan terhadap pasar energi global juga meningkat akibat gangguan di Selat Hormuz, salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Blokade efektif di kawasan tersebut telah menyebabkan penurunan signifikan aliran minyak dari Teluk sejak pecahnya perang pada 28 Februari.
Dampaknya terasa secara global.
Asia Tenggara mencatat penurunan ekspor minyak hingga 41 persen, sementara tanda-tanda kekurangan mulai muncul di beberapa wilayah Afrika.
Eropa diperkirakan akan mengalami dampak dalam beberapa minggu ke depan, sedangkan Amerika Serikat (AS) menghadapi potensi tekanan harga yang lebih lambat namun berkelanjutan.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)
Baca tanpa iklan