China Diam-diam Bangun Pangkalan Militer di Laut China Selatan
China diam-diam membangun pangkalan militer baru di Laut China Selatan.
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- China membangun pangkalan militer besar di Laut China Selatan dengan mengubah Antelope Reef melalui reklamasi.
- Fasilitas ini dilengkapi dermaga, helipad, dan infrastruktur yang berpotensi mendukung operasi militer.
- Langkah ini memperkuat klaim wilayah di tengah sengketa dengan Vietnam dan Taiwan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di saat Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer di Iran, China diam-diam membangun pangkalan militer baru di Laut China Selatan.
China mengubah Antelope Reef menjadi pangkalan militer terbesarnya di perairan yang disengketakan, demikian dilaporkan The Wall Street Journal, Kamis (4/2/2026) .
Citra satelit menunjukkan bahwa terumbu karang tersebut — yang terletak di Kepulauan Paracel di Laut Cina Selatan — mencakup dermaga, landasan helikopter, struktur beratap abu-abu, dan garis pantai baru yang tampak cocok untuk dijadikan landasan pacu.
Antelope Reef juga relatif dekat dengan daratan China sehingga dapat meningkatkan infrastruktur sipil di sana dan memperkuat klaimnya atas wilayah tersebut.
Perlu dicatat, Vietnam dan Taiwan, juga mengklaim pulau itu sebagai wilayah mereka.
Luas lahan reklamasi di Antelope Reef mencakup sekitar 1.490 hektar, menurut analisis citra satelit dari Center for Strategic and International Studies.
Luasnya hampir sama dengan Mischief Reef di Kepulauan Spratly yang disengketakan, yang merupakan pos terdepan terbesar China dengan luas sekitar 1.504 hektar.
Pangkalan militer di Kepulauan Paracel akan lebih bermanfaat bagi China daripada Kepulauan Spratly jika terjadi konfrontasi dengan Taiwan.
"Jika kita berbicara tentang skenario di mana China mungkin sedang mempersiapkan operasi intensitas tinggi yang nyata, maka penumpukan kekuatan di Paracel masuk akal," kata Collin Koh, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura kepada The Wall Street Journal.
Laporan ini muncul ketika intelijen AS menurunkan ekspektasi tentang invasi China ke Taiwan.
"Beijing mungkin melihat bahwa fokus pemerintahan [Trump] tidak terutama pada Laut China Selatan," kata Harrison Prétat, Wakil Direktur di Asia Maritime Transparency Initiative di CSIS.
Mengenai Sengketa Laut China Selatan
- Sengketa Laut China Selatan tetap menjadi isu panas di Asia Tenggara sejak lama.
- Terutama China dan Filipina masih berselisih soal klaim kedaulatan.
- Sementara ASEAN dan China berupaya merampungkan Code of Conduct (CoC) tahun ini untuk mencegah eskalasi militer.
- Indonesia berperan sebagai penengah yang mendorong penyelesaian berdasarkan hukum UNCLOS.
- Negara yang terlibat dalam klaim sejumlah wilayah di Laut China Selatan meliputi China, Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan sebagian wilayah Indonesia (Natuna Utara).