Menteri Pendidikan Iran: Musuh dari Zaman Batu Sudah Bunuh 5 Profesor Universitas dan 60 Mahasiswa
Menteri pendidikan Iran menekankan kalau Amerika menargetkan serangan ke infrastruktur sipil, termasuk fasilitas pendidikan, kampus dan sekolah.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Menteri Pendidikan Iran: Musuh dari Zaman Batu Telah Membunuh 5 Profesor Universitas dan 60 Mahasiswa
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Pendidikan, Sains, Riset, dan Teknologi Iran, Hossein Simai Saraf, mengungkapkan kalau lima profesor universitas dan 60 mahasiswa telah tewas sejak dimulainya perang Amerika Serikat (AS)-Israel di Iran pada 28 Februari 2026.
Berbicara kepada wartawan di salah satu fasilitas pendidikan yang menjadi sasaran, menteri tersebut mengatakan, kalau Amerika Serikat menargetkan infrastruktur sipil termasuk fasilitas pendidikan.
Baca juga: Satu Dunia dalam Bahaya, Serangan ke Ladang Gas Jadi Eskalasi Berbahaya Perang Iran Vs AS-Israel
"Lima profesor dan lebih dari 60 mahasiswa telah gugur dalam Perang Ramadan, dan 30 universitas telah diserang secara langsung. Musuh kita telah mundur ke Zaman Batu," kata Simai dilansir Khbrn, Minggu (5/4/2026).
Dia menambahkan, "Menyerang infrastruktur (sipil-pendidikan) adalah kejahatan terhadap kemanusiaan."
Dia berkata:
"Tidak dapat dibayangkan bahwa di era hak asasi manusia dan abad ke-21, tempat-tempat sipil dan individu-individu diserang, dan yang lebih buruk lagi, infrastruktur ilmiah manusia dan infrastruktur vital manusia."
Menteri Sains melanjutkan:
"Apakah ada kehormatan dalam menyerang jembatan itu? Musuh kita telah kembali ke Zaman Batu, dan kita bukanlah orang-orang yang hidup di Zaman Batu atau berasal dari Zaman Batu."
Menteri tersebut menekankan:
"Tidak diketahui universitas mana yang akan menjadi sasaran berikutnya besok... kebrutalan ini tidak akan pernah berakhir kecuali para akademisi sendiri mengambil tindakan."
Dia menambahkan: "Saya ingin berterima kasih kepada akademisi asing; sebenarnya, dalam beberapa hari terakhir kita telah melihat ungkapan simpati dari banyak menteri sains asing."
Dia melanjutkan: "Saya telah berbicara dengan rekan-rekan saya di beberapa negara. Mereka semua menganggap serangan-serangan ini sebagai contoh kebrutalan, kriminalitas, dan agresi sepihak serta ilegal."
Ia menyimpulkan:
"Saya berterima kasih kepada mahasiswa asing, profesor, dan universitas asing, tetapi saya meminta mereka untuk lebih serius dan proaktif serta mengalahkan musuh biadab dari Zaman Batu ini dan mengambil tindakan pencegahan agar kita tidak lagi menyaksikan serangan terhadap lembaga sipil dan ilmiah."
(oln/khbrn/*)
Baca tanpa iklan