AS Hampir Tidak Mau Menyelamatkan Kru F-15E, Mengira Jebakan Iran
AS sempat ragu menyelamatkan kru F-15E karena mencurigai sinyal radio sebagai jebakan Iran.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- AS sempat ragu menyelamatkan kru F-15E karena mencurigai sinyal radio sebagai jebakan Iran.
- Operasi penyelamatan akhirnya berhasil, meski berlangsung berisiko tinggi di wilayah musuh selama hampir 48 jam.
- AS menghancurkan sejumlah pesawat sendiri demi mencegah teknologi sensitif jatuh ke tangan Iran, meski menimbulkan kerugian besar.
TRIBUNNEWS.COM - Pasukan operasi khusus Navy SEAL Team 6 memasuki pegunungan Iran pada Sabtu (4/4/2026) malam untuk menyelamatkan kru pesawat tempur F-15 Amerika Serikat (AS) yang hilang setelah melontarkan diri.
Namun, sebelumnya misi tersebut hampir gagal total.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa ketika pesan radio datang dari petugas sistem persenjataan F-15E yang terdampar, para pejabat AS awalnya mencurigai itu sebagai tipuan Iran untuk memancing pasukan Amerika ke dalam jebakan.
Trump mengatakan kru tersebut mengirimkan pesan singkat yang tidak biasa setelah melontarkan diri.
"Dia berkata: 'Segala kuasa hanya milik Tuhan.'"
Setelah pesan radio itu diterima, muncul kecurigaan bahwa kru tersebut mungkin sudah berada dalam tahanan Iran dan sinyal itu dikirim sebagai umpan.
Menurut laporan tersebut, orang-orang yang mengenal kru itu mengonfirmasi bahwa ia merupakan sosok yang religius.
Kronologi Pesawat Tempur F-15E Ditembak Jatuh
Seperti dilaporkan sebelumnya, pada Jumat (3/4/2026), pesawat tempur Amerika Serikat F-15E Strike Eagle ditembak jatuh di wilayah barat daya Iran.
Kedua kru, yakni pilot dan petugas sistem persenjataan, berhasil melontarkan diri, mengutip NDTV.
Pilot berhasil diselamatkan tak lama kemudian, tetapi kru kedua sempat hilang.
Identitas kedua kru tidak dipublikasikan.
Baca juga: Analis: Terlepas dari Propaganda Penyelamatan Awak F-15, Iran Terbukti Masih Mampu Melawan Balik
Stasiun televisi pemerintah Iran menerbitkan foto-foto yang diklaim menunjukkan puing pesawat, termasuk ujung sayap dan kursi lontar yang rusak.
Selama hampir 48 jam, pasukan AS dan Iran memburu orang yang sama di pegunungan Iran.
Satu pihak berupaya menyelamatkan, sementara pihak lain ingin menangkapnya.
Pada Minggu (5/4/2026), kru tersebut akhirnya berhasil diselamatkan oleh AS.
Presiden AS Donald Trump menyebut operasi itu sebagai salah satu misi penyelamatan paling berani dalam sejarah militer AS.
"Prajurit pemberani ini berada di belakang garis musuh di pegunungan Iran yang berbahaya, diburu oleh musuh kita yang semakin mendekat setiap jamnya," kata Trump.
Petugas yang diselamatkan mengalami cedera, tetapi Trump mengatakan ia akan pulih.
Tidak ada anggota tim penyelamat yang tewas atau terluka.
Trump juga menyebut operasi tersebut sebagai pertama kalinya dalam sejarah militer ketika dua pilot AS diselamatkan secara terpisah dari wilayah musuh.
Berbicara kepada Axios satu jam setelah mengonfirmasi penyelamatan tersebut, Trump mengatakan:
"Bahkan penduduk pun mencarinya. Mereka menawarkan imbalan kepada siapa pun yang berhasil menangkapnya."
Trump menambahkan bahwa Iran menembak jatuh F-15 menggunakan rudal bahu (man-portable air-defense system/MANPADS).
"Mereka beruntung," ujarnya.
Harga Mahal dalam Misi Penyelamatan
Angkatan Udara AS kehilangan sejumlah pesawat selama misi penyelamatan tersebut.
Setidaknya dua pesawat MC-130J Commando II dan satu helikopter AH-6 Little Bird, berdasarkan puing-puing yang ditemukan, sengaja dihancurkan di darat selama misi berisiko tinggi, seperti dilaporkan oleh Aviationist.
Pesawat-pesawat ini dirancang untuk infiltrasi dan eksfiltrasi rahasia, serta dioptimalkan untuk operasi tingkat rendah jauh di dalam wilayah musuh.
Namun, dalam misi di Iran, pesawat-pesawat tersebut dilaporkan terdampar atau mengalami kerusakan.
Untuk mencegah jatuh ke tangan Iran, personel AS memutuskan menghancurkan pesawat-pesawat tersebut di lokasi.
MC-130J dilengkapi dengan avionik canggih, perangkat perang elektronik, serta sistem pertahanan untuk menghadapi ancaman modern, termasuk rudal berpemandu inframerah.
Jika jatuh dalam kondisi utuh, teknologi tersebut berpotensi memberikan keuntungan intelijen bagi musuh dan membahayakan operasi di masa depan.
Meskipun biaya finansialnya sangat besar, lebih dari 100 juta dolar AS (Rp1,7 triliun) per pesawat, seperti dilaporkan oleh The Wall Street Journal, pertimbangan strategis tetap menjadi prioritas utama.
Dalam peperangan modern, melindungi teknologi sensitif dan metode operasional sering kali lebih penting daripada mempertahankan aset fisik.
Setelah terdampar di wilayah musuh tanpa opsi evakuasi yang layak, penghancuran pesawat menjadi satu-satunya pilihan yang realistis.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.