Perang AS-Iran Bikin Pendapatan Minyak Rusia Berlipat Ganda: Tembus 19 Miliar Dolar!
Karena blokade Iran di Selat Hormuz, AS melonggarkan pembatasan penjualan minyak mentah Rusia yang diberlakukan terkait perang melawan Ukraina
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Perang AS-Iran Bikin Pendapatan Minyak Rusia Berlipat Ganda: Tembus 19 Miliar Dolar!
TRIBUNNEWS.COM - Perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran terbukti menjadi keuntungan ganda bagi musuh lain, Washington, yaitu Rusia.
Moskow dilaporkan mendapatkan pendapatan berlipat dari ekspor minyak pada Maret.
Hal itu setelah Rusia diberikan keringanan sanksi dalam upaya untuk mengimbangi kenaikan harga energi selama perang di Timur Tengah, kata Badan Energi Internasional (IEA) pada Selasa (14/4/2026).
Baca juga: Perang Amerika-Israel Vs Iran, Pemenangnya Adalah Rusia, Berikut Ini Alasannya
Negara yang dipimpin Vladimir Putin tersebut memperoleh pendapatan sebesar 19 miliar dolar AS atau setara Rp 325 triliun pada bulan lalu.
Pendapatan berlipat itu seiring nilai ekspor minyak mentah dan produk minyak Rusia meningkat menjadi 7,1 juta barel per hari, naik 320.000 barel per hari dari level bulan Februari.
Amerika Serikat melonggarkan beberapa pembatasan penjualan minyak mentah Rusia yang diberlakukan terkait perang melawan Ukraina.
Hal ini memungkinkan negara-negara untuk membeli minyak yang sudah berada di laut hingga 11 April untuk menenangkan harga minyak yang melonjak, setelah Iran menyerang infrastruktur energi di seluruh Teluk sebagai pembalasan atas operasi pengeboman AS-Israel terhadap Republik Iran.
Serangan pembalasan Iran ini dimulai sejak AS dan Israel melancarkan pada 28 Februari yang menewaskan para pemimpin tinggi mereka dengan tujuan penggulingan rezim di Teheran.
Upaya AS-Israel itu terbukti gagal hingga kini. Di sisi lain, aksi invasif AS-Israel itu memicu penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang dilalui oleh 20 persen minyak global, membuat pasar energi bergejolak.
Setelah hampir 39 hari pertempuran, kedua pihak mencapai gencatan senjata namun rapuh.
Gencatan senjata itu disebutkan berlangsung selama 12 hari untuk menegosiasikan perdamaian, tetapi gencatan senjata tersebut masih belum pasti karena pembicaraan di Islamabad gagal setelah 21 jam negosiasi berakhir tanpa kesepakatan.
Soal gagalnya negosiasi, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Teheran menolak menerima persyaratan Washington.
Presiden AS, Donald Trump kemudian mengumumkan blokade angkatan laut terhadap Iran, menyatakan kalau Amerika Serikat akan menghentikan setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar bea masuk kepada Teheran.
Dewan Hubungan Luar Negeri AS memberikan bayangan gelap atas gencatan senjata yang sudah rapuh tersebut.
Pipa Minyak Rusia Kembali Dibuka
Dalam perkembangan positif lainnya bagi ekspor energi Moskow, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Selasa, mengatakan kalau jalur pipa yang membawa minyak Rusia melalui Ukraina ke Hongaria dan Slovakia yang rusak akibat serangan Moskow akan dibuka kembali pada akhir April.
"Mengenai pipa minyak, seperti yang kami janjikan, akan diperbaiki pada akhir April, tidak sepenuhnya, tetapi cukup agar dapat berfungsi," kata Zelensky kepada wartawan di Berlin.
Status jalur pipa tersebut telah menjadi sumber ketegangan utama antara Zelensky, yang menginginkan semua negara Uni Eropa berhenti membeli energi Rusia, dan Perdana Menteri Hungaria yang akan segera lengser, Viktor Orban, yang mempertahankan hubungan hangat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Hubungan ini tetap akrab meskipun terjadi invasi ke Ukraina.
Orban mengalami kekalahan telak dalam pemilihan umum pada Minggu (12/4/2026) karena partainya, Fidesz, hanya memperoleh 55 kursi dibandingkan dengan 138 kursi yang diraih oleh partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar, mengakhiri masa pemerintahannya selama 16 tahun.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.