Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Perang AS-Iran Bikin Pendapatan Minyak Rusia Berlipat Ganda: Tembus 19 Miliar Dolar!

Karena blokade Iran di Selat Hormuz, AS melonggarkan pembatasan penjualan minyak mentah Rusia yang diberlakukan terkait perang melawan Ukraina

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Perang AS-Iran Bikin Pendapatan Minyak Rusia Berlipat Ganda: Tembus 19 Miliar Dolar!
HO/IST/Anadolu/Gokhan Ergocun
TEMBUS BLOKADE - Sebuah kapal tanker China yang masuk dalam daftar sanksi AS melintasi Selat Hormuz pada hari Selasa(14/4/2026). Hal tersebut menandai pelayaran pertama yang diketahui selama blokade saat ini. Shanghai Xuanrun Shipping sebuah perusahaan China yang termasuk dalam daftar sanksi AS, adalah pemilik kapal pengangkut minyak dan kimia tersebut. 

Perang AS-Iran Bikin Pendapatan Minyak Rusia Berlipat Ganda: Tembus 19 Miliar Dolar!

TRIBUNNEWS.COM - Perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran terbukti menjadi keuntungan ganda bagi musuh lain, Washington, yaitu Rusia.

Moskow dilaporkan mendapatkan pendapatan berlipat dari ekspor minyak pada Maret.

Hal itu setelah Rusia diberikan keringanan sanksi dalam upaya untuk mengimbangi kenaikan harga energi selama perang di Timur Tengah, kata Badan Energi Internasional (IEA) pada Selasa (14/4/2026).

Baca juga: Perang Amerika-Israel Vs Iran, Pemenangnya Adalah Rusia, Berikut Ini Alasannya

Negara yang dipimpin Vladimir Putin tersebut memperoleh pendapatan sebesar 19 miliar dolar AS atau setara Rp 325 triliun pada bulan lalu.

Pendapatan berlipat itu seiring nilai ekspor minyak mentah dan produk minyak Rusia meningkat menjadi 7,1 juta barel per hari, naik 320.000 barel per hari dari level bulan Februari.

Amerika Serikat melonggarkan beberapa pembatasan penjualan minyak mentah Rusia yang diberlakukan terkait perang melawan Ukraina.

Rekomendasi Untuk Anda

Hal ini memungkinkan negara-negara untuk membeli minyak yang sudah berada di laut hingga 11 April untuk menenangkan harga minyak yang melonjak, setelah Iran menyerang infrastruktur energi di seluruh Teluk sebagai pembalasan atas operasi pengeboman AS-Israel terhadap Republik Iran.

Serangan pembalasan Iran ini dimulai sejak AS dan Israel melancarkan pada 28 Februari yang menewaskan para pemimpin tinggi mereka dengan tujuan penggulingan rezim di Teheran.

Upaya AS-Israel itu terbukti gagal hingga kini. Di sisi lain, aksi invasif AS-Israel itu memicu penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang dilalui oleh 20 persen minyak global, membuat pasar energi bergejolak.

Setelah hampir 39 hari pertempuran, kedua pihak mencapai gencatan senjata namun rapuh.

Gencatan senjata itu disebutkan berlangsung selama 12 hari untuk menegosiasikan perdamaian, tetapi gencatan senjata tersebut masih belum pasti karena pembicaraan di Islamabad gagal setelah 21 jam negosiasi berakhir tanpa kesepakatan.

Soal gagalnya negosiasi, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Teheran menolak menerima persyaratan Washington. 

Presiden AS, Donald Trump kemudian mengumumkan blokade angkatan laut terhadap Iran, menyatakan kalau Amerika Serikat akan menghentikan setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar bea masuk kepada Teheran.

Dewan Hubungan Luar Negeri AS memberikan bayangan gelap atas gencatan senjata yang sudah rapuh tersebut.

Ilustrasi kapal minyak Yunani
Ilustrasi kapal minyak (open source)

Pipa Minyak Rusia Kembali Dibuka

Dalam perkembangan positif lainnya bagi ekspor energi Moskow, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Selasa, mengatakan kalau jalur pipa yang membawa minyak Rusia melalui Ukraina ke Hongaria dan Slovakia yang rusak akibat serangan Moskow akan dibuka kembali pada akhir April.

"Mengenai pipa minyak, seperti yang kami janjikan, akan diperbaiki pada akhir April, tidak sepenuhnya, tetapi cukup agar dapat berfungsi," kata Zelensky kepada wartawan di Berlin.

Status jalur pipa tersebut telah menjadi sumber ketegangan utama antara Zelensky, yang menginginkan semua negara Uni Eropa berhenti membeli energi Rusia, dan Perdana Menteri Hungaria yang akan segera lengser, Viktor Orban, yang mempertahankan hubungan hangat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Hubungan ini tetap akrab meskipun terjadi invasi ke Ukraina.

Orban mengalami kekalahan telak dalam pemilihan umum pada Minggu (12/4/2026) karena partainya, Fidesz, hanya memperoleh 55 kursi dibandingkan dengan 138 kursi yang diraih oleh partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar, mengakhiri masa pemerintahannya selama 16 tahun.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas