Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Pentagon Pecat Menteri Angkatan Laut AS di Tengah Perang Iran

Pentagon mengumumkan pengunduran diri John Phelan, Menteri Angkatan Laut AS, pada hari Rabu, tanpa memberikan penjelasan apapun.

Tribun X Baca tanpa iklan
Ringkasan Berita:
  • Pentagon mengumumkan Menteri Angkatan Laut John Phelan mengundurkan diri dan digantikan sementara oleh wakilnya, Hung Cao.
  • Pengunduran diri ini terjadi di tengah konflik AS–Israel dengan Iran serta gelombang pemecatan pejabat militer oleh Pete Hegseth.
  • Phelan disebut terlibat proyek kapal perang “kelas Trump” yang menuai kritik karena mahal dan tidak sesuai strategi Pentagon.

TRIBUNNEWS.COM - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengumumkan Menteri Angkatan Laut AS John Phelan akan meninggalkan jabatannya dan berlaku segera setelah diumumkan pada hari Rabu.

Pentagon tidak memberikan penjelasan atas kepergian mendadak ini.

Kepergian John Phelan terjadi setelah pemecatan Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal Randy George dan dua perwira tinggi lainnya awal bulan ini, di tengah perang AS-Israel di Iran.

“Atas nama Menteri Perang dan Wakil Menteri Perang, kami berterima kasih kepada Menteri Phelan atas pengabdiannya kepada Departemen dan Angkatan Laut Amerika Serikat. Kami mendoakan yang terbaik untuknya dalam usaha-usahanya di masa depan,” kata juru bicara Pentagon, Sean Parnell dalam sebuah pernyataan di platform X, menambahkan bahwa Phelan akan digantikan sementara oleh Wakil Menteri Hung Cao.

Unggahan tersebut diposting ulang tanpa komentar lebih lanjut dari Sekretaris Pete Hegseth.

John Phelan, seorang pengusaha dan investor tanpa pengalaman militer sebelumnya, dilantik sebagai sekretaris Angkatan Laut ke-79 pada 25 Maret 2025, setelah dinominasikan oleh Presiden Donald Trump. 

Ia telah memimpin Departemen Angkatan Laut selama lebih dari satu tahun.

Rekomendasi Untuk Anda

Perubahan personel yang tiba-tiba ini terjadi pada saat yang sensitif bagi operasi angkatan laut AS di Timur Tengah, di mana Washington mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Konfrontasi di dalam dan sekitar Selat Hormuz tetap aktif meskipun gencatan senjata diperpanjang dan diplomasi terhenti.

Jabatan tersebut tidak secara langsung bertanggung jawab untuk mengesahkan operasi tempur, yang menurut hukum AS berada di bawah wewenang presiden, menteri pertahanan, dan komandan tempur terkait.

Baca juga: Ucapan Trump Soal Keretakan di Iran Terbukti, Pejabat Teheran Adu Argumen: Perang atau Damai?

Namun, menteri Angkatan Laut mengawasi urusan inti Departemen Angkatan Laut, yang berarti Phelan kemungkinan besar terlibat dalam kesiapan, penempatan, dan pelaksanaan kebijakan selama kebuntuan dengan Iran.

Hung Cao, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil menteri Angkatan Laut, kini akan mengambil alih jabatan tersebut untuk sementara waktu. 

John Phelan sebelumnya memuji Cao sebagai bagian penting dari upaya departemen untuk membangun kembali "etos prajurit" dan meningkatkan kualitas layanan di seluruh Angkatan Laut dan Korps Marinir.

Proyek Kapal Perang “Kelas Trump” Picu Perdebatan di Pentagon

Politico menulis laporan dengan mengutip beberapa sumber pejabat AS yang mengetahui masalah pengunduran diri John Phelan.

Dalam laporan itu, John Phelan, yang telah menjabat lebih dari satu tahun, disebut ikut merancang rencana kapal perang baru agar mendapat dukungan dari Donald Trump.

Namun, rencana kapal perang besar yang dijuluki “kelas Trump” ini justru membuat tidak puas Pete Hegseth dan Wakil Menteri Stephen Feinberg karena dianggap tidak sesuai dengan arah strategi Pentagon yang kini lebih fokus pada kapal kecil tanpa awak yang lebih murah.

Kapal perang tersebut diperkirakan akan menghabiskan biaya miliaran dolar sejak tahap awal, sehingga dinilai tidak sejalan dengan prioritas yang diinginkan para pejabat tersebut. 

Selain itu, Phelan juga disebut kehilangan sebagian tanggung jawab pentingnya, karena beberapa program kini diambil alih oleh Feinberg dan lembaga anggaran pemerintah.

Setelah kabar ini mencuat, Phelan terlihat berada di Gedung Putih dan juga di Capitol Hill, namun belum memberikan komentar. 

Sementara itu, pihak Pentagon juga tidak memberikan penjelasan rinci terkait proyek kapal perang tersebut.

Pentagon Pecat Beberapa Pejabat Tinggi

Sebelumnya pada tanggal 2 April, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memecat Kepala Staf Angkatan Darat AS Randy George tanpa menyebutkan alasan. 

Dua pejabat AS mengatakan keputusan itu terkait dengan ketegangan antara Hegseth dan Menteri Angkatan Darat Daniel Driscoll.

Pemecatan pada bulan April ini menambah gejolak yang terjadi baru-baru ini di semua tingkatan kepemimpinan di Pentagon, termasuk pemecatan tahun lalu terhadap mantan ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Angkatan Udara CQ Brown, serta kepala operasi angkatan laut dan wakil kepala staf Angkatan Udara.

Kepergian John Phelan dari jabatannya terjadi di tengah gencatan senjata yang tegang dengan Iran, seiring dengan semakin banyaknya aset angkatan laut AS yang dikerahkan ke Timur Tengah.

Militer AS mengandalkan aset angkatan laut untuk melakukan blokade terhadap Iran, yang diharapkan Presiden Donald Trump akan menekan Teheran untuk bernegosiasi mengakhiri konflik dengan syarat-syarat yang dia tetapkan, lapor Straits Times.

Perang AS-Israel Vs Iran

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menandai pecahnya konflik baru di kawasan Timur Tengah.

Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, dan posisinya kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, setelah mendapat persetujuan dari Majelis Ahli Ulama Iran.

Serangan gabungan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran yang berlangsung di Jenewa.

Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran menegaskan bahwa programnya hanya untuk keperluan energi sipil.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke Israel serta pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Selain itu, Iran menghentikan perundingan nuklir dan memblokade Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi dunia, yang memicu lonjakan harga minyak serta kekhawatiran krisis energi global.

Memasuki hari ke-40 konflik pada 7 April, AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan yang dimulai pada 8 April.

Kedua pihak kemudian kembali berunding pada 11 April 2026 di Islamabad, namun belum mencapai kesepakatan damai karena masih ada isu-isu sensitif yang belum terselesaikan.

Hingga kini, konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.900 orang, berdasarkan laporan Al Jazeera.

Setelah kegagalan perundingan pada 11 April, Donald Trump mengancam akan memblokade jalur pelayaran kapal-kapal Iran di Selat Hormuz.

Kedua pihak dijadwalkan kembali bertemu di Islamabad pada 22 April 2026, namun Iran menolak.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran melanggar hukum internasional, serta menuduh pihak lawan memulai perang dan tidak menepati janji.

Sebelumnya Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah diperpanjang tanpa batas waktu.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas