Hari ke-55 Perang Iran: Diplomasi Mandek, Blokade AS Tekan Teheran
Hari ke-55 konflik Iran: belum ada tenggat waktu pasti dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait proposal perdamaian dari Teheran.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu.
- Iran menolak membuka Selat Hormuz karena blokade angkatan laut AS masih berlangsung.
- Ketegangan meningkat setelah IRGC menangkap dua kapal asing dan menembaki kapal ketiga.
TRIBUNNEWS.COM - Pada Kamis (23/4/2026) menandai hari ke-55 perang Iran yang semakin memanas.
Terbaru, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan batas waktu pasti.
Sementara itu, Iran menegaskan masih ingin berdialog tetapi menyalahkan pelanggaran komitmen, blokade pelabuhan, dan ancaman dari Washington sebagai penghambat utama negosiasi damai.
Di tengah kebuntuan diplomasi itu, ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menangkap dua kapal asing dan melepaskan tembakan ke kapal ketiga.
Situasi ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas jalur perdagangan energi dunia.
Berikut hal-hal penting yang terjadi pada hari ke-55 konflik Iran:
Diplomasi Perang: Trump Belum Tetapkan Deadline
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Presiden Trump belum menentukan batas waktu khusus untuk menerima proposal Iran.
“Presiden belum menetapkan tenggat waktu pasti untuk menerima proposal Iran. Pada akhirnya, jangka waktunya akan ditentukan oleh panglima tertinggi,” kata Leavitt, Rabu.
Pembicaraan antara Lebanon, Israel, dan Amerika Serikat di Washington untuk memperkuat gencatan senjata juga berlangsung di tengah situasi yang masih tegang.
Baca juga: Lebih dari 2.000 Lokasi Infrastruktur Listrik Iran Jadi Sasaran Serangan AS-Israel
Pensiunan Brigadir Jenderal Angkatan Darat AS Mark Kimmitt mengatakan perundingan tersebut tidak melibatkan Hizbullah.
“Kita memiliki Israel, Lebanon, dan Amerika Serikat di sana, tetapi kita tidak memiliki Hizbullah,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Iran: Selat Hormuz Belum Dibuka
Ketua parlemen Iran menyatakan negaranya tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama blokade angkatan laut Amerika Serikat masih berlangsung.
Iran menyebut blokade tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melaporkan telah menangkap dua kapal asing di Selat Hormuz.
IRGC juga menyatakan pihaknya melepaskan tembakan ke kapal ketiga karena dianggap melanggar pembatasan pelayaran di jalur tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur utama perdagangan minyak dunia.
AS: Pentagon Rombak Pejabat dan Senat Tolak Resolusi
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memecat Menteri Angkatan Laut John Phelan.
Pemecatan itu menjadi pergantian pejabat senior ke-34 selama pemerintahan Trump.
Wakil Menteri Hung Cao ditunjuk sebagai kepala Angkatan Laut sementara.
Senat AS juga menolak resolusi kewenangan perang yang bertujuan membatasi kekuasaan Trump dalam melancarkan perang terhadap Iran.
Rancangan undang-undang yang dipimpin Senator Demokrat Tammy Baldwin itu ditolak dengan hasil suara 55 berbanding 46.
Komando Pusat AS menyatakan telah memukul mundur 31 kapal, sebagian besar kapal tanker minyak, sebagai bagian dari blokade angkatan laut terhadap Iran.
Operasi itu melibatkan sedikitnya 10.000 tentara, 17 kapal perang, dan lebih dari 100 pesawat.
Baca juga: AS Susun Daftar Sekutu NATO ‘Nakal dan Baik’, yang Tak Dukung Perang Iran Terancam Disanksi
Israel: Hizbullah Disebut Hambatan Perdamaian
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan Israel tidak memiliki perselisihan serius dengan Lebanon.
Ia menyebut Hizbullah sebagai penghalang utama perdamaian dan normalisasi hubungan.
“Hambatan bagi perdamaian hanya satu, yaitu Hizbullah,” kata Saar.
Lebanon dan Gaza: Jurnalis Tewas dan Serangan Berlanjut
Serangan udara Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk jurnalis Al Akhbar, Amal Khalil.
Jurnalis lepas Zeinab Faraj mengalami luka serius dalam serangan yang sama.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan kedua wartawan tersebut terkena serangan susulan saat berlindung di al-Tayri.
Ambulans Palang Merah Lebanon yang berusaha mengevakuasi korban juga dilaporkan terkena granat kejut dan tembakan.
Amal Khalil kemudian ditemukan tewas di bawah reruntuhan.
Di Gaza, tiga anak termasuk di antara lima warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel di dekat Masjid Al-Qassam, Beit Lahiya, wilayah utara Gaza.
Badan Pertahanan Sipil Gaza menyatakan serangan itu mengenai sekelompok warga sipil di lokasi tersebut.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.