Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

ICS Waspadai Dampak Blokade Selat Hormuz, Soroti Risiko Efek Domino ke Selat Malaka dan Gibraltar

ICS peringatkan krisis Hormuz bisa ganggu perdagangan global, sebut risiko merembet ke Selat Malaka hingga Gibraltar.

Tribun X Baca tanpa iklan
Ringkasan Berita:
  • International Chamber of Shipping (ICS) memperingatkan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dapat mengganggu rantai perdagangan global.
  • ICS menyoroti potensi efek domino ke jalur strategis lain seperti Selat Malaka dan Gibraltar.
  • Organisasi itu menegaskan kebijakan pembatasan di Hormuz tanpa dasar hukum internasional berisiko menciptakan preseden berbahaya.

 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah badan pelayaran global, International Chamber of Shipping (ICS), memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz berpotensi mengguncang jalur perdagangan internasional utama.

ICS menilai, situasi di kawasan tersebut tidak hanya berdampak lokal, tetapi dapat memicu efek lanjutan ke rute strategis dunia lainnya.

Hormuz Jadi Titik Rawan Perdagangan Energi Dunia

ICS menyoroti bahwa Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan tersebut.

Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal di wilayah itu anjlok drastis akibat ketegangan, dari lebih dari 100 kapal per hari menjadi hanya beberapa kapal dalam periode tertentu, menurut analisis data pelayaran terbaru.

Kondisi ini memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok energi global, terutama bagi negara-negara di Asia dan Eropa yang sangat bergantung pada jalur tersebut.

ICS: Risiko Efek Domino ke Selat Malaka dan Gibraltar

Direktur kelautan ICS, John Stawpert, menegaskan bahwa rencana pengenaan biaya atau kontrol tambahan di Selat Hormuz tidak memiliki dasar hukum internasional.

Baca juga: Perang Iran-AS Hari Ke-58: Teheran Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan, Eskalasi Meluas ke Lebanon

Rekomendasi Untuk Anda

Ia memperingatkan bahwa kebijakan semacam itu dapat menciptakan preseden berbahaya bagi jalur perdagangan lain di dunia.

“Jika bisa dilakukan di Selat Hormuz, mengapa tidak di Selat Gibraltar atau Selat Malaka?” ujarnya dalam wawancara dengan media internasional.

ICS menilai Selat Malaka, yang menjadi jalur utama energi Asia Timur seperti China, Jepang, dan Indonesia, dapat terdampak jika terjadi pengalihan rute kapal dari Hormuz.

Ancaman Stabilitas Jalur Energi Global

ICS, yang mewakili sekitar 80 persen armada kapal dagang dunia, menekankan bahwa meningkatnya ketidakpastian di Hormuz telah memperburuk risiko operasional pelayaran global.

Organisasi itu juga menyerukan agar seluruh pihak menghormati prinsip kebebasan navigasi dan melindungi keselamatan pelaut yang beroperasi di kawasan konflik.

Ketegangan yang Berlarut

Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat sejak konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, yang sebelumnya juga telah memicu gangguan perdagangan dan serangan terhadap sejumlah kapal dagang di kawasan tersebut.

Data pelayaran menunjukkan puluhan kapal sempat diserang atau terdampak gangguan sejak eskalasi konflik, memperburuk kekhawatiran stabilitas jalur energi global.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas