Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

15 Tahun Setelah Tsunami, Otsuchi Jepang Kembali Diuji Kebakaran Hutan

Seorang relawan pemadam kebakaran di Otsuchi kembali menghadapi bencana setelah sebelumnya selamat dari tsunami 2011.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Tiara Shelavie
zoom-in 15 Tahun Setelah Tsunami, Otsuchi Jepang Kembali Diuji Kebakaran Hutan
Tangkap layar YouTube NHK WORLD-JAPAN
KEBAKARAN DI JEPANG - Tangkap layar YouTube NHK WORLD-JAPAN 24 April 2026 memperlihatkan situasi kebakaran hutan di Otsuchi. Seorang relawan pemadam kebakaran di Otsuchi kembali menghadapi bencana setelah sebelumnya selamat dari tsunami 2011. 
Ringkasan Berita:
  • Seorang relawan pemadam kebakaran di Otsuchi kembali menghadapi bencana setelah sebelumnya selamat dari tsunami 2011. 
  • Kebakaran hutan besar yang berlangsung berhari-hari mengancam wilayah tersebut di tengah keterbatasan tenaga. 
  • Meski kelelahan, para pemadam tetap berjuang demi melindungi komunitas mereka.

TRIBUNNEWS.COM - Ryota Haga masih duduk di bangku SMA ketika gempa terbesar yang pernah tercatat di Jepang memicu tsunami mematikan dan menghanyutkan rumah keluarganya di kota kecil Otsuchi, wilayah timur laut, pada Maret 2011.

Kini, di usia 31 tahun dengan seorang istri dan anak balita, relawan pemadam kebakaran itu kembali menghadapi bencana lain: kali ini kebakaran hutan yang telah berlangsung selama enam hari dan mengancam komunitasnya setelah membakar lebih dari 1.600 hektare hutan hingga Senin (27/4/2026) pagi, dilansir Reuters.

“Sudah 15 tahun sejak Gempa dan Tsunami Jepang Timur 2011, dan kehidupan kami akhirnya mulai stabil,” kata Haga setelah hari yang melelahkan memadamkan api pada Minggu.

“Kami tidak bisa membiarkan orang kehilangan hal berharga mereka lagi. Api terus menyebar dan kami sudah sangat kelelahan, tetapi ini adalah kampung halaman kami. Kami akan melindunginya dengan segala cara, bahkan jika kami sudah hampir kehabisan tenaga.”

Otsuchi merupakan salah satu kota pesisir yang paling parah terdampak pada 2011, ketika tsunami setinggi sekitar 10 meter menyapu kota nelayan kecil tersebut.

Hampir 1.300 warga, atau sekitar sepersepuluh populasi, meninggal dunia, termasuk walikotanya.

Baca juga: Miyazaki Jepang Buka Lowongan untuk Tenaga Kerja Indonesia, Sektor Pertanian hingga Manufaktur

Skala kebakaran saat ini belum pernah dialami Haga sebelumnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Sekitar 1.400 petugas pemadam dan puluhan personel Pasukan Bela Diri Jepang telah dikerahkan, namun hingga kini belum ada tanda-tanda api bisa segera dikendalikan, meskipun hujan ringan diperkirakan turun pada Senin.

Meski Jepang relatif jarang mengalami kebakaran hutan besar dibandingkan wilayah lain, perubahan iklim telah meningkatkan frekuensinya.

Musim awal semi yang panas, kering, dan berangin membuat api lebih mudah menyebar. Pada Minggu, kebakaran hutan lain juga terjadi di wilayah Fukushima, Jepang timur laut.

Bagi Haga, meningkatnya kebakaran hutan menambah kekhawatiran jangka panjang tentang kekurangan tenaga pemadam kebakaran akibat populasi yang menurun dan menua. Bahkan saat ini, tim tempat ia bertugas sudah kekurangan anggota dibanding standar yang ditetapkan.

“Jika kebakaran hutan terjadi saat saya berusia 50 atau 60 tahun, dan saya yang harus terengah-engah memadamkannya, saya rasa kami tidak akan mampu menghentikannya,” katanya.

Meski demikian, Haga tetap berharap bahwa tekad kuat para pemadam untuk menyelamatkan komunitasnya tidak akan sia-sia.

“Generasi berikutnya mungkin akan terinspirasi untuk bergabung menjadi relawan pemadam kebakaran.”

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas