Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Presiden Iran Geram! IRGC Dituding Bertindak Liar Usai Kirim Serangan Drone ke UEA

Pezeshkian murka! IRGC dituding kirim drone ke UEA tanpa izin. Serangan picu konflik internal Iran memanas, risiko perang makin nyata.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Ringkasan Berita:
  • Pezeshkian murka dan kecam Islamic Revolutionary Guard Corps karena serangan drone ke Uni Emirat Arab dinilai tanpa koordinasi, bahkan disebut “kegilaan”.
  • Serangan drone dan rudal ke UEA picu kebakaran di pelabuhan minyak Fujairah. Meski banyak dicegat, skala serangan besar dan IRGC belum mengklaim resmi, memicu spekulasi global.
  • Konflik internal Iran menguat, Pezeshkian khawatir eskalasi picu perang besar dengan AS. Analis peringatkan risiko ketidakstabilan hingga “kehancuran diri militer”.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian meluapkan kemarahan kepada jajaran Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) setelah muncul klaim bahwa serangan ke Uni Emirat Arab berasal dari Teheran.

Berdasarkan sumber internal yang mengetahui situasi di Teheran, Pezeshkian mengkritik keras serangan rudal dan drone yang terjadi pada Senin kemarin (4/5/2026) di kawasan Teluk Persia.

Ia menilai operasi tersebut dilakukan tanpa koordinasi dengan pemerintah sipil, bahkan menyebutnya sebagai tindakan “tidak bertanggung jawab”.

IRGC yang dipimpin oleh Ahmad Vahidi disebut menjalankan operasi militer secara sepihak. Presiden Iran menilai strategi eskalasi seperti itu berpotensi memicu konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan.

Dalam pernyataan yang dikutip caliber, Pezeshkian juga mengatakan langkah tersebut sebagai “kegilaan” yang dapat membawa konsekuensi besar bagi negara, berpotensi memicu konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan.

Kronologi Serangan Drone ke UEA

Adapun sasaran pertama dilaporkan terjadi pada pagi hari ketika sejumlah drone terdeteksi memasuki wilayah udara UEA.

Sistem pertahanan udara setempat segera merespons dengan melakukan pencegatan. 

Rekomendasi Untuk Anda

Meski sebagian besar drone berhasil dihancurkan di udara, satu serangan tetap memicu kebakaran di fasilitas pelabuhan minyak strategis di Fujairah, menandai dampak langsung terhadap sektor energi.

Dalam perkembangan selanjutnya, Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang serangan yang lebih luas, termasuk rudal balistik dan jelajah. 

Total puluhan ancaman udara dilaporkan berhasil dicegat dalam satu hari, menunjukkan skala serangan yang signifikan.

Hingga saat ini, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) tidak secara terbuka mengklaim bahwa serangan tersebut berasal langsung dari Teheran.

Tidak adanya pengakuan resmi ini menciptakan ruang spekulasi, terutama di tengah laporan intelijen yang mengaitkan serangan dengan jaringan militer Iran di kawasan.

Baca juga: Serangan Udara Digagalkan! Teknologi Laser Israel Jadi Tameng UEA Hadapi Hujan Drone

Konflik Internal di Tengah Eskalasi

Sejumlah pejabat dan sumber keamanan regional menilai pola serangan, jenis drone, serta arah peluncuran memiliki keterikatan kuat dengan infrastruktur militer Iran.

Namun, tanpa pengakuan terbuka, posisi Iran tetap berada dalam wilayah abu-abu tidak mengkonfirmasi, tetapi juga tidak secara tegas menyangkal keterlibatan langsung dalam serangan ke Uni Emirat Arab.

Kondisi ini diperparah oleh munculnya konflik internal di lingkaran kekuasaan. Presiden Masoud Pezeshkian dilaporkan mulai mengambil langkah intervensi, menyusul kekhawatiran bahwa operasi militer yang tidak terkoordinasi dapat memperburuk situasi.

Dalam sistem politik Iran, keputusan strategis terkait keamanan nasional berada di tingkat tertinggi, sehingga langkah presiden menjadi penting, meski tidak selalu menentukan arah kebijakan akhir.

Sumber yang dekat dengan pemerintahan menyebutkan bahwa Pezeshkian semakin khawatir terhadap potensi eskalasi konflik yang tidak terkendali.

Ia menilai Iran saat ini tidak berada dalam posisi yang cukup kuat untuk menghadapi perang skala penuh, terutama dengan risiko serangan balasan dari Amerika Serikat yang dapat menyasar infrastruktur energi dan ekonomi vital negara tersebut.

Ketidaksinkronan antara kepemimpinan politik dan militer dikhawatirkan memicu ketidakstabilan strategis yang lebih luas.

Bahkan, sebagian pihak memperingatkan bahwa jika koordinasi internal terus melemah, kondisi ini dapat mengarah pada apa yang disebut sebagai “kehancuran diri militer”.

Di mana keputusan yang tidak terkoordinasi justru memperbesar ancaman terhadap keamanan nasional Iran sendiri.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa konflik yang terjadi tidak hanya bersifat eksternal, tetapi juga menyentuh aspek internal kekuasaan, yang pada akhirnya dapat menentukan arah eskalasi di kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.

(Tribunnews.com / Namira)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas