Proyek Kebebasan Diluncurkan, Menhan AS: Kami Tidak Mencari Pertengkaran dengan Iran
AS menjalankan Proyek Kebebasan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz sambil menegaskan tidak mencari konflik dengan Iran.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
- AS menjalankan Proyek Kebebasan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz sambil menegaskan tidak mencari konflik dengan Iran.
- Ketegangan meningkat dengan insiden militer, serangan, dan klaim saling bertentangan antara kedua pihak.
- Meski melibatkan kekuatan besar, efektivitas operasi masih diragukan dan berisiko memicu eskalasi konflik lebih luas.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menggelar konferensi pers bersama Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, pada Selasa (5/5/2026) untuk membahas situasi terkini konflik dengan Iran, khususnya di Selat Hormuz.
Mengutip The Guardian, Hegseth membuka konferensi pers dengan membahas Project Freedom atau Proyek Kebebasan, yang menurutnya terpisah dari operasi perang yang lebih luas, yakni Proyek Epic Fury.
Kepala Pentagon itu, menyatakan bahwa Iran telah bertindak agresif terhadap negara-negara yang kapalnya mencoba melintasi Selat Hormuz.
Ia juga menyebut, Iran sekarang pasti malu karena meskipun mereka mengklaim mengendalikan selat tersebut, pada kenyataannya tidak demikian.
Hegseth mengatakan, Amerika Serikat telah membangun kubah di atas selat sebagai bentuk perlindungan bagi dunia.
"Blokade tetap kokoh dan berlaku," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa enam kapal yang mencoba menerobos blokade dari pelabuhan Iran telah dihentikan oleh pasukan AS.
Hegseth pun menegaskan bahwa AS tidak mencari konflik dengan Iran.
Baca juga: Iran Dekati China, AS Datangkan Kapal Induk George Bush, Korea Selatan Gabung Operasi Hormuz?
“AS bertujuan melindungi pelayaran dari agresi Iran. Kami tidak perlu memasuki wilayah udara atau perairan Iran untuk membuka Selat Hormuz,” katanya, mengutip Al Jazeera.
“Kami tidak mencari pertempuran. Mereka mengatakan mereka mengendalikan selat itu, padahal tidak.”
Hegseth juga memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi serangan besar jika kapal dagang menjadi sasaran selama operasi Proyek Kebebasan.
“Sebagai bentuk kontribusi Amerika Serikat bagi dunia, kami telah membangun kubah merah, putih, dan biru yang kuat di atas Selat Hormuz,” ujarnya.
“Iran akan menghadapi kekuatan tembak yang luar biasa jika menyerang kapal dagang.”
Tentang Proyek Kebebasan
Mengutip The Independent, Presiden AS Donald Trump mengumumkan Proyek Kebebasan pada Minggu (3/5/2026), sebuah rencana untuk memandu kapal asing keluar dari Selat Hormuz dan melindungi perdagangan internasional.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan minyak, pupuk, dan komoditas global, yang tertutup sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, sehingga memicu kenaikan harga global.
Trump menyebut operasi ini sebagai misi kemanusiaan untuk membantu kapal-kapal yang kehabisan perbekalan setelah lebih dari dua bulan terjebak di Teluk Persia.
Ia mengatakan operasi akan dimulai pada Senin pagi dan memperingatkan bahwa setiap gangguan akan ditindak tegas.
Bagaimana tanggapan Iran?
Ketegangan meningkat ketika Iran mengklaim telah melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal perang AS yang mendekati Selat Hormuz.
Korea Selatan juga melaporkan bahwa salah satu kapal dagangnya, HMM Namu, mengalami ledakan dan kebakaran di ruang mesin, meskipun penyebabnya belum dipastikan.
Seorang pejabat Korea Selatan mengatakan, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam upaya AS memulihkan keamanan pelayaran di selat tersebut.
Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan dua kapal terkena serangan di lepas pantai Uni Emirat Arab, sementara perusahaan minyak Adnoc menyatakan salah satu kapal tankernya diserang drone Iran.
Media pemerintah Iran mengklaim serangan drone dan rudal terhadap UEA sebagai respons atas tindakan militer AS.
Salah satu serangan menyebabkan kebakaran di fasilitas minyak di Fujairah, yang mendorong pihak berwenang menyatakan hak untuk membalas.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis ini.
Ia mengatakan pembicaraan damai tengah berlangsung dengan mediasi Pakistan, serta memperingatkan AS dan UEA agar tidak terseret lebih jauh ke dalam konflik.
Bagaimana Proyek Kebebasan berlangsung?
Mengutip BBC, Komando Pusat AS (Centcom) menyebutkan bahwa operasi ini melibatkan kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, sistem tak berawak multi-domain, serta sekitar 15.000 personel militer.
Dalam konferensi hari pertama operasi pada Senin (4/5/2026), Komandan Centcom Laksamana Brad Cooper menyatakan bahwa kapal dari 87 negara terdampar di kawasan Teluk, dan AS telah menghubungi berbagai kapal serta perusahaan pelayaran untuk mengatur arus lalu lintas.
Namun, belum jelas apakah AS akan memberikan pengawalan militer langsung bagi kapal-kapal tersebut.
Mick Mulroy, mantan pejabat pertahanan AS, menilai operasi ini kemungkinan berfokus pada perlindungan udara dan pertahanan dari serangan, bukan pengawalan langsung.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan operasi bergantung pada kepercayaan kapal dan perusahaan asuransi terhadap keamanan pelayaran.
Apakah kapal mulai melintasi Selat Hormuz?
Mengutip The Independent, upaya AS belum menghasilkan pergerakan besar kapal keluar dari selat.
Diperkirakan lebih dari 850 kapal masih terjebak di kawasan Teluk sejak akhir Februari.
Beberapa kapal dilaporkan berhasil melintas dengan dukungan militer AS, meskipun klaim tersebut dibantah oleh Iran.
Perusahaan pelayaran Maersk menyebut kapal berbendera AS, Alliance Fairfax, berhasil keluar dari Teluk dengan pengawalan militer.
Sementara itu, Iran merilis peta yang menunjukkan perluasan wilayah maritim yang diklaim berada di bawah kendalinya, termasuk sebagian wilayah dekat pantai UEA.
Jika klaim tersebut terealisasi, hal ini dapat berarti pengepungan maritim hampir total terhadap negara Teluk tersebut.
Di sisi lain, AS tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi.
US Centcom menyebutkan bahwa 49 kapal komersial telah dialihkan sejak blokade diberlakukan pada 13 April.
Kata pakar
Para ahli menilai langkah AS berpotensi memicu eskalasi dan mengancam gencatan senjata.
Nitya Labh, peneliti di Chatham House London, menyebut operasi tersebut sangat berisiko.
“Langkah ini meningkatkan ketegangan dan menunjukkan bahwa AS tidak bersedia bernegosiasi mengenai pembukaan kembali Selat,” ujarnya.
“AS tampaknya memilih mempertahankan pelayaran melalui ancaman kekuatan atau serangan dari Iran.”
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.