Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

5 Populer Internasional: AS dan Iran Hampir Mencapai Kesepakatan - Project Freedom Dihentikan

Berita populer internasional, di antaranya AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dan membuka negosiasi nuklir.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Nuryanti
Ringkasan Berita:
  • Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dan membuka negosiasi nuklir. 
  • Presiden Donald Trump menangguhkan sementara Proyek Kebebasan di Selat Hormuz atas permintaan Pakistan dan negara lain. 
  • Israel menyatakan siap mengerahkan seluruh armada jet tempurnya melawan Iran jika diperlukan.  

TRIBUNNEWS.COM - Berbagai peristiwa dunia menarik perhatian publik dalam sehari terakhir.

AS dan Iran dilaporkan hampir mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dan memulai negosiasi nuklir.

Kabar ini muncul setelah Presiden AS Trump mengumumkan militer AS menangguhkan sementara “Proyek Kebebasan” di Selat Hormuz atas permintaan Pakistan dan negara lain, sambil menyebut adanya kemajuan kesepakatan dengan Iran

Sementara itu, Israel siap mengerahkan seluruh armada jet tempurnya melawan Iran jika perlu.

Berikut berita populer internasional selengkapnya.

1. AS dan Iran Hampir Mencapai Kesepakatan untuk Akhiri Perang, Memorandum Satu Halaman Berisi 14 Poin

Amerika Serikat dilaporkan hampir mencapai kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengakhiri perang dan memulai negosiasi nuklir, Axios melaporkan pada Rabu (6/5/2026), mengutip dua pejabat AS dan dua sumber lain yang mengetahui perkembangan tersebut.

Iran diperkirakan akan memberikan tanggapan terkait poin-poin penting dalam waktu 48 jam.

Rekomendasi Untuk Anda

Laporan itu menyebut kesepakatan tersebut menjadi titik terdekat yang pernah dicapai kedua pihak sejak perang dimulai, meski hingga kini belum ada kesepakatan final.

Sementara itu, seorang sumber Pakistan yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan kepada Reuters bahwa Iran dan AS hampir menyepakati memorandum satu halaman untuk mengakhiri perang.

Pernyataan itu sekaligus menguatkan laporan Axios.

“Kita akan segera menyelesaikan ini. Kita sudah hampir mencapai kesepakatan,” kata sumber tersebut.

Kepemimpinan Iran Terpecah

Menurut Axios, Gedung Putih meyakini kepemimpinan Iran sedang terpecah, yang dapat mempersulit upaya mencapai kesepakatan.

Meski begitu, beberapa pejabat AS tetap skeptis bahwa kesepakatan awal dapat benar-benar tercapai.

Laporan itu juga menyebut keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda operasi “Proyek Kebebasan” di Selat Hormuz didasarkan pada kemajuan pembicaraan dengan Iran.

Membuka Kembali Selat Hormuz

Usulan nota kesepahaman satu halaman yang terdiri dari 14 poin disebut akan menandai berakhirnya permusuhan dan memulai masa negosiasi selama 30 hari untuk mencapai kesepakatan yang lebih rinci.

Menurut Axios, negosiasi itu akan berfokus pada pembukaan kembali jalur transit di Selat Hormuz, pembatasan program nuklir Iran, serta pencabutan sanksi AS.

Dua sumber menyebut pembicaraan kemungkinan berlangsung di Islamabad atau Geneva.

Pembatasan Iran terhadap pengiriman barang dan blokade angkatan laut AS juga disebut akan dilonggarkan selama masa negosiasi 30 hari tersebut.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. Obama Bongkar Rahasia Lama, Sebut Netanyahu Pernah Desak AS Gempur Iran

Mantan Presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama, mengungkap bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah lama mendorong Washington untuk melakukan serangan militer terhadap Iran.

Pernyataan itu dilontarkan langsung oleh Obama dalam wawancara dengan media The New Yorker, Rabu (5/5/2025).

Obama mengatakan bahwa selama 2 periode masa jabatannya, ia kerap menerima tekanan dari Netanyahu untuk mengambil langkah militer terhadap Iran.

Namun, ia memilih pendekatan berbeda dengan mengedepankan diplomasi, negosiasi dan kerja sama internasional sebagai cara untuk mengendalikan potensi ancaman, termasuk melalui kesepakatan nuklir yang pernah dicapai pada 2015.

Menurutnya, serangan militer tidak menjamin mampu mengatasi ancaman yang dianggap berasal dari Iran.

Lebih lanjut, Obama menegaskan bahwa serangan militer tidak menjamin mampu menghilangkan ancaman yang dianggap berasal dari Iran.

Ia menilai langkah tersebut justru berpotensi memperpanjang konflik dan memicu ketidakstabilan baru di kawasan Timur Tengah yang pada akhirnya memberikan dampak negatif pada keamanan regional dan global.

Obama Kritik Trump yang Ikuti Dorongan Netanyahu

Dalam kesempatan itu Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, juga turut melontarkan kritik terhadap Donald Trump, yang mengikuti dorongan PM Netanyahu, untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran.

Perlu diketahui AS dan Israel meluncurkan serangan brutal ke Iran pada 28 Februari. Operasi ini menyebabkan pemimpin tertinggi dan pejabat top pertahanan Iran tewas.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan balik ke Israel serta aset militer AS di negara Teluk dan menutup jalur perdagangan minyak global Selat Hormuz, hingga membuat pasar global terancam krisis BBM.

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. Soal Penggunaan Lumba-Lumba untuk Bersihkan Ranjau Laut, Menhan AS: Iran Tidak Punya

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menepis kabar bahwa Iran dapat menggunakan mamalia laut untuk membersihkan ranjau di Selat Hormuz.

Para ahli menilai gagasan itu tidak sepenuhnya mengada-ada.

Beberapa negara, termasuk AS, memiliki sejarah menggunakan lumba-lumba di daerah konflik, meski bukan sebagai senjata.

“Saya tidak dapat mengonfirmasi atau menyangkal apakah kita memiliki lumba-lumba kamikaze, tetapi saya dapat mengonfirmasi bahwa mereka (Iran) tidak memilikinya,” kata Hegseth dalam konferensi pers, Selasa (5/5/2026), dikutip dari NDTV.

Kamikaze adalah taktik serangan bunuh diri yang muncul ketika pilot Jepang sengaja menabrakkan pesawat mereka ke kapal musuh, terutama kapal perang Sekutu pada Perang Dunia II.

Sebelumnya, Wall Street Journal melaporkan pada 30 April bahwa pejabat Iran menyebut negaranya dapat menggunakan lumba-lumba pembawa ranjau untuk menyerang kapal perang AS.

Namun, belum jelas apakah Iran memiliki kemampuan tersebut.

Selat Hormuz sebagian besar telah diblokir selama perang berlangsung.

Pada Minggu (3/5/2026), Presiden AS Donald Trump mengumumkan “Proyek Kebebasan”, sebuah operasi untuk membebaskan kapal-kapal yang terdampar di selat tersebut sejak awal konflik.

Namun, operasi itu kini ditunda.

Penggunaan Lumba-Lumba dalam Operasi Militer

Mengutip CNBC.com, sejak 1959 Angkatan Laut AS memiliki Program Mamalia Laut yang melatih lumba-lumba hidung botol dan singa laut California untuk mendeteksi ranjau serta ancaman bawah laut lainnya.

Hewan-hewan tersebut bertugas melakukan pengawasan, menemukan, dan mengambil benda-benda di laut, menurut Naval Information Warfare Center Pacific, laboratorium penelitian dan rekayasa milik Angkatan Laut AS.

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Siaga Tinggi, Israel Siap Kerahkan Seluruh Armada Jet Tempur untuk Lawan Iran jika Diperlukan

Kepala Angkatan Udara Israel yang baru, Mayor Jenderal Omer Tischler, mengatakan negara itu siap mengerahkan seluruh armada jet tempurnya melawan Iran jika diperlukan.

Pernyataan Mayor Jenderal Omer Tischler disampaikan beberapa minggu setelah gencatan senjata yang rapuh dalam perang Timur Tengah, yang meletus ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Lahir pada tahun 1975 di Israel utara, Mayor Jenderal Omer Tischler adalah seorang penerbang karier yang naik pangkat sebagai pilot tempur dan komandan.

“Kami memantau dengan cermat perkembangan di Iran dan siap mengerahkan seluruh angkatan udara ke arah timur jika diperlukan,” kata Tischler pada upacara di mana ia mengambil alih komando dari pendahulunya, Mayor Jenderal Tomer Bar, Selasa (5/5/2026), dilansir Al Arabiya.

“Angkatan udara akan terus bertindak dengan tekad, kekuatan, dan tanggung jawab terhadap ancaman di setiap arena, di setiap tahap, dan terhadap setiap musuh," jelasnya.

Berbicara pada upacara yang sama, Kepala Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengatakan negara itu tetap “siaga tinggi di semua lini.”

Ia mengatakan militer “siap untuk menanggapi dengan kekuatan terhadap setiap upaya untuk membahayakan Israel.”

Sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, angkatan udara Israel telah melakukan kampanye udara yang ekstensif dan berkelanjutan di berbagai front, khususnya di Gaza, Lebanon, dan Iran.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. Trump Hentikan Sementara 'Project Freedom' AS di Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Selasa mengumumkan militer AS akan menangguhkan sementara "Project of Freedom" atau “Proyek Kebebasan” yang sebelumnya diluncurkan untuk memastikan kembali kebebasan navigasi bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Trump menyebut keputusan tersebut diambil atas permintaan Pakistan dan sejumlah negara lain, sekaligus menyoroti apa yang ia klaim sebagai “kesuksesan militer yang luar biasa” dalam serangan AS terhadap Iran.

“Berdasarkan permintaan Pakistan dan negara-negara lain, keberhasilan militer luar biasa yang telah kita raih selama kampanye melawan negara Iran dan, selain itu, fakta bahwa kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan final dengan perwakilan Iran, kita telah sepakat bersama bahwa, sementara blokade akan tetap berlaku sepenuhnya," tulisnya di platform Truth Social miliknya, Selasa (5/5/2026).

"Proyek Kebebasan (Pergerakan Kapal melalui Selat Hormuz) akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat untuk melihat apakah kesepakatan tersebut dapat diselesaikan dan ditandatangani,” lanjutnya.

Proyek Kebebasan

Sebelumnya, pada hari Minggu kemarin, Trump mengumumkan “Proyek Kebebasan”, sebuah inisiatif yang berkomitmen mengawal kapal-kapal dagang melalui Selat Hormuz meskipun Iran menegaskan setiap pelayaran di jalur strategis tersebut harus mendapatkan izin dari Teheran terlebih dahulu, seperti diberitakan Anadolu Agency.

Di sisi lain, Iran pada hari Selasa juga mengumumkan mekanisme baru untuk mengatur transit kapal di Selat Hormuz di tengah kebuntuan yang masih berlangsung dengan Washington.

Melalui sistem tersebut, kapal-kapal yang hendak melintasi selat akan menerima pemberitahuan melalui email dari alamat yang dikaitkan dengan Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) berisi aturan transit.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com) 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas