Trump Klaim Iran Setuju Stop Program Nuklir saat Teheran Masih Kaji Proposal AS
Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir dan kesepakatan besar AS-Iran akan terjadi.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran telah setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir di tengah negosiasi intensif kedua negara.
- Kesepakatan awal disebut mencakup penghentian pengayaan uranium Iran, pencabutan sebagian sanksi AS, dan pembukaan kembali jalur Selat Hormuz.
- Namun, Iran belum mengonfirmasi klaim tersebut dan masih menilai sejumlah syarat AS tidak dapat diterima.
- Harapan tercapainya perdamaian membuat harga minyak dunia sempat anjlok tajam.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengklaim Iran telah setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir di tengah berlangsungnya negosiasi intensif antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik yang memanas sejak 28 Februari lalu.
"Iran tidak bisa memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memilikinya,” kata Trump dalam pernyataannya di Gedung Putih, Rabu (6/5/2026).
Ia mengklaim Teheran telah menyetujui poin tersebut bersama sejumlah kesepakatan lainnya.
"Mereka (Iran) telah menyetujui hal itu, di antara hal-hal lainnya," katanya berbicara tentang tuntutan AS agar Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Trump menyebut pembicaraan dalam 24 jam terakhir berjalan sangat baik dan mengatakan peluang tercapainya kesepakatan kini sangat besar.
"Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik selama 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami akan mencapai kesepakatan," ujarnya.
Perundingan Masih Berlangsung, Trump Sebut Tak Ada Ekspor Uranium Iran ke AS
AS dan Iran sedang membahas penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum satu halaman berisi sekitar 14 poin yang bertujuan mengakhiri perang dan meredakan ketegangan di kawasan, menurut laporan media AS, Axios.
Kesepakatan awal itu disebut mencakup penghentian sementara pengayaan uranium Iran, pencabutan sebagian sanksi AS, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta kemungkinan ekspor uranium Iran yang telah diperkaya ke luar negeri, termasuk ke Amerika Serikat.
Ketika ditanya apakah ekspor persediaan uranium Iran ke AS dapat menjadi bagian dari kesepakatan tersebut, ia menjawab, “Tidak, mungkin tidak. Itu akan dikirim ke Amerika Serikat.”
Baca juga: Donald Trump Tekan Iran: Buka Selat Hormuz atau Hadapi Serangan
Trump juga menyebut fasilitas nuklir bawah tanah Iran kemungkinan akan menghentikan operasinya sebagai bagian dari kesepakatan.
Namun, ia menekankan, “Kita harus mendapatkan apa yang harus kita dapatkan,” seraya menambahkan, “Jika kita tidak melakukan itu, kita harus melangkah lebih jauh.”
Trump menyebutkan kemungkinan tercapainya kesepakatan sebelum kunjungan terjadwalnya ke China pada tanggal 14-15 Mei 2026, tetapi belum ada pernyataan resmi dari Iran yang dirilis.
Presiden AS menyatakan Iran sangat ingin mencapai kesepakatan dan memperkirakan seluruh proses dapat selesai dalam waktu singkat apabila kedua pihak berhasil menyelesaikan poin-poin yang masih diperdebatkan.
“Mereka (Iran) sangat ingin membuat kesepakatan,” kata Trump, lalu menambahkan, “Para pemimpin mereka semuanya sudah meninggal. Jadi saya pikir kita menang.”
Di tengah perselisihan dengan Paus Leo II mengenai situasi Iran, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dijadwalkan akan segera bertemu dengan Paus.
“Terlepas dari apa yang dikatakan Paus, Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir. Kita tidak akan pernah membiarkan situasi seperti itu terjadi,” ujar Trump.
Mengenai negosiasi tatap muka dengan Iran, Trump menyebutkan bahwa utusan Timur Tengah Steve Witkoff dan menantu tertuanya Jared Kushner, yang terlibat dalam negosiasi, kemungkinan besar tidak akan segera menuju ke Pakistan sebagai mediator.
“Kita juga bisa bernegosiasi di sini, dan mungkin upacara penandatanganan akhir akan berlangsung di tempat lain,” kata Trump.
Iran Belum Mengonfirmasi Klaim AS
Meski Trump terdengar optimistis, Iran belum memberikan konfirmasi resmi mereka menerima seluruh tuntutan AS.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghai, menyebut laporan kesepakatan sudah dekat sebagai sesuatu yang berlebihan.
Kantor berita semi-resmi Tasnim juga melaporkan bahwa proposal terbaru AS masih memuat sejumlah syarat yang dianggap tidak dapat diterima oleh Teheran.
Ketua parlemen Iran, Qalibaf, mengatakan, "Musuh, dalam skema barunya, bertujuan, melalui blokade laut, tekanan ekonomi, dan manipulasi media, untuk melemahkan kohesi negara agar memaksa kita untuk menyerah."
Seorang anggota parlemen Iran menyebut proposal tersebut lebih menyerupai “daftar keinginan Amerika” daripada kesepakatan yang realistis.
Perbedaan utama antara kedua negara masih berkaitan dengan program nuklir Iran, cadangan uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi, serta pengaruh Iran di Timur Tengah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut menegaskan, seluruh uranium yang diperkaya harus dikeluarkan dari Iran untuk memastikan negara itu tidak mampu mengembangkan bom nuklir.
Namun, Teheran terus membantah mereka memiliki ambisi membuat senjata nuklir dan menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.
Di tengah negosiasi yang masih berlangsung, laporan mengenai potensi kesepakatan langsung memengaruhi pasar global.
Harga minyak dunia sempat anjlok tajam karena muncul harapan bahwa konflik akan segera berakhir dan jalur perdagangan energi di Selat Hormuz kembali normal.
Setidaknya harga minyak mentah Brent acuan turun sekitar 11 persen menjadi sekitar 98 USD per barel pada satu titik sebelum naik kembali di atas angka 100 USD.
Harga saham global juga melonjak dan imbal hasil obligasi turun karena optimisme tentang berakhirnya perang yang telah mengganggu pasokan energi.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bermula dari eskalasi ketegangan yang meledak pada 28 Februari, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Iran.
Dalam serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dan kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, setelah mendapat persetujuan Majelis Ahli.
Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir AS–Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan. Sejak lama, Washington dan Tel Aviv menuduh Teheran tengah mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai.
Ketegangan tersebut dengan cepat berubah menjadi konflik terbuka. Iran merespons dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Di saat yang sama, Teheran juga menghentikan proses perundingan nuklir dan memberlakukan blokade di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global—yang memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran akan krisis energi dunia.
Memasuki hari ke-40 konflik, Amerika Serikat dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan yang mulai berlaku pada 8 April.
Gencatan senjata itu kemudian diperpanjang oleh Trump tanpa batas waktu yang jelas. Sejak 13 April, Amerika Serikat juga disebut telah menerapkan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di wilayah tersebut.
Pada 25 April, rencana AS untuk mengirim delegasi ke Islamabad guna membuka kembali negosiasi dibatalkan setelah Iran menolak dialog langsung.
Di tengah kebuntuan diplomasi, Iran terus menjalin komunikasi dengan Pakistan sebagai mediator untuk menyampaikan posisi dan tuntutannya sebagai syarat penghentian perang.
Pada 1 Mei, Teheran bahkan mengajukan proposal baru kepada Washington melalui perantara tersebut. Namun, prospek kelanjutan perundingan kembali terhambat setelah AS meluncurkan “Proyek Kebebasan” di Selat Hormuz, yang kembali memanaskan situasi di kawasan strategis itu.
Di tengah upaya perundingan, Trump mengumumkan pada hari Selasa, Proyek Kebebasan dan operasi militer AS di jalur air itu dihentikan untuk sementara hingga Iran dan AS menyelesaikan perundingan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.