Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Rusia Gelar Parade Militer Hari Kemenangan, tapi Tank dan Rudal Dibatasi

Rusia menggelar parade militer Hari Kemenangan di berbagai wilayah untuk memperingati kekalahan Nazi Jerman. Hal ini diperingati setiap 9 Mei.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Nuryanti
zoom-in Rusia Gelar Parade Militer Hari Kemenangan, tapi Tank dan Rudal Dibatasi
Telegram Kementerian Pertahanan Rusia
HARI KEMENANGAN RUSIA - Foto diunduh dari Telegram Kementerian Pertahanan Rusia, Sabtu (9/5/2026). Para anggota Dewan Kementerian Pertahanan Rusia meletakkan bunga dan karangan bunga di Makam Prajurit Tak Dikenal di dekat tembok Kremlin di Taman Alexander pada malam peringatan ke-81 Kemenangan dalam Perang Patriotik Besar, Jumat (8/5/2026) waktu setempat. 
Ringkasan Berita:
  • Rusia mulai menggelar peringatan Hari Kemenangan ke-81 dengan parade militer, pawai Resimen Abadi, dan konser di berbagai wilayah Timur Jauh hingga Moskow.
  • Di tengah perayaan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata Rusia-Ukraina selama 9–11 Mei serta pertukaran 1.000 tawanan perang dari masing-masing pihak.
  • Rusia juga memperkecil parade di Lapangan Merah dan tidak menampilkan tank maupun rudal besar karena ancaman serangan drone Ukraina.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.536 pada Sabtu (9/5/2026).

Rusia memulai rangkaian peringatan Hari Kemenangan untuk memperingati kemenangan Uni Soviet dan sekutunya dalam melawan Nazi Jerman pada Perang Dunia II.

Sejumlah wilayah Rusia Timur jauh telah lebih dulu mengadakan parade militer pada hari Jumat, (8/5/2026).

Parade militer tahunan utama dijadwalkan berlangsung di Lapangan Merah setelah pukul 10 pagi pada hari Jumat, tetapi berbagai perayaan dan kegiatan sudah berlangsung di Timur Jauh negara yang luas ini, yang membentang di 11 zona waktu.

Peringatan yang ke-81 tahun itu digelar untuk memberikan penghormatan kepada jutaan orang yang mengorbankan nyawa untuk mengalahkan Nazi Jerman.

Menurut pemerintah Rusia, setidaknya 27 juta orang di Uni Soviet tewas dalam perang yang mereka sebut "Perang Patriotik Besar".

Perayaan Hari Kemenangan ke-81 Rusia mulai digelar di berbagai wilayah Timur Jauh negara itu pada Jumat (9/5/2026), ditandai dengan parade militer, pawai Resimen Abadi, konser, hingga pertunjukan kembang api.

Rekomendasi Untuk Anda

Perayaan pertama dimulai di Petropavlovsk-Kamchatsky, wilayah paling timur Rusia, dengan sekitar 900 peserta dari unsur militer, polisi, penjaga perbatasan, hingga personel Kementerian Situasi Darurat berbaris di alun-alun utama kota.

Warga kemudian mengikuti pawai Resimen Abadi sambil membawa potret anggota keluarga yang pernah bertempur dalam Perang Patriotik Besar.

Di Vladivostok, sekitar 1.400 personel militer dan Armada Pasifik Rusia ikut ambil bagian dalam parade yang dipimpin Laksamana Viktor Liina.

Baca juga: Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Tiga Hari Rusia dan Ukraina

Upacara tersebut juga diwarnai penghormatan kepada para pelaut yang gugur selama Perang Dunia II serta tembakan salvo artileri saat lagu kebangsaan Rusia dikumandangkan.

Sementara itu, kota-kota lain seperti Khabarovsk, Sakhalin, dan Anadyr di wilayah Chukotka juga menggelar parade dan acara penghormatan bagi veteran perang.

Di Chukotka, perayaan bahkan menghadirkan pawai “Resimen Abadi” off-road pertama melintasi tundra bersalju menggunakan kendaraan Arktik.

Gubernur Sakhalin Valery Limarenko mengatakan Hari Kemenangan menjadi momen penting untuk mengenang pengorbanan para pejuang dan pekerja garis belakang selama perang.

“Kenangan kita akan para pahlawan akan hidup selamanya di hati kita,” ujarnya.

Rangkaian acara Hari Kemenangan di berbagai wilayah Rusia dijadwalkan berlangsung sepanjang hari dan ditutup dengan pertunjukan kembang api pada malam hari, seperti diberitakan Russia Today.

Trump Umumkan Gencatan Senjata 3 Hari Rusia-Ukraina

Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama tiga hari antara Rusia dan Ukraina yang berlaku pada 9–11 Mei 2026. Selain penghentian sementara pertempuran, kedua negara juga sepakat melakukan pertukaran masing-masing 1.000 tawanan perang.

Melalui platform Truth Social, Trump mengatakan kesepakatan itu disetujui Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Ia berharap langkah tersebut menjadi awal berakhirnya perang panjang yang telah berlangsung sejak 2022.

Pemerintah Rusia melalui ajudan Kremlin Yury Ushakov turut mengonfirmasi perpanjangan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan Moskow untuk peringatan Hari Kemenangan Rusia.

Rusia Kurangi Skala Parade Hari Kemenangan karena Ancaman Drone Ukraina

Rusia menggelar perayaan Hari Kemenangan 9 Mei dengan pengamanan ketat dan skala parade militer yang lebih kecil di tengah meningkatnya ancaman serangan drone Ukraina.

Untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, parade di Lapangan Merah Moskow tidak menampilkan tank dan rudal besar seperti biasanya.

Kremlin menyebut keputusan tersebut diambil karena situasi keamanan dan meningkatnya serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia, termasuk fasilitas minyak dan pangkalan militer.

Meski demikian, parade tetap menghadirkan personel militer, atraksi udara jet tempur, serta pemimpin negara sahabat seperti Presiden China Xi Jinping.

Para analis menilai Rusia khawatir terhadap dampak psikologis dan politik jika serangan drone terjadi saat parade berlangsung.

Di sisi lain, Ukraina memandang perayaan Hari Kemenangan versi Rusia sebagai simbol propaganda perang dan militerisasi di tengah konflik yang masih berlangsung, seperti diberitakan Al Jazeera.

Sejumlah Kepala Negara Hadiri Hari Kemenangan di Moskow

Sejumlah kepala negara dan delegasi asing mulai tiba di Moskow pada Kamis (8/5/2026) untuk menghadiri perayaan Hari Kemenangan ke-81 Rusia yang memperingati kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

Para tamu negara yang hadir di antaranya Presiden Republik Abkhazia Badra Gunba bersama istrinya, Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, serta Presiden Laos Thongloun Sisoulith.

Selain itu, Penguasa Tertinggi Malaysia Sultan Ibrahim, Perdana Menteri Slovakia Robert Fico, dan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev juga dilaporkan telah tiba di ibu kota Rusia.

Delegasi lain yang turut menghadiri perayaan tersebut berasal dari Ossetia Selatan dan Republika Srpska di Bosnia dan Herzegovina, termasuk Presiden Ossetia Selatan Alan Gagloyev, Presiden Republika Srpska Milorad Dodik, Ketua Majelis Nasional Republika Srpska Nenad Stevandic, serta Menteri Dalam Negeri Republika Srpska Sinisa Karan.

Menjelang perayaan utama di Lapangan Merah, Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyampaikan pesan khusus kepada para pemimpin negara-negara bekas Soviet dan sejumlah wilayah sekutu Rusia. Dalam pidatonya, Putin menegaskan pentingnya menjaga ingatan sejarah tentang pengorbanan jutaan warga Soviet dalam “Perang Patriotik Besar”.

“Kita menyampaikan rasa terima kasih kepada ayah dan kakek kita yang berjuang di garis depan dan bekerja tanpa lelah di garis belakang demi kemenangan atas Nazi,” kata Putin dalam press release di laman Kremlin, Jumat.

Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada para veteran perang dan pekerja garis belakang, serta menyerukan kepada masyarakat Georgia dan Moldova agar terus menjaga tradisi persahabatan dan solidaritas antarbangsa yang terjalin sejak Perang Dunia II.

Ukraina Gempur Rusia dengan Drone Jarak Jauh, Kremlin Khawatir Parade Hari Kemenangan Diserang

Rusia menggelar perayaan Hari Kemenangan tanpa parade tank dan rudal besar untuk pertama kalinya dalam hampir 20 tahun, di tengah kekhawatiran Kremlin terhadap potensi serangan drone Ukraina

Moskow memperketat keamanan menjelang peringatan kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman di Lapangan Merah.

Salah satu sosok yang disebut paling ditakuti Rusia saat ini adalah Robert Brovdi, komandan unit drone elite Ukraina “Madyar’s Birds”.

Dalam beberapa bulan terakhir, unit tersebut melancarkan serangan jarak jauh ke berbagai target strategis Rusia, termasuk pelabuhan, kilang minyak, pabrik rudal, hingga fasilitas militer jauh dari garis depan.

Brovdi mengatakan Ukraina kemungkinan tidak akan menyerang Lapangan Merah secara langsung karena pertahanan udara Moskow sangat kuat.

Menurutnya, serangan terhadap infrastruktur energi dan militer di wilayah pinggiran Rusia justru lebih efektif untuk melemahkan kemampuan perang Kremlin.

Drone Ukraina sebelumnya dilaporkan menyerang terminal minyak di Tuapse, pelabuhan Baltik, hingga kilang minyak di kawasan Ural.

Serangan-serangan tersebut disebut menyebabkan kerusakan besar dan mengganggu sektor energi Rusia yang menjadi sumber utama pembiayaan perang.

Brovdi menilai strategi drone jarak jauh dapat membantu Ukraina melemahkan ekonomi Rusia dan mengurangi kemampuan militernya.

Ia juga mengklaim pasukan Rusia terus mengalami kerugian besar setiap bulan, bahkan lebih besar daripada jumlah tentara baru yang berhasil direkrut Moskow.

Di tengah perang yang masih berlangsung, Ukraina disebut semakin berkembang sebagai kekuatan drone modern dengan dukungan sistem data dan teknologi tempur canggih.

Sementara itu, militer Ukraina juga mengklaim berhasil merebut kembali sejumlah wilayah di Zaporizhzhia dan Dnipropetrovsk dalam serangan balasan terbaru, lapor The Guardian.

Zelensky Izinkan Parade Hari Kemenangan Rusia Digelar di Moskow

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy secara resmi telah mengizinkan Rusia untuk mengadakan parade Hari Kemenangan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata selama tiga hari.

"Dengan mempertimbangkan berbagai permintaan, untuk tujuan kemanusiaan yang diuraikan selama negosiasi dengan pihak Amerika pada tanggal 8 Mei 2026, dengan ini saya menetapkan: Penyelenggaraan pawai di kota Moskow (Federasi Rusia) pada tanggal 9 Mei 2026 diizinkan," bunyi dekret yang dirilis Presiden Ukraina.

"Selama berlangsungnya parade (mulai pukul 10:00 waktu Kyiv pada tanggal 9 Mei 2026), wilayah Lapangan Merah akan dikecualikan dari rencana operasional penggunaan senjata Ukraina," lanjutnya.

Dekret tersebut secara spesifik mencantumkan koordinat Lapangan Merah.

Pada tanggal 8 Mei, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama tiga hari dalam perang antara Ukraina dan Rusia.

Zelenskyy kemudian mengumumkan pertukaran tahanan 1.000 banding 1.000 yang dijadwalkan pada 9 Mei dan mengkonfirmasi gencatan senjata 9-11 Mei dengan Rusia, lapor Pravda.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina resmi pecah pada 24 Februari 2022 setelah Rusia melancarkan invasi militer skala besar ke wilayah Ukraina. Namun, ketegangan antara kedua negara sebenarnya sudah berlangsung sejak bubarnya Uni Soviet yang membuat Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dengan arah politiknya sendiri.

Dalam perkembangannya, Ukraina semakin mendekat ke Barat melalui kerja sama yang lebih erat dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Rusia memandang langkah tersebut sebagai ancaman terhadap pengaruh dan keamanan strategisnya di kawasan Eropa Timur.

Ketegangan memuncak pada 2014 setelah Revolusi Maidan menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dianggap dekat dengan Moskow. Pada tahun yang sama, Rusia mengambil alih Krimea, sementara konflik bersenjata terjadi di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis pro-Rusia. Sejak saat itu, situasi keamanan di kawasan terus memburuk.

Berbagai upaya diplomatik sebenarnya telah dilakukan untuk meredakan konflik, termasuk melalui mediasi internasional, tetapi belum menghasilkan perdamaian jangka panjang. Kondisi akhirnya semakin memanas ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer pada Februari 2022 dengan alasan melindungi warga berbahasa Rusia serta menahan perluasan NATO di dekat perbatasan Rusia.

Sebagai respons, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi besar terhadap Rusia dan meningkatkan bantuan militer maupun keuangan kepada Ukraina. Hingga kini perang masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Di tengah situasi tersebut, jalur diplomasi tetap diupayakan. Amerika Serikat mencoba mengambil peran dalam proses mediasi, sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terus mendorong pembicaraan damai, termasuk membuka peluang keterlibatan Turki sebagai mediator.

Meski demikian, Kremlin menegaskan bahwa pertemuan langsung antara Putin dan Zelenskyy hanya dapat dilakukan jika sudah ada kesepakatan awal yang jelas. Sampai sekarang, proses menuju perdamaian masih menghadapi banyak hambatan.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas