Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Meski Tak Tampil di Publik, Intelijen AS Yakin Mojtaba Khamenei Terlibat dalam Strategi Perang Iran

Khamenei diyakini terlibat dalam strategi perang Iran meskipun tetap tidak tampil di depan publik setelah mengalami cedera selama perang.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Nuryanti
Ringkasan Berita:
  • Mojtaba Khamenei diyakini terlibat dalam membentuk strategi perang Iran.
  • Khamenei juga diyakini terlibat terkait negosiasi Iran dengan AS.
  • Khamenei diyakini terlibat meskipun tetap tidak tampil di depan publik setelah mengalami cedera selama perang.

TRIBUNNEWS.COM - Badan intelijen Amerika Serikat (AS) meyakini bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, terlibat dalam membentuk strategi perang Teheran dan negosiasi dengan Washington.

Diberitakan Anadolu Agency, Mojtaba Khamenei diyakini terlibat meskipun tetap tidak tampil di depan publik setelah mengalami cedera selama perang.

Sumber-sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS, mengatakan bahwa masih ada ketidakpastian mengenai seberapa besar otoritas yang saat ini dijalankan Khamenei dalam struktur kepemimpinan Iran setelah serangan dalam perang tersebut menewaskan beberapa pejabat senior, termasuk ayahnya yakni Ali Khamenei.

Para pejabat AS dilaporkan meyakini bahwa Mojtaba Khamenei terus berkomunikasi melalui kurir tepercaya dan kontak langsung saat pulih dari cedera yang meliputi luka bakar dan luka akibat pecahan peluru.

Sementara itu, para pejabat Iran bersikeras bahwa Mojtaba Khamenei pulih dengan baik.

Mazaher Hosseini, kepala protokol di kantor pemimpin tertinggi, mengatakan pada Jumat (8/5/2026) bahwa kondisi Khamenei telah membaik dan menepis spekulasi seputar kesehatannya.

Laporan juga menyebutkan bahwa penilaian intelijen AS menemukan kemampuan militer Iran telah melemah tetapi tidak sepenuhnya hilang akibat serangan Amerika, dengan banyak peluncur rudal yang masih beroperasi.

Rekomendasi Untuk Anda

Ditambahkan pula bahwa anggota senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf diyakini menangani sebagian besar operasi harian pemerintah, sementara upaya diplomatik dengan pemerintahan Trump terus berlanjut.

Trump Tegaskan Gencatan Senjata Masih Berlaku

Pasukan AS dan Iran bentrok di Teluk, dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali diserang, membahayakan gencatan senjata yang telah berlangsung selama sebulan dan mengguncang harapan akan solusi diplomatik untuk krisis tersebut.

Peningkatan intensitas pertempuran terjadi ketika Washington menunggu tanggapan dari Teheran atas proposalnya untuk mengakhiri konflik, yang dimulai dengan serangan udara gabungan AS-Israel di seluruh Iran pada 28 Februari 2026.

Baca juga: Trump Ancam Proyek Kebebasan Lanjut jika Kesepakatan dengan Iran Tak Tercapai: Project Freedom Plus

Presiden AS Donald Trump mengatakan tiga kapal perusak Angkatan Laut AS diserang saat mereka melintasi selat tersebut, jalur bagi sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair dunia yang hampir sepenuhnya ditutup oleh Iran sejak konflik dimulai.

“Tiga kapal perusak Amerika kelas dunia baru saja berhasil melewati Selat Hormuz, di bawah tembakan musuh."

"Tidak ada kerusakan pada ketiga kapal perusak tersebut, tetapi kerusakan besar dialami oleh penyerang Iran,” ungkap Trump di Truth Social, Kamis (7/5/2026).

Trump kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa gencatan senjata masih berlaku dan berusaha untuk mengecilkan insiden tersebut.

“Mereka mempermainkan kita hari ini. Kita menghancurkan mereka,” kata Trump di Washington.

Dilansir Al Arabiya, komando militer gabungan tertinggi Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran dan kapal lainnya, serta melakukan serangan udara terhadap daerah sipil di Pulau Qeshm di selat dan daerah pesisir terdekat.

Militer mengatakan mereka menanggapi dengan menyerang kapal-kapal militer AS di sebelah timur selat dan selatan pelabuhan Chabahar.

Seorang juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengatakan serangan Iran menimbulkan "kerusakan signifikan," tetapi Komando Pusat AS mengatakan tidak ada aset mereka yang terkena serangan.

PIDATO TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberikan pidato perdananya soal perang di Iran pada Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat.
PIDATO TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberikan pidato perdananya soal perang di Iran pada Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat. (YouTube Associated Press)

Press TV Iran kemudian melaporkan bahwa, setelah beberapa jam terjadi baku tembak, “situasi di pulau-pulau dan kota-kota pesisir Iran di Selat Hormuz kini kembali normal.”

Kedua pihak sesekali saling baku tembak sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 7 April, dengan Iran menyerang target di negara-negara Teluk termasuk Uni Emirat Arab.

Di sisi lain, sejak perang dimulai, Iran sering menargetkan UEA dan negara-negara Teluk lainnya, yang menjadi lokasi pangkalan AS.

Trump mengisyaratkan bahwa pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Teheran tetap sesuai rencana meskipun terjadi permusuhan pada hari Kamis, dengan mengatakan kepada wartawan, "Kami sedang bernegosiasi dengan Iran."

Baca juga: Aktivitas Misterius di Dekat Fasilitas Nuklir Natanz Iran: Pintu Terowongan Rahasia Tertutup Tanah

Sebelum serangan terbaru, AS telah mengemukakan proposal yang secara resmi akan mengakhiri konflik tersebut, tetapi tidak membahas tuntutan utama AS agar Iran menangguhkan program nuklirnya dan membuka kembali selat tersebut.

Teheran mengatakan belum mengambil keputusan mengenai rencana yang sedang disusun itu.

Meskipun demikian, Trump mengatakan Teheran telah mengakui tuntutannya bahwa Iran tidak akan pernah bisa mendapatkan senjata nuklir, sebuah larangan yang menurutnya telah dijelaskan secara rinci dalam proposal AS.

“Tidak ada peluang sama sekali. Dan mereka tahu itu, dan mereka telah menyetujuinya. Mari kita lihat apakah mereka bersedia menandatanganinya,” kata Trump.

Ketika ditanya kapan kesepakatan mungkin tercapai, Trump berkata, “Mungkin tidak akan terjadi, tetapi bisa terjadi kapan saja. Saya percaya mereka lebih menginginkan kesepakatan daripada saya.”

Perang tersebut telah menguji hubungan Trump dengan basis pendukungnya di AS, setelah ia berkampanye menentang keterlibatan Amerika Serikat dalam perang asing dan berjanji untuk menurunkan harga bahan bakar.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

Berita lain terkait Iran Vs Amerika Memanas

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas