AS Danai Israel Rp60 T per Tahun, Netanyahu Mau Akhiri Ketergantungan
AS memberikan dana 3,8 miliar USD (Rp60 T) per tahun kepada militer Israel. Netanyahu menilai Israel harus mengurangi ketergantungan terhadap AS.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menyatakan ingin mengurangi hingga menghentikan bantuan keuangan Amerika Serikat dalam 10 tahun ke depan.
- Saat ini, Israel masih menerima bantuan militer sekitar 3,8 miliar dolar AS per tahun dari Washington berdasarkan perjanjian kedua negara.
- Meski demikian, Netanyahu menilai Israel harus mandiri di bidang pertahanan dan tidak terus bergantung pada dana AS.
TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan keinginannya untuk mengakhiri ketergantungan negaranya pada bantuan keuangan Amerika Serikat dalam satu dekade ke depan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan program televisi CBS News, 60 Minutes, di tengah meningkatnya sorotan terhadap hubungan Washington dan Tel Aviv serta menurunnya dukungan publik Amerika terhadap Israel.
Dalam wawancara itu, Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya telah menyampaikan langsung rencana tersebut kepada Presiden AS Donald Trump maupun kepada masyarakat Israel.
“Saya ingin mengurangi dukungan keuangan Amerika hingga nol, komponen keuangan dari kerja sama militer yang kita miliki,” ujar Netanyahu, Minggu (10/5/2026).
Ia menegaskan bahwa proses tersebut seharusnya “dimulai sekarang” dan ditargetkan selesai dalam sepuluh tahun ke depan.
Israel Masih Menerima Bantuan AS
Saat ini AS memberikan bantuan militer sekitar 3,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp60 triliun per tahun kepada Israel.
Bantuan itu sebagian besar digunakan untuk membeli persenjataan buatan Amerika dan menjadi bagian dari perjanjian kerja sama pertahanan jangka panjang yang diteken pada 2016.
Dalam kesepakatan tersebut, Washington berkomitmen memberikan total bantuan militer sebesar 38 miliar dolar AS hingga tahun 2028, termasuk 5 miliar untuk sistem pertahanan rudal Iron Dome.
Israel sendiri merupakan penerima bantuan luar negeri terbesar dari Amerika Serikat sejak Perang Dunia II.
Baca juga: WSJ: Israel Dirikan Pangkalan Militer Rahasia di Gurun Irak untuk Operasi Lawan Iran
Sejak berdiri pada 1948 di wilayah Palestina yang diduduki, Israel telah menerima lebih dari 300 miliar dolar AS dalam bentuk bantuan ekonomi dan militer dari Washington.
Bantuan Amerika disebut mencakup sekitar 16 persen dari total anggaran militer Israel.
Meski demikian, Netanyahu menilai sudah waktunya Israel mulai mandiri secara finansial di bidang pertahanan.
“Saya pikir sudah saatnya kita melepaskan diri dari dukungan militer yang tersisa,” katanya.
Pernyataan Netanyahu muncul di tengah situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah, terutama setelah konflik berkepanjangan di Gaza serta meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran.
Dalam wawancara yang sama, Netanyahu juga menyoroti menurunnya dukungan publik Amerika terhadap Israel.
Berdasarkan survei terbaru Pew Research, enam dari sepuluh warga Amerika kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel, meningkat tajam dibanding beberapa tahun terakhir.
Namun, Netanyahu menolak anggapan bahwa perang di Jalur Gaza menjadi penyebab utama perubahan opini publik tersebut.
Ia justru menuding adanya manipulasi di media sosial yang dilakukan pihak tertentu untuk melemahkan simpati warga Amerika terhadap Israel.
“Israel terkepung di bidang media dan propaganda. Ada beberapa negara yang memanipulasi media sosial menggunakan bot farm dan akun palsu untuk mematahkan simpati Amerika terhadap Israel,” ujarnya, seperti diberitakan Russia Today.
Serangan Israel di Jalur Gaza sendiri telah menewaskan lebih dari 71 ribu warga Palestina sejak 7 Oktober 2023.
Agresi militer Israel di Jalur Gaza, Lebanon, hingga Iran juga menuai kritik luas, termasuk dari sejumlah tokoh publik dan politikus Amerika Serikat.
Pada Maret lalu, Senator AS Bernie Sanders bahkan mengajukan resolusi untuk memblokir penjualan senjata hampir 660 juta dolar AS kepada Israel.
Bernie Sanders menyebut mayoritas pemilih Partai Demokrat dan kalangan independen menolak pengiriman senjata Amerika ke Israel di tengah konflik yang terus berlangsung.
Netanyahu Mengulangi Pernyataannya
Pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai rencana mengurangi hingga menghentikan bantuan keuangan Amerika Serikat ternyata bukan hal baru.
Dalam beberapa bulan terakhir, Netanyahu berulang kali menyampaikan keinginannya agar Israel tidak lagi bergantung pada dana militer dari Washington.
Pada Januari 2026, Netanyahu mulai menyinggung hal tersebut dalam sejumlah wawancara media Israel dan internasional.
Ia menyebut Israel harus menjadi negara yang lebih mandiri di bidang pertahanan dan tidak selamanya bergantung pada bantuan luar negeri.
Saat itu, ia mengatakan Israel memiliki kemampuan ekonomi dan industri militer yang cukup kuat untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap bantuan Amerika secara bertahap.
Pernyataan serupa kembali disampaikan Netanyahu dalam berbagai forum sepanjang Februari hingga April 2026.
Dalam salah satu pidatonya di Yerusalem pada Februari lalu, ia menegaskan bahwa Israel perlu “melepaskan diri” dari komponen bantuan finansial AS dalam kerja sama militer kedua negara.
Netanyahu bahkan menyebut proses tersebut sebaiknya dimulai sekarang dan ditargetkan selesai dalam satu dekade mendatang, seperti diberitakan The Jerusalem Post.
Pada Mei 2025, sejumlah media Israel melaporkan Netanyahu mengatakan bahwa Israel perlu mulai “melepaskan diri” dari bantuan militer Washington secara bertahap, meski negara itu masih menerima sekitar 4 miliar dolar AS per tahun untuk pembelian senjata dan kebutuhan pertahanan.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan hubungan antara Netanyahu dan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Beberapa laporan media menyebut Washington mulai kecewa terhadap kebijakan Israel terkait perang Gaza, Iran, hingga penanganan bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina, dikutip dari Anadolu Agency.
Pada periode yang sama, Netanyahu juga mengakui bahwa Israel menghadapi tekanan internasional yang semakin besar akibat situasi kemanusiaan di Gaza.
Dalam salah satu pernyataannya pada Mei 2025, ia mengatakan Israel harus mengizinkan bantuan masuk ke Gaza karena sekutu-sekutu terdekatnya tidak bisa terus mendukung Israel jika muncul gambar kelaparan massal dari wilayah tersebut.
Meski belum berbentuk kebijakan resmi saat itu, ucapan Netanyahu pada Mei 2025 kini dianggap sebagai sinyal awal dari rencananya untuk mengurangi ketergantungan Israel terhadap bantuan militer AS, seperti diberitakan Reuters.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.