Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

5 Populer Internasional: 13 Negara Terdampak Hantavirus dari Kapal Pesiar - F-35 AS Kirim Sinyal SOS

Rangkuman berita populer internasional, di antaranya WHO mengonfirmasi enam kasus hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
  • WHO mengonfirmasi enam kasus hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius dengan tiga korban meninggal dunia.
  • Penumpang dari 13 negara kini dipantau karena risiko penyebaran virus. 
  • Jet tempur siluman F-35 AS mengirim sinyal darurat di dekat Selat Hormuz.

TRIBUNNEWS.COM - Rangkaian peristiwa internasional menjadi sorotan dalam 24 jam terakhir.

WHO mengonfirmasi enam kasus hantavirus terkait kapal pesiar MV Hondius dengan tiga korban meninggal dunia.

Penumpang kapal yang berasal dari sedikitnya 13 negara kini dipantau untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

Sementara itu, jet tempur siluman F-35 Lightning II milik AS mengirimkan sinyal darurat "7700" saat melintas di atas Laut Oman dekat Selat Hormuz pada Minggu, 10 Mei 2026.

Berikut berita populer internasional selengkapnya.

1. 13 Negara yang Terdampak Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Indonesia Termasuk?

Enam dari delapan kasus dugaan hantavirus yang terkait dengan kapal pesiar MV Hondius kini telah dikonfirmasi, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam konferensi pers, Minggu (10/5/2026).

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan ancaman kesehatan masyarakat yang lebih luas akibat wabah tersebut masih tergolong rendah.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menambahkan WHO juga menerima laporan adanya pasien lain dan kemungkinan jumlah kasus akan bertambah mengingat masa inkubasi virus tersebut.

Situasi ini terjadi ketika para penumpang turun dari kapal yang terjangkit virus untuk kembali ke negara asal masing-masing, di mana banyak dari mereka diminta menjalani isolasi.

Negara-negara di seluruh dunia kini berupaya mencegah penyebaran virus lebih lanjut dengan melacak penumpang yang telah turun dari kapal sebelum virus terdeteksi, serta siapa pun yang melakukan kontak erat dengan mereka setelah itu.

Sejauh ini, tiga orang meninggal dunia di MV Hondius, yakni pasangan asal Belanda dan seorang warga negara Jerman.

WHO menyebut delapan orang, termasuk seorang warga negara Swiss, diduga tertular virus tersebut. Hantavirus biasanya menyebar melalui hewan pengerat, tetapi dalam kasus yang jarang terjadi dapat menular antarmanusia.

Enam dari delapan kasus tersebut telah dikonfirmasi sebagai hantavirus pada Jumat (8/5/2026).

Orang-orang yang kemungkinan terpapar virus kini tersebar di berbagai negara, setelah penumpang dari sedikitnya 12 negara turun di St Helena, Samudra Atlantik Selatan, saat kapal singgah pada 24 April 2026.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. Klaim Donald Trump Telah Kalahkan Iran Dipatahkan Ancaman Sabotase Kabel Bawah Laut

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran telah “kalah secara militer” dan menyebut operasi Washington terhadap Teheran hampir selesai. Namun di lapangan, situasinya justru memperlihatkan hal sebaliknya. 

Di tengah klaim kemenangan AS, ancaman Iran terhadap jalur komunikasi dan ekonomi global malah semakin meningkat, terutama lewat potensi sabotase kabel bawah laut di Selat Hormuz dan Laut Merah.

Kontradiksi itu muncul ketika Trump dalam wawancara dengan jurnalis investigasi Sharyl Attkisson mengatakan Amerika Serikat sudah menghantam sekitar 70 persen target militer Iran dan bahkan bisa menyerang seluruh target tersisa hanya dalam dua pekan. 

Tetapi pada saat yang sama, Washington dan sekutunya justru menghadapi kekhawatiran baru bahwa Iran masih memiliki kemampuan besar untuk melumpuhkan sistem internet, transaksi keuangan, hingga komunikasi militer dunia tanpa harus bertempur secara terbuka.

Bahkan dalam wawancara tersebut, Trump kembali mengungkit "dosa" NATO yang dinilai tidak membantu operasi melawan Iran

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa meski AS mengklaim unggul secara militer, Washington tetap menghadapi keterbatasan dukungan internasional dan belum sepenuhnya mampu mengendalikan eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia.

“Mereka sudah kalah secara militer. Mungkin dalam pikiran mereka sendiri mereka belum menyadarinya. Tapi saya rasa mereka tahu,” kata Trump dalam wawancara yang ditayangkan Minggu waktu setempat.

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. F-35 AS Kirim Sinyal SOS di Langit Hormuz, Iran Klaim Bukan 'Masalah Teknis', CENTCOM Masih Bungkam

Jet tempur siluman F-35 Lightning II milik Amerika Serikat dilaporkan mengirimkan sinyal darurat saat melintas di atas Laut Oman, dekat Selat Hormuz, Minggu (10/5/2026). 

Insiden itu langsung memicu spekulasi bahwa pesawat generasi kelima tersebut kemungkinan terkena serangan Iran di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk.

Berdasarkan data pelacak penerbangan internasional, jet tempur generasi kelima itu memancarkan kode transponder "7700", yang merupakan sinyal universal untuk keadaan darurat umum (general emergency). 

Sinyal tersebut terdeteksi saat pesawat berada di dekat wilayah Semenanjung Arab, sebuah area yang kini menjadi zona panas akibat penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran terhadap lalu lintas kapal-kapal yang dianggap bermusuhan.

Pihak Teheran melalui media pemerintah dan saluran militer segera mengklaim bahwa gangguan pada sistem F-35 tersebut bukanlah kecelakaan teknis semata. 

"Unit pertahanan udara kami terus memantau setiap pergerakan aset asing yang mencoba melanggar batas kedaulatan atau melakukan manuver provokatif di zona identifikasi pertahanan udara kami," ujar seorang pejabat militer Iran dalam laporan yang dikutip dari WION.

Lebih lanjut, pihak Iran memberikan indikasi bahwa status darurat jet tempur tersebut berkaitan dengan sistem pertahanan elektronik atau kinetik yang mereka miliki. 

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Donald Trump Tolak Respons Iran atas Proposal Gencatan Senjata, Harga Minyak Naik

Presiden AS Donald Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian dan menyebutnya sama sekali tidak dapat diterima.

Sebelumnya, Iran telah menyerahkan jawaban atas proposal AS melalui mediator Pakistan.

Kantor berita semi-resmi Tasnim, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, melaporkan pada Minggu (10/5/2026) malam bahwa teks usulan Iran untuk negosiasi menekankan perlunya pencabutan sanksi AS, penghentian blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz setelah penandatanganan nota kesepahaman awal, serta diakhirinya perang dengan jaminan tidak ada serangan baru terhadap Iran.

AS sebelumnya mengajukan proposal perdamaian sekitar sepekan lalu.

Proposal itu dilaporkan berupa nota kesepahaman satu halaman berisi 14 poin yang akan membuka kembali Selat Hormuz sekaligus menetapkan kerangka pembicaraan lanjutan mengenai program nuklir Iran.

Parameter AS dalam perundingan nuklir dilaporkan mencakup moratorium pengayaan nuklir Iran hingga 20 tahun, pemindahan persediaan uranium yang sangat diperkaya (HEU) Iran ke luar negeri (kemungkinan ke AS), serta pembongkaran fasilitas nuklir Iran.

Menurut Wall Street Journal, proposal balasan Iran mengusulkan moratorium yang lebih singkat, ekspor sebagian persediaan HEU dan pengenceran sisanya, serta penolakan terhadap pembongkaran fasilitas nuklir.

Trump kemudian menanggapi dengan mengatakan, “Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut ‘perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak dapat diterima.”

Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengunggah pernyataan panjang di platform Truth Social yang menuduh Iran telah mempermainkan Amerika Serikat dan dunia selama 47 tahun.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. Ngotot Ingin Bongkar Nuklir Iran, AS Malah Ditantang Rusia, Singgung Perjanjian NPT

Tantangan terbuka diungkapkan Perwakilan Tetap Rusia untuk Organisasi Internasional, Mikhail Ulyanov kepada Amerika Serikat (AS).

Tantangan itu disampaikan Ulyanov setelah muncul tuntutan AS terhadap nuklir Iran.

Dalam tuntutan tersebut, AS meminta Iran untuk membongkar fasilitas nuklirnya.

Menurut Ulyanov, permintaan AS terhadap Iran merupakan pelanggaran Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Diplomat Rusia ini bahkan mempertanyakan logika di balik sikap Washington, setelah Iran menolak proposal AS.

"Mengapa Iran harus menerima tuntutan AS ini?" katanya, mengutip WANA News Agency.

Berdasarkan Pasal IV perjanjian NPT, semua negara penandatangan memiliki hak yang tidak dapat dicabut untuk mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai, termasuk pengayaan.

"Sepertinya Washington sama sekali tidak peduli untuk menjaga integritas rezim non-proliferasi nuklir," tegas Ulyanov.

Sementara itu, para analis menilai langkah AS ini sebagai upaya "pemaksaan sepihak" yang justru dapat merusak tatanan verifikasi global.

Jika AS terus memaksakan pembongkaran fasilitas sipil, hal ini dikhawatirkan akan memicu Iran untuk benar-benar keluar dari keanggotaan NPT, yang justru akan memperkeruh stabilitas keamanan di Timur Tengah.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas