Presiden Iran Masih Bersedia Negosiasi dengan AS, tetapi Tak Percaya Penuh
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran siap melanjutkan negosiasi meski kepercayaan terhadap AS telah berkurang.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negosiasi dengan AS masih mungkin, meski tingkat kepercayaan rendah.
- Ketua Parlemen Iran menegaskan Teheran akan merespons setiap tindakan agresi.
- Ketegangan meningkat setelah AS menolak proposal Iran, sementara isu utama masih seputar program nuklir Iran dan Selat Hormuz.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pintu negosiasi masih terbuka, walaupun tingkat kepercayaan terhadap Amerika Serikat masih rendah.
"Teheran menganggap negosiasi dengan Amerika Serikat mungkin dilakukan, meskipun ada kurangnya kepercayaan terhadap negara tersebut," kata Pezeshkian dalam pernyataan kantor media kepresidenan Iran, Selasa (12/5/2026).
Namun, ia menegaskan Iran harus tetap menguatkan capaian yang telah diperoleh, baik di bidang militer maupun diplomasi.
Juru pemerintah Iran menegaskan Teheran tetap siaga di tengah perundingan dan gencatan senjata yang berlangsung.
"Kami tetap siaga, tetapi fokus kami tetap pada perdamaian yang berkelanjutan," kata juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani.
Ia juga mengindikasikan bahwa pihak berwenang Iran berkomitmen pada jalur diplomasi dan solusi yang didasarkan pada kepentingan negara dan rakyat Iran, menurut laporan kantor berita NASA.
Ketua Parlemen Iran Memperingatkan AS
Pernyataan Presiden Iran muncul di tengah meningkatnya tekanan politik dari dalam negeri Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan Amerika Serikat agar menerima proposal 14 poin yang diajukan Teheran untuk mengakhiri konflik, atau menghadapi kegagalan dalam proses perundingan.
"Angkatan bersenjata kita siap memberikan respons peringatan terhadap setiap tindakan agresi. Strategi yang salah dan keputusan yang keliru pasti akan berujung pada hasil yang mengerikan—sebuah kenyataan yang telah lama diakui dunia. Kita siap menghadapi semua skenario; mereka akan terkejut," tulis Qalibaf.
Baca juga: Iran Naik Pitam! Ancam Beri Pelajaran Tak Terlupakan ke AS Usai Tolak Proposal Perdamaian
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak tanggapan Iran terhadap proposal terbaru Washington.
Ia menyebut situasi gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April berada dalam kondisi “sangat rapuh”.
Iran sendiri menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur dari posisi terkait program nuklir maupun kebijakan di Selat Hormuz.
Teheran juga meminta agar perang dihentikan di semua lini, termasuk di Lebanon, serta menuntut pencabutan blokade laut AS dan pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Menurut laporan, proposal terbaru Amerika Serikat berisi kerangka awal untuk menghentikan pertempuran dan membuka jalan negosiasi lanjutan dalam 30 hari, khususnya terkait program nuklir Iran.
Salah satu titik paling krusial dalam perundingan adalah persediaan uranium Iran yang telah diperkaya tinggi, seperti diberitakan Al Arabiya.
Amerika Serikat meminta material tersebut dipindahkan keluar dari Iran, namun permintaan ini ditolak oleh Teheran yang tetap bersikeras bahwa mereka berhak menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai.
Iran juga menyatakan bahwa tingkat pengayaan uranium masih bisa dibicarakan dalam perundingan, tetapi tidak untuk diserahkan sepenuhnya.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 setelah AS dan Israel menyerang sejumlah fasilitas strategis di Iran, hanya dua hari setelah kegagalan perundingan nuklir di Jenewa.
AS dan Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran menegaskan programnya bersifat damai untuk energi dan penelitian.
Dalam serangan awal, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dan digantikan oleh Mojtaba Khamenei.
Konflik kemudian meluas setelah Iran membalas dengan menyerang Israel serta beberapa pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk di negara-negara Teluk.
Iran juga menghentikan negosiasi nuklir dan membatasi pelayaran di Selat Hormuz yang memicu gangguan energi global.
Setelah sekitar 40 hari perang, kedua pihak menyepakati gencatan senjata sementara pada 8 April 2026 yang kemudian diperpanjang, meski ketegangan tetap berlanjut.
Upaya mediasi melalui Pakistan masih berjalan, termasuk pertukaran proposal damai.
Namun situasi kembali memanas setelah AS meluncurkan operasi “Project Freedom” di Selat Hormuz yang kemudian sempat dihentikan untuk membuka ruang diplomasi.
Pada 10–11 Mei 2026, negosiasi kembali gagal setelah Iran menolak proposal AS, memicu pembahasan opsi militer baru oleh Washington, termasuk serangan udara lanjutan dan pengaktifan kembali operasi di Selat Hormuz.
Terkait uranium Iran, Israel mendukung ambisi Trump untuk merebut dan memindahkannya dari Iran, salah satu hal yang ditolak oleh Iran karena menganggap itu bukan bagian dari proposal yang mereka ajukan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.