Bukan Hanya UEA, Arab Saudi Juga Dilaporkan Lancarkan Serangan Rahasia ke Iran
Reuters melaporkan Arab Saudi diduga melancarkan serangan rahasia terhadap Iran pada akhir Maret.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
- Reuters melaporkan Arab Saudi diduga melancarkan serangan rahasia terhadap Iran pada akhir Maret.
- The Wall Street Journal sebelumnya juga menyebut UEA melakukan serangan terselubung terhadap Iran.
- Ketegangan ini meningkatkan risiko negara-negara Teluk terseret lebih jauh dalam konflik Iran dan AS-Israel.
TRIBUNNEWS.COM - Arab Saudi dilaporkan melancarkan serangkaian serangan udara “terselubung” terhadap Iran pada akhir Maret sebelum mengancam negara tersebut, dengan agresi lebih lanjut.
Reuters memuat laporan itu pada Selasa (12/5/2026), mengutip seorang pejabat Barat yang menyebut serangan itu, sebagai serangan balasan.
Reuters tidak dapat memastikan target spesifik dari serangan tersebut.
Sementara itu, Reuters juga mengutip seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Arab Saudi yang kembali menegaskan sikap resmi Riyadh untuk mendorong deeskalasi, pengendalian diri, dan pengurangan ketegangan demi menjaga stabilitas, keamanan, dan kemakmuran kawasan.
Para pejabat Barat yang dikutip dalam laporan tersebut mengatakan Arab Saudi juga disebut mengizinkan wilayahnya digunakan secara luas oleh Amerika Serikat untuk menargetkan Iran selama serangan perang Amerika-Israel terhadap Republik Islam tersebut.
Angkatan Bersenjata Iran merespons dengan melancarkan sedikitnya 100 gelombang serangan balasan terhadap target-target Amerika di kawasan, termasuk di Arab Saudi dan sejumlah negara Arab lain di sepanjang Teluk Persia.
Iran sebelumnya telah memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak terlibat dalam agresi tersebut.
Baca juga: WSJ Ungkap UEA Diam-Diam Luncurkan Serangan Rahasia ke Wilayah Iran
Iran menegaskan, keberadaan pangkalan militer asing justru membuat kawasan semakin tidak aman.
Sebelumnya, pada Senin (11/5/2026), The Wall Street Journal juga melaporkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) melakukan serangkaian serangan rahasia terhadap Iran selama agresi Amerika-Israel berlangsung.
Mengutip sumber anonim yang mengetahui masalah tersebut, surat kabar itu menyebut salah satu serangan menargetkan kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, pada awal April.
Salah satu sumber yang dikutip The Wall Street Journal mengatakan Amerika Serikat diam-diam menyambut kontribusi UEA dalam agresi tersebut.
Laporan itu muncul di tengah tuduhan berulang dari pejabat UEA terhadap Iran yang disebut sengaja menargetkan negara mereka tanpa alasan.
Iran dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan menekankan bahwa serangan balasannya hanya ditujukan pada target musuh di wilayah Emirat.
Serangan Rahasia UEA Berisiko Seret Negara Teluk ke Dalam Perang
Risiko sejumlah negara Teluk terseret ke dalam perang langsung dengan Iran meningkat setelah muncul laporan bahwa UEA diam-diam melancarkan serangan besar terhadap Iran selama konflik berlangsung.
Selain itu, seperti dilansir Guardian, Kuwait mengatakan sedikitnya empat anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran ditangkap karena diduga mencoba melakukan serangan di Pulau Bubiyan, pulau terbesar di wilayah pesisir Kuwait.
Serangan UEA terhadap Iran, termasuk serangan ke Pulau Lavan menjelang pengumuman gencatan senjata 7 April, dilaporkan oleh The Wall Street Journal.
Laporan tersebut, dinilai dapat membuat UEA menjadi target yang lebih jelas bagi Iran jika gencatan senjata gagal dipertahankan dan konflik kembali pecah.
Ketegangan antara UEA dan Iran juga dipengaruhi perbedaan ideologi yang telah berlangsung lama, termasuk keputusan UEA menandatangani Perjanjian Abraham yang menormalisasi hubungan dengan Israel.
UEA juga merasa negaranya menjadi sasaran gangguan Iran akibat hubungan tersebut.
Salah satu gangguan yang telah dikonfirmasi adalah penutupan hampir dua tahun pabrik gas terbesar UEA akibat serangan Iran bulan lalu.
Pemilik fasilitas itu, Adnoc Gas, mengatakan pabrik tersebut baru akan sepenuhnya pulih pada tahun depan.
Perusahaan menargetkan kapasitas pengolahan fasilitas tersebut kembali mencapai 80 persen pada akhir 2026 dan pulih sepenuhnya pada 2027.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump berangkat ke Beijing pada Selasa (12/5/2026) sore untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping.
Dilansir Al Jazeera, Trump mengatakan akan melakukan pembicaraan panjang tentang Iran dengan pemimpin China tersebut, tetapi perdagangan akan menjadi fokus utama.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan perang AS-Israel terhadap Iran adalah perang antara "rakyat yang bangga" dan "pembohong profesional yang mengarang pembenaran atas kekejaman".
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.