Iran Murka, Ancam Gempur Armada Perang Inggris dan Prancis jika Nekat Masuk Selat Hormuz
Iran mengancam akan menggempur armada Inggris-Prancis jika nekat masuk Selat Hormuz.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Iran ultimatum Inggris dan Prancis terkait rencana pengerahan kapal perang ke Selat Hormuz. Teheran ancam kehadiran armada asing akan dibalas dengan respons cepat.
- Inggris tetap melanjutkan pengerahan alutsista modern termasuk kapal perusak HMS Dragon, jet tempur Typhoon, sistem anti-drone, untuk misi pengamanan jalur pelayaran Selat Hormuz.
- Presiden Emmanuel Macron membantah Prancis akan mengirim kapal perang tempur ke Selat Hormuz. Paris memilih kerja sama keamanan maritim internasional.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melontarkan ultimatum keras kepada pemerintah Inggris dan Prancis tentang rencana pengerahan kapal perang ke Selat Hormuz.
Pemerintah Iran memperingatkan bahwa setiap kehadiran kapal perang asing di jalur pelayaran strategis tersebut akan dianggap sebagai bentuk eskalasi militer dan dapat memicu respons cepat dari angkatan bersenjata Iran.
Peringatan itu muncul setelah Inggris mengumumkan kesiapan mengirim kapal perang untuk mendukung misi internasional pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang belakangan menjadi pusat ketegangan dunia.
Dalam keterangan resmi yang dikutip media IranWire, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa pengerahan kapal perang Inggris maupun Prancis ke kawasan tersebut akan mendapat “tanggapan tegas dan segera” dari militer Iran.
Melalui unggahannya di media sosial X, Gharibabadi menilai pengerahan kapal-kapal militer asing dengan dalih menjaga keamanan pelayaran justru berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan Teluk Persia.
Menurut Iran, langkah negara-negara Barat itu bukan semata misi perlindungan jalur perdagangan internasional, melainkan bentuk militerisasi di salah satu jalur laut paling strategis di dunia yang dapat memicu konflik lebih besar di Timur Tengah.
Iran juga menegaskan bahwa Selat Hormuz bukan wilayah yang dapat dikendalikan oleh negara-negara di luar kawasan.
Pemerintah di Teheran menyebut pengaturan keamanan dan hukum jalur pelayaran tersebut merupakan hak negara-negara pantai, termasuk Iran sebagai salah satu pihak utama di kawasan Teluk Persia.
HMS Dragon dan Jet Tempur Inggris Bergerak
Meski mendapat kecaman keras dari Iran, Kementerian Pertahanan Inggris nekat melanjutkan rencana pengerahan sejumlah alutsista modern ke Timur Tengah sebagai bagian dari misi pengamanan jalur pelayaran internasional.
Selain mengirim kapal perusak HMS Dragon milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris, London juga menyiapkan sistem anti-drone, kapal pemburu ranjau tanpa awak, hingga jet tempur Typhoon untuk memperkuat operasi di kawasan strategis tersebut.
"Inggris akan mengerahkan peralatan pemburu ranjau otonom dan sistem anti-drone canggih, bersama dengan jet Typhoon dan HMS Dragon, sebagai bagian dari misi pertahanan masa depan untuk mengamankan kebebasan navigasi di Selat Hormuz," kata Kemhan Inggris.
Baca juga: Mulai Misi Militer di Selat Hormuz, Inggris Kirim Drone, Jet Tempur, dan Kapal Perang
Pemerintah Inggris menyebut pengerahan itu merupakan bagian dari misi multinasional bersama Prancis guna memastikan kebebasan navigasi dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pusat ketegangan dunia.
Sebagai bentuk kesiapan operasi, London bahkan mengalokasikan anggaran sebesar 115 juta pound sterling atau sekitar Rp2,7 triliun untuk memperkuat sistem pesawat nirawak dan perlengkapan keamanan maritim.
Prancis Bantah Akan Kerahkan Kapal Perang
Berbanding terbalik dengan sikap Inggris, Presiden Prancis Emmanuel Macron justru membantah laporan yang menyebut Prancis akan mengerahkan kapal perang langsung ke Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Pernyataan itu disampaikan Macron setelah Teheran mengeluarkan ancaman keras terhadap Prancis dan Inggris tentang kemungkinan pengerahan militer Barat ke jalur pelayaran strategis tersebut.
Ketika berbicara saat kunjungan resmi ke Kenya, Macron menegaskan bahwa Paris “tidak pernah membayangkan” mengirim pasukan Angkatan Laut untuk melakukan operasi tempur langsung di Selat Hormuz.
Menurut Macron, pembahasan yang berlangsung saat ini lebih difokuskan pada misi keamanan maritim internasional guna memastikan jalur pelayaran tetap aman dan terbuka bagi perdagangan global.
Ia juga menekankan bahwa setiap langkah keamanan yang dilakukan Prancis akan tetap dikoordinasikan dengan Iran serta negara-negara di kawasan Timur Tengah guna menghindari eskalasi konflik lebih besar.
Menurutnya pembatasan pelayaran di Selat Hormuz dapat mengganggu stabilitas perdagangan global dan memperbesar risiko lonjakan harga energi dunia.
Karena itu, Prancis lebih memilih mendorong misi keamanan maritim berbasis kerja sama internasional dibanding operasi militer langsung yang berpotensi memperuncing konflik dengan Iran.
(Tribunnews.com / Namira)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.