Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Xi Jinping Singgung Jebakan Thucydides dalam Pertemuannya dengan Donald Trump, Apa Artinya?

Xi Jinping menyinggung “Perangkap Thucydides” saat bertemu Donald Trump untuk menggambarkan potensi konflik antara kekuatan besar dunia.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
  • Xi Jinping menyinggung “Perangkap Thucydides” saat bertemu Donald Trump untuk menggambarkan potensi konflik antara kekuatan besar dunia.
  • Taiwan kembali menjadi isu utama dalam hubungan AS-China karena dianggap sebagai titik konflik paling sensitif.
  • Meski sama-sama ingin menjaga hubungan tetap stabil, ketegangan antara China dan AS terkait Taiwan masih terus berlanjut.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan di tengah perang di Timur Tengah dan ketegangan seputar Taiwan.

Mengutip Guardian, dalam pidato pembukaannya pada Kamis (14/5/2026) di Beijing, Xi Jinping justru menyinggung perang lain, yakni Perang Peloponnesia di Yunani Kuno.

Peloponnesia (Peloponnese) adalah sebuah semenanjung besar di bagian selatan Yunani yang menjadi pusat penting sejarah, budaya, dan militer Yunani Kuno.

Perang antara Athena dan Sparta itu berlangsung selama beberapa dekade sejak tahun 431 SM.

Athena dan Sparta merupakan dua negara-kota (polis) besar Yunani Kuno yang terkenal karena perbedaan budaya dan sistem sosialnya.

Athena menonjol dalam seni, filsafat, dan demokrasi, sedangkan Sparta dikenal sebagai masyarakat militer yang disiplin dan keras.

Xi bertanya apakah AS dan China dapat menghindari "jebakan Thucydides".

Rekomendasi Untuk Anda

Thucydides adalah seorang sejarawan sekaligus jenderal Athena.

“Bisakah China dan Amerika Serikat melampaui apa yang disebut ‘Perangkap Thucydides’ dan membentuk paradigma baru bagi hubungan kekuatan besar?” ujarnya.

TRUMP DAN XI JINPING - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menghadiri jamuan makan malam kenegaraan dengan Presiden China, Xi Jinping di Beijing, Kamis (14/5/2026).
TRUMP DAN XI JINPING - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menghadiri jamuan makan malam kenegaraan dengan Presiden China, Xi Jinping di Beijing, Kamis (14/5/2026). (YouTube Fox News)

Lantas, Apa Maksud Perangkap Thucydides?

Menurut mantan Kepala Strategi Gedung Putih, Steve Bannon, Perangkap Thucydides merujuk pada gagasan bahwa ketika kekuatan yang sedang bangkit mengancam untuk menggantikan kekuatan yang sudah mapan, hasilnya sering kali adalah perang.

“Kebangkitan Athena dan ketakutan yang ditimbulkannya pada Sparta-lah yang membuat perang tak terhindarkan,” tulis Thucydides dalam bukunya Sejarah Perang Peloponnesia.

Baca juga: Pertemuan Trump dan Xi Jinping Sempat Tegang saat Bahas Taiwan, China Tegas Soal Kedaulatan

Sama seperti Athena pernah berperang dengan Sparta, implikasinya adalah kebangkitan China memicu kecemasan dan potensi konflik dengan AS.

Para pengamat menyebut Xi telah menggunakan istilah tersebut selama bertahun-tahun, tetapi penggunaan referensi klasik itu dalam kunjungan Trump mungkin menjadi pertanda sikapnya terkait Taiwan.

Xi kemudian memperingatkan Trump bahwa kesalahan langkah apa pun terkait Taiwan dapat mendorong kedua negara menuju konflik.

"Masalah Taiwan adalah isu terpenting dalam hubungan China-AS," kata Xi mengenai pulau yang berpemerintahan sendiri tersebut, yang diklaim China sebagai wilayahnya.

"Jika salah ditangani, kedua negara dapat berbenturan atau bahkan berkonflik, sehingga mendorong hubungan China-AS ke dalam situasi yang sangat berbahaya," tambahnya.

Namun, dalam jamuan makan malam kenegaraan, Xi menyampaikan nada yang lebih damai.

Ia menegaskan bahwa AS dan China dapat mengelola gesekan yang tampaknya tak terhindarkan tersebut.

“Mencapai kebangkitan besar bangsa China dan menjadikan Amerika hebat kembali sepenuhnya dapat berjalan beriringan serta memajukan kesejahteraan dunia,” kata Xi.

Menanggapi hal itu di media sosial, Trump mengatakan Xi secara elegan menyebut Amerika Serikat sebagai negara yang mungkin sedang mengalami kemunduran.

Namun, menurut Trump, hal itu bukan merujuk pada AS di bawah kepemimpinannya.

“Dua tahun lalu, kita memang sebuah negara yang sedang mengalami kemunduran,” tulis Trump di media sosial pada Jumat pagi.

“Sekarang, Amerika Serikat adalah negara terkuat di dunia, dan semoga hubungan kita dengan China akan lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya!”

Mengapa Taiwan Menjadi Titik Konflik Utama antara AS dan China?

Dilansir CBS News, selama kunjungan Donald Trump di Beijing minggu ini, salah satu isu yang menjadi sorotan adalah mengenai Taiwan.

China menyebut Taiwan sebagai inti kepentingan nasionalnya.

Reunifikasi, bahkan melalui kekerasan, menjadi bagian utama agenda Xi.

Baca juga: Xi Jinping Sentil Trump soal Taiwan: Salah Langkah Bisa Picu Konflik China-AS

Dalam banyak hal, China dan Taiwan memiliki kemiripan.

Keduanya memiliki sejarah, bahasa, dan budaya yang sama.

Namun, selama hampir 80 tahun terakhir, Taiwan telah berkembang menjadi entitas yang berbeda dari China.

Taiwan, sebuah pulau yang memerintah sendiri, merupakan demokrasi yang berkembang dengan ekonomi kapitalis yang dinamis.

Taiwan juga menjadi tempat masyarakat dapat mengekspresikan diri secara terbuka tanpa rasa takut.

Kurang dari 10 persen penduduk Taiwan mendukung reunifikasi dengan China, menurut survei.

Kekhawatiran akan jatuh di bawah kendali Komunis juga terus meningkat.

"Sejak demokratisasi, kami telah menikmati kebebasan berbicara, demokrasi, dan masyarakat yang beragam," kata Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan Chen Ming-chi kepada CBS News dalam wawancara awal Mei 2026.

"Kami telah melewati masa lalu yang otoriter. Kami melihat demokrasi sebagai sesuatu yang telah kami perjuangkan. Rakyat Taiwan sangat menghargai hal itu. Karena itu, kami tidak akan pernah menerima satu negara, dua sistem."

Taiwan juga menjadi salah satu titik rawan terbesar antara AS dan China, bahkan berpotensi memicu perang terbuka antara kedua kekuatan militer tersebut.

China secara rutin menggelar latihan militer di sekitar Taiwan sebagai bentuk unjuk kekuatan.

Selama beberapa dekade, presiden AS tetap berkomitmen membela Taiwan dari tekanan China.

Namun, kini muncul kekhawatiran bahwa Presiden Trump dapat mengubah kebijakan itu, yang dampaknya bisa dirasakan secara global.

Taiwan sangat penting bagi perekonomian Amerika karena memproduksi lebih dari 90 persen semikonduktor tercanggih di dunia.

Komponen tersebut sangat penting bagi pengembangan kecerdasan buatan dan pertahanan, sehingga Taiwan menjadi bagian tak tergantikan dalam rantai pasok global.

"Ada banyak hal yang dipertaruhkan dalam hubungan ini," kata Jonathan Czin, peneliti di John L. Thornton China Center, Brookings Institution, mengenai hubungan AS-Taiwan.

"Dan saya rasa tidak berlebihan untuk mengatakan hal itu."

China memandang Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri sejak tahun 1949, ketika kaum nasionalis kalah dalam Perang Saudara melawan Komunis dan melarikan diri ke daratan Taiwan.

Saat ini, Taiwan telah menjadi kekuatan ekonomi dengan PDB per kapita yang termasuk tertinggi di dunia.

Selama beberapa dekade, AS menolak mengakui klaim Partai Komunis China atas Taiwan.

AS pun terus memberikan bantuan persenjataan bernilai miliaran dolar setiap tahun kepada Taiwan, termasuk paket senilai 10 miliar dolar AS yang diumumkan Desember lalu.

Namun, paket senjata baru senilai 14 miliar dolar AS untuk Taiwan masih menunggu tanda tangan Trump selama berbulan-bulan.

Banyak pihak di Taiwan khawatir Xi akan menggunakan kesepakatan perdagangan untuk melemahkan dukungan AS atau mengubah status quo.

Kekhawatiran itu diperkuat oleh komentar Trump baru-baru ini yang menyatakan dirinya bersedia membahas penjualan senjata AS ke Taiwan dengan Xi.

"Tentu ada kekhawatiran bahwa dia (Trump) akan menukar penjualan senjata itu dengan sesuatu yang lain, entah untuk bantuan terhadap Iran atau konsesi ekonomi tertentu," kata Czin.

"Pendekatan transaksional Presiden Trump membuat semuanya dapat dinegosiasikan."

Chen Ming-chi mengatakan kepada CBS News bahwa ia tetap memandang AS sebagai sekutu yang dapat diandalkan dan tidak khawatir AS akan meninggalkan Taiwan.

"AS dapat mengandalkan kami sebagaimana kami dapat mengandalkan AS," kata Chen.

"Apakah kami percaya pada komitmen AS? Ya. Mereka adalah mitra kami yang dapat diandalkan, mungkin yang paling dapat diandalkan."

Rubio Sebut Posisi AS 'Tidak Berubah'

Setelah pertemuan Xi dan Trump, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan posisi AS terkait Taiwan tetap tidak berubah.

Mengutip Newsweek, ringkasan resmi AS mengenai pertemuan tersebut tidak menyinggung Taiwan, tetapi menyoroti hubungan perdagangan dan perang Iran.

Ringkasan itu menyebut baik China maupun AS sama-sama ingin Selat Hormuz tidak berada di bawah kendali Iran.

Gedung Putih juga menyebut China menyatakan minat untuk membeli minyak dari AS.

"Kedua negara sepakat bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," bunyi ringkasan tersebut, yang menunjukkan adanya kesamaan pandangan antara China-AS.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas