Rusia-Ukraina Tukar Tawanan Perang, 205 Warga Ukraina Dibebaskan
Rusia dan Ukraina melakukan pertukaran 1.000 banding 1.000 tawanan perang. Setidaknya 205 tawanan Ukraina dibebaskan pada hari Jumat.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
- Perang Rusia-Ukraina memasuki hari ke-1.542 dengan Ukraina dan Rusia memulai pertukaran tahanan besar “1.000 banding 1.000”, di mana 205 warga Ukraina dipulangkan dari tahanan Rusia.
- Di saat bersamaan, Rusia melancarkan serangan besar ke berbagai wilayah Ukraina yang menewaskan sedikitnya 22 warga sipil dan merusak ratusan fasilitas.
- Volodymyr Zelenskyy menilai serangan itu membuktikan Rusia belum serius mengakhiri perang.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.542 pada Jumat (15/5/2026).
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan bahwa Ukraina dan Rusia kembali melakukan pertukaran tahanan perang pada Jumat, 15 Mei 2026.
Dalam tahap pertama pertukaran tersebut, sebanyak 205 warga Ukraina berhasil dipulangkan dari tahanan Rusia. Pertukaran ini menjadi bagian awal dari skema pertukaran besar “1.000 banding 1.000” antara Ukraina dan Rusia.
Zelenskyy mengatakan, para tahanan yang dibebaskan terdiri dari anggota Angkatan Bersenjata Ukraina, Garda Nasional, hingga petugas Dinas Penjaga Perbatasan Negara.
"205 warga Ukraina telah kembali ke tanah air. Hari ini, para pejuang Angkatan Bersenjata Ukraina, Garda Nasional, dan Dinas Penjaga Perbatasan Negara kembali dari penahanan Rusia. Ini adalah tahap pertama dari pertukaran 1.000 banding 1.000," kata Zelenskyy dalam Facebook, Jumat (15/5/2026).
Sebagian besar tahanan yang dipulangkan diketahui telah ditahan sejak tahun 2022, terutama setelah pertempuran sengit di Mariupol dan kawasan pabrik baja Azovstal.
Mereka juga merupakan pasukan yang pernah bertugas di berbagai wilayah pertempuran seperti Donetsk, Luhansk, Kharkiv, Kherson, Zaporizhzhia, Sumy, Kyiv, hingga area Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl.
"Di antara mereka yang dibebaskan adalah prajurit, sersan, dan perwira. Sebagian besar dari mereka telah berada dalam penahanan Rusia sejak tahun 2022."
"Mereka membela Ukraina di Mariupol dan di Azovstal, di sektor Donetsk, Luhansk, Kharkiv, Kherson, Zaporizhzhia, Sumy, dan Kyiv, serta di PLTN Chernobyl," lanjutnya.
Markas Besar Koordinasi untuk Penanganan Tawanan Perang Ukraina menyebut, hampir seluruh tentara yang dibebaskan telah menghabiskan sekitar empat tahun dalam penahanan Rusia.
Karena itu, lamanya masa tahanan menjadi salah satu prioritas utama dalam penyusunan daftar pertukaran kali ini.
Baca juga: 2 Gubernur Perbatasan Rusia-Ukraina Mundur, Putin Tunjuk Jenderal Tempur Pimpin Belgorod
Selain prajurit dan sersan, lebih dari 50 perwira militer Ukraina juga ikut dipulangkan.
Salah satu tahanan yang dibebaskan adalah anggota Garda Nasional yang sebelumnya ditangkap saat bertugas di kawasan PLTN Chernobyl.
Pemerintah Ukraina menyebut, tahanan termuda yang dibebaskan berusia 21 tahun, sementara yang tertua berusia 62 tahun.
Setelah kembali ke Ukraina, seluruh mantan tahanan akan menjalani pemeriksaan kesehatan, perawatan medis, serta rehabilitasi.
Pemerintah juga memastikan mereka akan menerima bantuan, dokumen resmi, dan hak pembayaran finansial yang menjadi hak mereka.
Rusia Luncurkan Serangan Besar
Ukraina menanggung beban terberat dari serangan hebat yang hampir terus-menerus terjadi di Ukraina sepanjang hari pada Kamis (14/5/2026).
Layanan darurat mengatakan setidaknya 16 orang, termasuk dua anak, tewas di ibu kota.
Walikota, Vitali Klitschko, menyatakan hari Jumat sebagai hari berkabung.
"Rusia telah meluncurkan 1.567 drone sejak awal hari Rabu," kata presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy pada hari Kamis.
Setidaknya 22 warga sipil tewas pada hari Rabu dan Kamis, menurut laporan para pejabat.
Hal ini terjadi setelah Vladimir Putin, presiden Rusia, mengatakan pada hari Sabtu bahwa perang "akan segera berakhir".
"Ini jelas bukan tindakan dari mereka yang percaya bahwa perang akan segera berakhir," kata Zelenskyy.
Jerman Dukung Negosiasi Rusia-Ukraina
"Serangan hebat Rusia terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, menunjukkan Moskow mengandalkan eskalasi daripada negosiasi," kata Kanselir Jerman Friedrich Merz pada hari Kamis.
“Kyiv dan para mitranya siap untuk bernegosiasi yang bertujuan untuk perdamaian yang adil. Rusia, di pihak lain, terus melanjutkan perang,” lanjutnya.
Sementara Ukraina dan Eropa ingin membantu mengakhiri perang mengerikan ini secepat mungkin, serangan Rusia “berbicara dengan bahasa yang berbeda” dari saran Presiden Rusia Putin bahwa perang mungkin akan segera berakhir.
Dalam langkah penolakan terhadap saran Vladimir Putin bahwa mantan kanselir Jerman, Gerhard Schröder, dapat bertindak sebagai mediator antara Rusia dan Eropa, kanselir Jerman Merz mengatakan, “Kami orang Eropa memutuskan sendiri siapa yang berbicara untuk kami. Tidak ada orang lain."
Setelah Serangan Besar Rusia, Ukraina Kerahkan Ribuan Petugas Penyelamat
Lebih dari 1.500 petugas penyelamat dikerahkan di seluruh Ukraina untuk menangani dampak serangan, termasuk hampir 600 di Kyiv.
Zelenskyy mengatakan, 180 fasilitas telah rusak, termasuk lebih dari 50 bangunan tempat tinggal.
Sebuah kendaraan PBB diserang oleh drone selama misi kemanusiaan di kota Kherson. Di kota terbesar kedua Ukraina, Kharkiv, 28 orang, termasuk tiga anak, terluka dan infrastruktur sipil menjadi sasaran, menurut laporan Oleh Syniehubov, gubernur regional.
Kementerian energi Ukraina mengatakan pasokan listrik di 11 wilayah telah terganggu.
Serangan itu juga menargetkan infrastruktur pelabuhan di wilayah Odesa selatan dan jalur kereta api, kata para pejabat.
Baca juga: Putin Genjot Produksi Drone Shahed Secara Besar-Besaran, Isu Rusia Perkuat Militer Iran Mencuat
Aktivitas Drone Dekat PLTN Ukraina Meningkat, IAEA Khawatir
International Atomic Energy Agency atau Badan Energi Atom Internasional memperingatkan meningkatnya aktivitas militer di sekitar sejumlah fasilitas nuklir Ukraina. Kondisi tersebut dinilai dapat menimbulkan risiko serius terhadap keselamatan instalasi nuklir di tengah perang yang masih berlangsung.
IAEA menyebut aktivitas drone meningkat tajam di sekitar beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) penting, seperti Khmelnitsky, Rivne, Ukraina Selatan, hingga kawasan Chernobyl.
Menurut IAEA, lebih dari 160 pesawat tanpa awak atau drone terpantau terbang di sekitar lokasi-lokasi tersebut.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi itu dan meminta semua pihak menahan diri agar tidak memperburuk risiko di sekitar fasilitas nuklir.
Drone Ukraina Serang Belgorod Rusia, 1 Orang Tewas
Serangan drone yang diduga dilancarkan Ukraina menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya di wilayah Belgorod, Rusia, pada Kamis, 15 Mei 2026.
Pemerintah daerah Belgorod menyebut sebuah drone menghantam rumah warga di kota Graivoron yang berada dekat perbatasan Ukraina. Serangan tersebut menewaskan seorang pria dan melukai satu orang lainnya.
Dalam insiden terpisah, drone lain dilaporkan meledak di sebuah desa dekat perbatasan dan menyebabkan dua warga mengalami luka-luka.
Wilayah Belgorod memang kerap menjadi sasaran serangan drone sejak perang Rusia-Ukraina berlangsung, terutama karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan Ukraina.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin menunjuk Alexander Shuvaev sebagai penjabat gubernur Belgorod menggantikan pejabat sebelumnya yang mundur dari jabatan.
Sekutu Dekat Zelenskyy Ditangkap dalam Kasus Pencucian Uang
Pengadilan anti-korupsi Ukraina memerintahkan penangkapan Andriy Yermak, sekutu dekat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, terkait dugaan kasus pencucian uang.
Yermak yang sebelumnya pernah menjabat sebagai kepala pemerintahan Ukraina dituduh terlibat dalam praktik pencucian dana dalam jumlah besar.
Pengadilan menetapkan uang jaminan sebesar 140 juta hryvnia atau sekitar 3,19 juta dolar AS. Dengan jaminan tersebut, Yermak dapat dibebaskan sementara sambil menunggu proses hukum dan keputusan akhir pengadilan.
Hingga kini, Yermak membantah seluruh tuduhan yang diarahkan kepadanya.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina mulai pecah secara terbuka pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan invasi militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Meski demikian, akar konflik kedua negara sebenarnya telah berlangsung sejak runtuhnya Uni Soviet, yang membuat Ukraina menjadi negara merdeka dan mulai menentukan arah politiknya sendiri.
Seiring waktu, Ukraina semakin mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, terutama melalui kerja sama dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap kepentingan keamanan dan pengaruhnya di kawasan Eropa Timur.
Situasi semakin memanas pada tahun 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan yang menjatuhkan pemerintahan Ukraina yang dianggap dekat dengan Moskow. Pada periode yang sama, Rusia mencaplok wilayah Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di kawasan Donbas antara tentara Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia. Sejak saat itu, ketegangan di kawasan terus meningkat.
Berbagai upaya perdamaian dan diplomasi sebenarnya telah dilakukan oleh banyak pihak internasional, tetapi belum berhasil menciptakan solusi jangka panjang. Konflik kemudian mencapai puncaknya ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer pada Februari 2022 dengan alasan melindungi warga berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO di dekat perbatasan negaranya.
Sebagai tanggapan, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia serta meningkatkan bantuan militer dan keuangan kepada Ukraina. Hingga saat ini, perang masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Di tengah konflik yang terus berjalan, jalur diplomasi tetap diusahakan. Amerika Serikat berupaya mengambil peran dalam mediasi, sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terus mendorong pembicaraan damai, termasuk membuka kemungkinan keterlibatan Turki sebagai mediator.
Namun demikian, pihak Kremlin menegaskan bahwa pertemuan langsung antara Putin dan Zelenskyy hanya dapat terlaksana apabila sudah ada kesepakatan awal yang jelas dari kedua pihak. Sampai sekarang, proses menuju perdamaian masih menghadapi berbagai tantangan besar.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.