Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

5 Populer Internasional: Menguatnya Ringgit Malaysia - Daftar Kerugian AS dalam Perang Iran

Rangkuman berita populer internasional, di antaranya Ringgit Malaysia menguat terhadap dolar AS dan mata uang lain karena prospek ekonomi membaik

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Tiara Shelavie
zoom-in 5 Populer Internasional: Menguatnya Ringgit Malaysia - Daftar Kerugian AS dalam Perang Iran
RNTV/TangkapLayar
SISTEM THAAD - Peluncuran rudal dari sistem pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) buatan Amerika Serikat (AS). Rangkuman berita populer internasional, di antaranya laporan CRS menyebut AS kehilangan sedikitnya 42 pesawat militer selama perang melawan Iran. 
Ringkasan Berita:
  • Ringgit Malaysia menguat terhadap dolar AS dan mata uang utama lain karena prospek ekonomi membaik serta meredanya ketegangan geopolitik. 
  • Laporan CRS mengungkap Amerika Serikat kehilangan sedikitnya 42 pesawat militer selama perang melawan Iran
  • Aktivis Global Sumud Flotilla menceritakan perlakuan kasar tentara Israel saat ditahan setelah misi kemanusiaan ke Gaza.

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah isu internasional menjadi perhatian utama dalam 24 jam terakhir.

Ringgit Malaysia menguat terhadap dolar AS dan mata uang lainnya karena optimisme tentang membaiknya kondisi ekonomi Malaysia serta meredanya tensi geopolitik Timur Tengah.

Sementara itu, laporan CRS menyebut AS kehilangan sedikitnya 42 pesawat militer selama perang melawan Iran.

Berikut berita populer internasional selengkapnya.

1. Nilai Mata Uang Tetangga Indonesia Terus Menguat, Ini Faktor yang Menopang Kekuatan Ringgit Malaysia

Ringgit Malaysia menguat terhadap dolar AS dan mata uang utama lainnya pada Jumat (22/5/2026), didukung oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta prospek makroekonomi Malaysia yang membaik, lapor New Straits Times.

Pada pukul 08.00 waktu setempat, ringgit menguat menjadi 3,9550/9645 (kurs beli/jual) terhadap dolar AS dari penutupan Kamis di level 3,9595/9630.

Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, mengatakan optimisme bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan segera mencapai resolusi damai terus meningkat.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia mengatakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent turun masing-masing 1,49 persen dan 2,32 persen menjadi 97,79 dolar AS per barel dan 102,58 dolar AS per barel.

“Menurut kantor berita Iran, Teheran sedang mengevaluasi proposal dari AS yang telah mempersempit kesenjangan sampai batas tertentu,” katanya kepada Bernama.

Ia juga menyebut ringgit diperkirakan tetap berada dalam posisi yang kuat di tengah latar belakang makroekonomi Malaysia yang positif, terutama karena surplus neraca transaksi berjalan meningkat menjadi 3,0 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I 2026, dari 0,5 persen pada kuartal sebelumnya.

“Selain itu, posisi fiskal pemerintah terus membaik, dengan defisit fiskal menyempit menjadi 17,1 miliar ringgit Malaysia atau 3,3 persen dari PDB pada kuartal I 2026, dari 21,9 miliar ringgit Malaysia atau 4,5 persen dari PDB pada periode yang sama tahun 2025. Oleh karena itu, ringgit diperkirakan tetap mendapat dukungan kuat di kisaran 3,95 hingga 3,96 terhadap dolar AS hari ini,” katanya.

Pada pembukaan perdagangan, ringgit juga diperdagangkan lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama.

Ringgit menguat terhadap poundsterling Inggris menjadi 5,3120/3247 dari 5,3220/3267 pada penutupan Kamis, menguat terhadap euro menjadi 4,5945/6056 dari 4,6037/6078 sebelumnya, dan naik terhadap yen Jepang menjadi 2,4866/4928 dari 2,4906/4929.

Selain itu, ringgit juga menguat terhadap mata uang regional.

Ringgit menguat terhadap dolar Singapura menjadi 3,0949/1026 dari sebelumnya 3,0967/0997 dan menguat terhadap baht Thailand menjadi 12,1286/1648 dari sebelumnya 12,1304/1468.

Ringgit juga menguat terhadap rupiah Indonesia menjadi 223,8/224,5 dari sebelumnya 224,1/224,4 dan menguat terhadap peso Filipina menjadi 6,42/6,44 dari sebelumnya 6,43/6,44.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. Dari F-15 hingga Drone MQ-9 Reaper, Ini Daftar Kerugian 42 Armada Udara AS Selama Perang Iran

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pihaknya sedang meninjau tanggapan terbaru AS terhadap kerangka kerja gencatan senjata yang diusulkan setelah beberapa putaran pertukaran pesan yang dimediasi Pakistan, mengutip Al Jazeera.

Sebelumnya, pada Rabu (20/5/2026), Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan kedua negara berada di “ambang batas” antara tercapainya kesepakatan atau dimulainya serangan baru.

“Percayalah, ini tepat di ambang batas,” kata Trump kepada wartawan.

“Jika kita tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berubah dengan sangat cepat. Kita semua siap untuk memulai.”

Di tengah situasi tersebut, Trump berulang kali menyatakan bahwa militer AS telah menyebabkan kerusakan besar terhadap Iran.

Ia mengklaim Iran kehilangan banyak peluncur rudal dan lebih dari 90 persen armada lautnya telah dihancurkan.

Namun, Trump tidak banyak membahas kerugian yang dialami pasukan Amerika sendiri.

Kini, laporan yang diterbitkan Congressional Research Service (CRS) mengungkap bahwa AS kehilangan sedikitnya 42 pesawat militer selama operasi melawan Iran.

CRS adalah lembaga riset nonpartisan di bawah Library of Congress yang menyediakan analisis kebijakan dan hukum untuk anggota Kongres AS.

Laporan CRS menguraikan kerugian atau kerusakan pesawat-pesawat AS selama operasi militer tersebut.

Dokumen yang diterbitkan pada 13 Mei itu disusun berdasarkan laporan media serta pernyataan Departemen Perang AS dan militer AS.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa jumlah kerugian masih dapat berubah karena faktor klasifikasi, operasi tempur yang masih berlangsung, dan proses atribusi.

Dokumen itu menyebutkan militer AS kehilangan sedikitnya 42 pesawat sayap tetap maupun helikopter, termasuk pesawat tanpa awak.

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. Aktivis GSF: Perlakuan Israel di Tahanan Tak Ada Apa-apanya Dibandingkan Penderitaan Warga Palestina

Sejumlah aktivis internasional yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 mengungkapkan apa yang mereka alami selama ditahan oleh tentara Israel.

Adapun seluruh kapal yang membawa bantuan ke Gaza, Palestina telah dicegat di perairan internasional oleh militer Israel pada Selasa (19/5/2026), dengan semua aktivis dan relawan ditangkap lalu ditahan di Pelabuhan Ashdod.

Akhirnya, pada Kamis (21/5/2026), seluruh aktivis dan relawan dibebaskan dan dibawa ke Bandara Istanbul, Turki, dengan tiga penerbangan Turkish Airlines.

Dikutip dari media Turki, Anadolu Agency, beberapa aktivis mengungkap pengalaman mereka selama penahanan.

Rupanya, mereka sempat mendapat perlakuan tidak manusiawi oleh tentara Israel, serta dipukul dan disetrum dengan alat kejut listrik (taser).

Dipukuli

Seorang aktivis dari Kanada, Ehab Lotayef, menunjukkan tangannya yang diperban.

Ia pun bercerita, seorang tentara Israel meminta bantuannya untuk menerjemahkan, tetapi ada tentara lain yang tidak suka dirinya membantu orang lain.

"Seorang tentara Israel tidak suka saat saya memberikan air kepada orang-orang. Jadi, dia malah mendekat dan menusuk tangan saya," kata Ehab, kepada Anadolu Agency, saat di Bandara Istanbul, Kamis waktu setempat.

Ehab mengaku, tidak dapat merasa pada bagian tangannya yang terluka.

Ia juga mengungkap, ada aktivis lain yang  mengalami kekerasan yang parah, dengan beberapa di antaranya mengalami patah tulang rusuk.

“Kami dipukuli dengan sangat parah, sangat, sangat parah. Itu bukan pemukulan untuk membela diri. Itu pemukulan sebagai hukuman. Mereka menghukum kami,” ungkap Ehab.

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. AS Boncos! 200 Rudal THAAD Ludes Demi Lindungi Israel dari Serangan Iran

Amerika Serikat menghabiskan lebih dari 200 rudal pencegat THAAD untuk membantu Israel menghadapi gelombang serangan rudal Iran selama konflik terbaru di Timur Tengah.

Laporan tersebut mencuat usai seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa Washington menembakkan lebih dari 200 rudal pencegat THAAD untuk menghancurkan rudal-rudal Iran yang mengarah ke wilayah Israel.

Jumlah tersebut belum termasuk lebih dari 100 rudal pencegat jenis SM-3 dan SM-6 yang juga digunakan Amerika Serikat untuk memperkuat perlindungan udara sekutunya itu.

Besarnya penggunaan sistem pertahanan tersebut dipicu tingginya intensitas serangan Iran selama perang berlangsung.

Militer Iran dilaporkan meluncurkan sekitar 650 rudal balistik ke arah Israel dalam berbagai gelombang serangan.

Rudal-rudal itu menyasar wilayah permukiman, fasilitas strategis, hingga pusat infrastruktur penting di Israel.

Kondisi tersebut memaksa sistem pertahanan udara Israel dan Amerika Serikat bekerja tanpa henti untuk mencegah rudal-rudal Iran menghantam target di darat.

THAAD atau Terminal High Altitude Area Defense menjadi salah satu sistem utama yang digunakan Washington untuk menghadapi ancaman tersebut.

Sistem pertahanan canggih itu dirancang untuk menghancurkan rudal balistik di ketinggian tinggi sebelum mencapai sasaran.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. AS Kecolongan! Manfaatkan Gencatan Senjata, Iran Bangkit dan Mulai Produksi Massal Drone Lagi

Amerika Serikat (AS) mulai menghadapi kekhawatiran baru setelah intelijen mereka menemukan bahwa Iran diam-diam membangun kembali kemampuan militernya selama masa gencatan senjata dengan Washington dan Israel.

Dikutip dari CNN, Iran telah memulai kembali sebagian produksi drone hanya beberapa pekan setelah gencatan senjata enam minggu dimulai pada awal April 2026.

Empat sumber yang mengetahui laporan intelijen AS mengatakan pemulihan kekuatan militer Iran berlangsung jauh lebih cepat dibanding perkiraan awal Pentagon.

Temuan tersebut memunculkan kekhawatiran baru di Washington karena sebelumnya AS dan Israel mengklaim serangan gabungan mereka berhasil melumpuhkan kemampuan pertahanan Iran untuk waktu yang lama.

Namun laporan intelijen terbaru justru menunjukkan Teheran mampu kembali mengaktifkan fasilitas produksi senjata dalam waktu relatif singkat.

“Pihak Iran telah melampaui semua tenggat waktu yang ditetapkan oleh komunitas intelijen untuk rekonstitusi,” kata seorang pejabat AS kepada CNN.

Iran Bangun Lagi Basis Militernya

Menurut laporan intelijen AS, Iran tidak hanya kembali memproduksi drone.

Teheran juga disebut mulai memindahkan dan mengganti lokasi peluncur rudal, memperbaiki sistem persenjataan utama, serta membangun kembali kapasitas manufaktur militer yang sebelumnya rusak akibat pemboman AS-Israel.

CNN melaporkan sebagian fasilitas industri pertahanan Iran ternyata masih bertahan sehingga proses pemulihan tidak dimulai dari nol.

Hal itu membuat kemampuan militer Iran pulih jauh lebih cepat dibanding prediksi awal Washington.

Sejumlah pejabat intelijen bahkan memperkirakan Iran dapat memulihkan penuh kemampuan serangan drone hanya dalam waktu sekitar enam bulan.

Kecepatan pemulihan itu dinilai mengejutkan Pentagon dan memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas operasi militer besar-besaran yang sebelumnya dilakukan AS dan Israel.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas