Intel AS: Pemimpin Tertinggi Iran Bersembunyi di Lokasi yang Dirahasiakan
Intelijen AS menyebut Mojtaba Khamenei bersembunyi di lokasi rahasia dan sulit dihubungi bahkan oleh pejabat Iran sendiri.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Intelijen AS menyebut Mojtaba Khamenei bersembunyi di lokasi rahasia dan sulit dihubungi bahkan oleh pejabat Iran sendiri.
- Iran membantah laporan bahwa Mojtaba Khamenei mengalami luka parah atau meninggal akibat serangan AS-Israel di Teheran.
- Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan seluruh keputusan Iran tetap harus mendapat izin dari pemimpin tertinggi.
TRIBUNNEWS.COM - Intelijen AS mengungkapkan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, pada dasarnya bersembunyi di lokasi rahasia dengan akses terbatas ke dunia luar.
Ia disebut hanya dapat dihubungi melalui jaringan pembawa pesan yang rumit, menurut para pejabat AS yang mengetahui persoalan tersebut.
Mengutip CBS News, para pejabat Iran yang berwenang bekerja sama dengan pemerintahan AS mengalami kesulitan berkomunikasi di dalam sistem pemerintahan mereka sendiri.
Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa rincian kesepakatan potensial dengan Iran dan perjanjian sebelumnya lambat terungkap.
Ketika AS mengirimkan rincian usulan, pihak Iran kesulitan menghubungi pemimpin tertingginya, kata pejabat tersebut.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan pada hari Minggu (24/5/2026) bahwa pemimpin tertinggi Iran telah menyetujui garis besar draf perjanjian saat ini.
Presiden AS Donald Trump mengunggah di Truth Social bahwa ia memperkirakan keputusan akhir akan diambil dalam beberapa hari ke depan.
Mojtaba Khamenei belum terlihat atau terdengar secara resmi di depan umum sejak sebelum dimulainya perang.
Intelijen AS dan Israel yang diperoleh dari dalam pemerintahan Iran memungkinkan mereka menemukan dan melenyapkan sebagian besar kepemimpinan senior Iran selama perang, kata salah satu pejabat tersebut.
Saat ini, sebagian besar pemimpin Iran tidak pernah keluar dari bunker yang sangat terlindungi selama berminggu-minggu dan menghindari berbicara satu sama lain kecuali benar-benar diperlukan, kata sumber tersebut.
“Melihat mereka mencoba mencari cara untuk berbicara satu sama lain hampir seperti menonton sitkom. Mereka benar-benar frustrasi,” kata seorang pejabat.
Langkah pengamanan paling ketat diterapkan kepada pemimpin tertinggi.
Baca juga: Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Kirim Peringatan ke Trump Jelang Lawatan Presiden AS ke China
Bahkan pejabat di tingkat tertinggi pemerintahan Iran disebut tidak mengetahui lokasi keberadaannya dan tidak memiliki cara untuk menghubunginya secara langsung.
“Inilah mengapa Anda melihat orang-orang mengatakan hal-hal seperti, ‘Pemimpin tertinggi telah menyetujui kerangka kerja,’ atau ‘Kami menunggu kabar tentang poin-poin kesepakatan akhir.’ Setiap informasi yang dia terima sudah usang dan ada banyak jeda waktu dalam tanggapannya,” kata seorang pejabat.
Tidak Pernah Terlihat
Lebih dari dua bulan setelah mengambil alih jabatan sebagai pemimpin tertinggi Iran menyusul kematian ayahnya, Mojtaba Khamenei masih belum muncul di depan umum.
Hal itu memicu spekulasi yang semakin meningkat mengenai kesehatannya, keberadaannya, dan kendalinya atas Iran.
Kerahasiaan seputar ulama berusia 56 tahun itu semakin mendalam di tengah laporan bahwa ia mengalami luka-luka saat serangan AS-Israel pada 28 Februari di Teheran yang menewaskan mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei dan beberapa anggota keluarganya.
Meski pejabat Iran bersikeras bahwa Mojtaba Khamenei dalam keadaan sehat dan tetap mengarahkan urusan negara, para diplomat dan laporan intelijen menunjukkan bahwa langkah keamanan luar biasa kini diberlakukan karena kekhawatiran Israel dapat mencoba membunuhnya.
Kekhawatiran Keamanan dan Komunikasi Tersembunyi
Menurut Financial Times, para pejabat Iran secara bertahap mulai mengungkap detail luka-luka Khamenei untuk membantah laporan bahwa ia mengalami luka parah yang mengancam jiwa atau bahkan meninggal dunia akibat serangan tersebut.
Mazaher Hosseini, kepala protokol di kantor pemimpin tertinggi, mengatakan Khamenei terkena gelombang ledakan saat menaiki tangga di dekat kompleks yang menjadi sasaran.
Hosseini mengklaim pemimpin tersebut mengalami luka pada tempurung lutut, punggung bawah, dan di belakang salah satu telinganya setelah terlempar ke tanah akibat ledakan.
“Dia akan datang dan berpidato untuk kalian ketika waktunya tiba,” kata Hosseini kepada para pendukungnya sambil meminta masyarakat bersabar.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, juga membantah laporan bahwa wajah Khamenei mengalami kerusakan atau ada anggota tubuh yang diamputasi.
Para pejabat Iran menuduh media asing dan musuh Iran menyebarkan klaim palsu yang bertujuan menggambarkan kepemimpinan Iran sebagai lemah dan terpecah belah.
Terlepas dari jaminan tersebut, para diplomat dan laporan intelijen menunjukkan bahwa kekhawatiran keamanan tetap sangat tinggi.
Menurut laporan yang dikutip FT dan CNN, Khamenei menghindari komunikasi elektronik karena khawatir Israel dapat mencoba membunuhnya.
Pesan antara pemimpin tertinggi, pejabat pemerintah, dan komandan militer dilaporkan disampaikan langsung melalui pembawa pesan tepercaya guna menghindari pengawasan atau pelacakan.
Presiden Pezeshkian: Iran Tidak Mengambil Keputusan Tanpa Izin Pemimpin Tertinggi
Sementara itu, Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak mengambil keputusan tanpa persetujuan Mojtaba Khamenei.
Mengutip PressTV, Pezeshkian menyampaikan pernyataan itu dalam pertemuan dengan kepala dan pengelola Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB) pada hari Minggu.
“Tidak ada keputusan di Republik Islam Iran yang akan diambil di luar kerangka Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) dan tanpa koordinasi serta izin dari Pemimpin,” katanya.
“Ketika sebuah keputusan diambil di bidang diplomasi, semua lembaga, platform, dan gerakan harus mendukungnya sehingga suara yang tunggal dan koheren dapat disampaikan kepada dunia dari Republik Islam.”
Pezeshkian juga mencatat bahwa salah satu tujuan utama musuh selama perang agresi baru-baru ini adalah membungkam suara kebenaran dan narasi pencerahan IRIB.
Ia turut menyampaikan terima kasih kepada staf media nasional, terutama mereka yang terus hadir di lapangan dan meliput peristiwa secara langsung.
“Jika kita semua bergerak bersama dalam kerangka kerja yang ditentukan oleh pedoman Pemimpin dan menjaga solidaritas nasional, musuh tidak akan pernah mencapai tujuan mereka terhadap negara ini,” tegas Pezeshkian.
Selain itu, ia mengecam sejumlah kelompok yang bermusuhan dan anti-Iran yang secara terbuka berharap AS dan rezim Zionis dapat menghancurkan serta memecah belah negara tersebut. Ia mengatakan mereka harus dimintai pertanggungjawaban di hadapan hati nurani bangsa.
Agresi ilegal AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari melalui serangan udara yang menewaskan pejabat dan komandan senior Iran.
Angkatan bersenjata Iran kemudian melancarkan 100 gelombang serangan balasan terhadap target Amerika dan Israel yang dianggap sensitif dan strategis di kawasan tersebut.
Pada 8 April, 40 hari setelah perang dimulai, gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan mulai berlaku.
Namun, putaran pertama negosiasi Iran-AS gagal mencapai kesepakatan.
AS secara sepihak memperpanjang gencatan senjata setelah masa berlakunya berakhir, tetapi memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran.
Iran menahan diri untuk tidak berkomitmen pada putaran kedua pembicaraan.
Pihak berwenang menyebut tuntutan AS yang berlebihan dan pembajakan terhadap kapal-kapal Iran sebagai dua hambatan utama untuk mengakhiri perang.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.