Populasi Anak Tinggal 13,29 Juta, Bangsa Jepang Hadapi Ancaman Penuaan Penduduk
Ini menjadi penurunan selama 45 tahun berturut-turut sekaligus angka terendah sejak sistem pencatatan modern dimulai pada 1950.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Ringkasan Berita:
- Jumlah anak berusia di bawah 15 tahun di Jepang turun menjadi 13,29 juta pada 2026, terendah sejak pencatatan modern dimulai.
- Penurunan terjadi selama 45 tahun berturut-turut dan kini anak-anak hanya mencakup 10,8 persen populasi Jepang.
- Jepang menjadi negara dengan proporsi anak terendah kedua di dunia setelah Korea Selatan.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Jepang melaporkan jumlah anak berusia di bawah 15 tahun kembali menurun pada 2026.
Hingga 1 April 2026, populasi anak di negara tersebut tercatat sebanyak 13,29 juta jiwa atau turun sekitar 350 ribu dibanding tahun sebelumnya.
Baca juga: Perang Iran Gerus Stok Rudal Amerika, Jepang Kena Dampak untuk Hadapi Kekuatan China
Ini menjadi penurunan selama 45 tahun berturut-turut sekaligus angka terendah sejak sistem pencatatan modern dimulai pada 1950.
Dari total tersebut, terdapat sekitar 6,81 juta anak laki-laki dan 6,48 juta anak perempuan.
Anak Hanya 10,8 Persen dari Total Penduduk
Data pemerintah menunjukkan anak-anak kini hanya mencakup 10,8 persen dari total populasi Jepang. Angka itu turun 0,3 persen dibanding tahun lalu dan menjadi penurunan selama 52 tahun berturut-turut.
Jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki populasi di atas 40 juta jiwa, Jepang menjadi negara dengan proporsi anak terendah kedua di dunia setelah Korea Selatan yang mencatat angka 10,2 persen.
Di bawah Jepang terdapat Italia dengan 11,7 persen dan Spanyol sebesar 12,6 persen.
Angka Kelahiran Terus Menurun
Kementerian Kesehatan Jepang juga mencatat jumlah kelahiran pada 2025 turun menjadi sekitar 705 ribu bayi. Penurunan ini terjadi selama 10 tahun berturut-turut dan menjadi rekor terendah baru di negara tersebut.
Masalah penurunan populasi anak sebenarnya sudah berlangsung lama di Jepang. Jumlah anak sempat mencapai puncaknya pada 1954 dengan hampir 30 juta jiwa sebelum mulai terus menurun sejak 1982.
Pemerintah Jepang selama beberapa tahun terakhir telah mencoba berbagai cara untuk meningkatkan angka kelahiran, mulai dari bantuan finansial bagi keluarga muda hingga dukungan pengasuhan anak. Namun, langkah tersebut belum berhasil menghentikan tren penurunan populasi.
Jepang Hadapi Tantangan Penuaan Penduduk
Penurunan jumlah anak menjadi salah satu tantangan besar Jepang karena berdampak pada struktur penduduk dan ekonomi jangka panjang.
Semakin sedikit generasi muda berarti jumlah tenaga kerja produktif berpotensi terus berkurang, sementara jumlah penduduk lanjut usia semakin meningkat.
Para ahli menilai tingginya biaya hidup, tekanan kerja, serta perubahan gaya hidup menjadi beberapa faktor utama yang membuat banyak warga Jepang memilih menunda menikah atau memiliki anak.