Miliaran Dolar Hanya Janji, Program Board of Peace Gagasan Trump Terancam Kolaps
Board of Peace bentukan Trump terancam kolaps! Dana miliaran dolar untuk rekonstruksi Gaza belum cair di tengah krisis kemanusiaan.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- 4 bulan setelah dibentuk, program rekonstruksi Gaza gagasan Donald Trump belum menerima dana sepeser pun meski negara donor menjanjikan bantuan miliaran dolar AS.
- Dana bantuan belum cair karena situasi keamanan di Gaza masih memburuk, sementara sejumlah negara meragukan transparansi dan tata kelola Board of Peace.
- Di tengah krisis kemanusiaan dan kebutuhan pembangunan, dunia kini mempertanyakan apakah Board of Peace mampu bertahan atau justru kolaps sebelum berjalan.
TRIBUNNEWS.COM - Program rekonstruksi Gaza yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini menghadapi ancaman besar.
Empat bulan setelah dibentuk, Dewan Perdamaian atau Board of Peace untuk pembangunan kembali Gaza dilaporkan belum menerima dana tunai sama sekali, meskipun sejumlah negara sebelumnya menjanjikan bantuan miliaran dolar AS.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan proyek rekonstruksi Gaza yang sebelumnya digadang-gadang menjadi langkah besar pasca perang antara Israel dan Hamas.
Menurut sumber yang dikutip dari AFP, dana resmi rekonstruksi Gaza yang dikelola oleh Bank Dunia dan didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga kini belum menerima setoran dana sepeserpun dari negara-negara donor.
Padahal sebelumnya sejumlah negara telah menyatakan komitmen bantuan dalam jumlah besar untuk mendukung pembangunan kembali Gaza yang hancur akibat konflik berkepanjangan.
Sumber tersebut menjelaskan bahwa dana belum dicairkan karena program itu terkendala beberapa faktor.
Mulai dari situasi keamanan yang masih memburuk di Gaza, keraguan negara donor terhadap struktur pengelolaan dana, hingga kontroversi politik di balik pembentukan dewan tersebut.
Meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan sebelumnya, konflik di Gaza belum benar-benar berhenti.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 910 orang tewas sejak gencatan senjata ditandatangani. Angka tersebut menunjukkan bahwa situasi kemanusiaan di wilayah Palestina masih berada dalam kondisi kritis.
Alasan ini yang membuat banyak negara donor menahan pencairan dana dengan dalih situasi lapangan masih tidak stabil dan infrastruktur Gaza terus mengalami kerusakan akibat konflik yang berlanjut.
Janji Dana Miliaran Dolar Belum Direalisasikan
Selain faktor keamanan, struktur Board of Peace juga menjadi sorotan internasional. Dewan tersebut dinilai terlalu berpusat pada pengaruh pribadi Donald Trump dibanding mekanisme multilateral internasional yang selama ini biasa digunakan dalam program bantuan global.
Sejumlah negara besar Eropa seperti Prancis dan Inggris bahkan memilih menolak bergabung dalam dewan tersebut.
Baca juga: Strategi Baru Mossad Israel Terhadap Iran Terungkap: Dari Operasi Rahasia ke Perang Digital
Penolakan itu memperlihatkan adanya ketidakpercayaan terhadap arah politik dan tata kelola program rekonstruksi yang dibentuk Washington.
Kekhawatiran lain muncul setelah laporan Financial Times menyebut adanya penerimaan donasi melalui rekening JPMorgan tanpa mekanisme transparansi independen yang jelas.
Situasi tersebut memicu pertanyaan mengenai pengawasan dana internasional dan akuntabilitas distribusi bantuan untuk Gaza.
Disisi lain, beberapa negara donor utama seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab memang telah menyatakan komitmen bantuan miliaran dolar AS.
Namun hingga kini belum ada kepastian kapan dana tersebut benar-benar akan disalurkan ke rekening resmi program rekonstruksi.
Asal Usul Board of Peace
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya memperkenalkan program bernama Board of Peace sebagai forum internasional yang dibentuk untuk mengkoordinasikan rekonstruksi Gaza pasca perang besar antara Israel dan Hamas.
Pembentukan dewan tersebut muncul setelah konflik berkepanjangan di Gaza menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur, rumah warga, fasilitas kesehatan, sekolah, hingga jaringan listrik dan air bersih.
Situasi kemanusiaan yang semakin memburuk mendorong munculnya berbagai dukungan internasional untuk membangun kembali wilayah Palestina tersebut.
Trump kemudian menawarkan Board of Peace sebagai wadah baru yang disebut akan mengumpulkan dana internasional sekaligus mengatur proses pembangunan kembali Gaza setelah gencatan senjata diberlakukan.
Dalam konsep awalnya, dewan tersebut dirancang menjadi lembaga internasional yang bekerja sama dengan Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengelola bantuan rekonstruksi.
Program itu juga dipromosikan sebagai simbol stabilitas baru di Timur Tengah setelah perang besar yang mengguncang kawasan.
Namun sejak awal pembentukannya, Board of Peace langsung menuai kontroversi di tingkat global.
Donald Trump diketahui mengirim undangan kepada banyak negara dan tokoh dunia untuk bergabung dalam dewan tersebut, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin.
Langkah itu memicu perhatian karena Rusia selama ini bukan bagian utama dari forum diplomasi Barat terkait konflik Timur Tengah.
Selain Rusia, Trump juga mengundang sejumlah negara yang selama ini tidak terlalu aktif dalam proses diplomasi Gaza maupun perundingan Timur Tengah.
Situasi ini membuat banyak pengamat internasional mempertanyakan arah politik dan tujuan utama pembentukan dewan tersebut.
Akibat berbagai hambatan itu, Board of Peace kini dinilai berada dalam posisi sulit. Program yang sebelumnya diharapkan menjadi simbol perdamaian dan pembangunan Gaza justru terancam kehilangan momentum sebelum proyek rekonstruksi benar-benar berjalan.
Sementara itu, kebutuhan pembangunan kembali Gaza terus meningkat dari hari ke hari. PBB dan Uni Eropa sebelumnya memperkirakan wilayah tersebut membutuhkan lebih dari 71 miliar dolar AS dalam satu dekade mendatang untuk membangun kembali rumah warga, fasilitas kesehatan, sekolah, infrastruktur listrik, dan layanan publik lainnya.
Dengan belum cairnya bantuan internasional dan konflik yang masih berlanjut, masa depan rekonstruksi Gaza kini dipenuhi ketidakpastian.
Dunia internasional pun terus memantau apakah Board of Peace mampu bertahan sebagai forum rekonstruksi atau justru akan gagal sebelum menjalankan misinya.
(Tribunnews.com / Namira)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.