Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Malam Mencekam di Ukraina, Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Kyiv, Dnipro, Kharkiv

Pada 1 Juni 2026 malam hingga 2 Juni 2026 dini hari, Rusia meluncurkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Kyiv, Dnipro, dan Kharkiv.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Malam Mencekam di Ukraina, Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Kyiv, Dnipro, Kharkiv
State Emergency Service of Ukraine (Layanan Darurat Negara Ukraina)
RUSIA SERANG UKRAINA - Foto kerusakan di sejumlah bangunan di Dnipro pada Senin (1/6/2026). Pada 2 Juni 2026 dini hari, Rusia meluncurkan serangan besar ke wilayah Kyiv, Dnipro, dan Kharkiv. 
Ringkasan Berita:
  • Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke Kyiv, Dnipro, dan Kharkiv pada 1–2 Juni 2026 yang menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai 55 lainnya.
  • Sebelum serangan terjadi, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa Rusia sedang mempersiapkan serangan besar dan meminta warga tetap waspada terhadap peringatan serangan udara.
  • Di tengah eskalasi perang, Zelenskyy mengklaim Ukraina kini mampu menjangkau hampir seluruh jalur logistik militer Rusia di wilayah pendudukan.

TRIBUNNEWS.COM - Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah wilayah Ukraina pada Senin, 1 Juni 2026 malam hingga Selasa, 2 Juni 2026 dini hari.

Gelombang rudal dan drone menghantam berbagai kota, termasuk Kyiv, Dnipro, dan Kharkiv, menyebabkan sedikitnya lima orang tewas dan 55 lainnya terluka.

Kota Dnipro menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Gubernur regional Oleksandr Hanzha mengatakan sedikitnya lima orang tewas dan 16 lainnya terluka setelah sejumlah rudal dan drone menghantam kawasan permukiman.

Foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan beberapa bangunan mengalami kerusakan parah dan sebagian runtuh akibat serangan tersebut.

Di Kharkiv, serangan Rusia menghantam beberapa distrik kota. Wali Kota Ihor Terekhov melaporkan kerusakan pada gedung apartemen bertingkat, kendaraan, dan bangunan administrasi. Sedikitnya 10 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Sementara itu, ibu kota Kyiv kembali menjadi sasaran utama. Ledakan pertama terdengar sekitar pukul 01.30 waktu setempat sebelum alarm serangan udara berbunyi.

Ribuan warga Kyiv berlindung di dalam stasiun metro dan tempat perlindungan lainnya setelah peringatan serangan udara. Sebagian besar wilayah Ukraina berada di bawah peringatan serangan udara pada Senin malam.

Rekomendasi Untuk Anda

Gelombang ledakan berikutnya terjadi sekitar pukul 02.15 dan 04.00 dini hari, disertai gangguan pasokan listrik di sejumlah wilayah kota.

Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan kebakaran terjadi di beberapa distrik akibat puing-puing rudal dan drone yang jatuh.

Sebuah bangunan apartemen sembilan lantai di Distrik Podilskyi mengalami kerusakan serius setelah sebagian struktur bangunan runtuh.

Baca juga: Rusia Ancam Serangan Besar tapi Tak Kunjung Terjadi, Ukraina Sebut Ini Permainan Psikologis

Petugas penyelamat menduga masih ada warga yang terjebak di bawah reruntuhan.

Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada sejumlah gedung apartemen bertingkat, pusat bisnis, klinik kesehatan, stasiun pengisian bahan bakar, hingga lokasi pembangunan gedung di berbagai distrik Kyiv.

Sedikitnya 29 orang, termasuk dua anak-anak, mengalami luka-luka di ibu kota.

"Di distrik Obolon, mobil-mobil terbakar setelah terkena puing-puing rudal yang berjatuhan. Ada juga kebakaran di dua lokasi di area terbuka, termasuk satu di dekat taman kanak-kanak," kata Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko di Telegram.

Di tengah serangan tersebut, Angkatan Udara Polandia mengerahkan pesawat tempur Polandia dan negara-negara sekutu untuk meningkatkan pengamanan wilayah udara mereka sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan dampak konflik yang meluas, lapor Kyiv Independent.

RUSIA SERANG UKRAINA - Foto kerusakan di sejumlah bangunan di Kyiv, Dnipro, dan Zaporizhzhia pada Senin (1/6/2026). Pada 2 Juni 2026 dini hari, Rusia meluncurkan serangan besar ke wilayah Kyiv, Dnipro, dan Kharkiv.
RUSIA SERANG UKRAINA - Foto kerusakan di sejumlah bangunan di Kyiv, Dnipro, dan Zaporizhzhia pada Senin (1/6/2026). Pada 2 Juni 2026 dini hari, Rusia meluncurkan serangan besar ke wilayah Kyiv, Dnipro, dan Kharkiv. (State Emergency Service of Ukraine (Layanan Darurat Negara Ukraina))

Ancaman Belum Berakhir, Zelenskyy Minta Warga Tetap Waspada

Serangan ini terjadi setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy selama beberapa hari terakhir berulang kali memperingatkan adanya ancaman serangan besar dari Rusia.

Berdasarkan informasi intelijen Ukraina, Moskow disebut telah menyiapkan operasi serangan baru dalam skala besar.

"Peringatan intelijen mengenai serangan Rusia tetap berlaku. Serangan besar-besaran mungkin terjadi, mereka telah mempersiapkannya.

Para pembela langit kita siap 24 jam sehari, sejauh kemampuan yang tersedia saat ini," kata Zelenskyy.

Sebelumnya, Zelenskyy juga mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan peringatan serangan udara dan segera mencari perlindungan saat sirene berbunyi.

Menurutnya, tidak ada jaminan bahwa pihak Rusia akan menahan diri dari eskalasi yang lebih besar.

Ancaman serangan ini muncul setelah Rusia secara terbuka menyatakan akan melancarkan serangan sistematis terhadap fasilitas strategis Ukraina, termasuk yang berada di Kyiv.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bahkan sebelumnya menyebut kemungkinan serangan terhadap "pusat-pusat pengambilan keputusan" Ukraina dan meminta negara-negara asing mempertimbangkan evakuasi personel diplomatik dari ibu kota.

Gelombang serangan terbaru ini memperpanjang kampanye pengeboman Rusia yang dalam beberapa pekan terakhir terus meningkat.

Pada 24 Mei lalu, Rusia melancarkan salah satu serangan terbesar terhadap Kyiv dan wilayah sekitarnya dengan menembakkan sekitar 90 rudal dan 600 drone, yang menyebabkan kerusakan pada sejumlah gedung pemerintahan, fasilitas budaya, serta menewaskan dan melukai puluhan warga sipil.

Eskalasi serangan udara Rusia terjadi di tengah kebuntuan diplomatik dan perlambatan kemajuan pasukan Moskow di medan perang. Sementara itu, Ukraina terus berupaya memperkuat sistem pertahanan udaranya untuk menghadapi ancaman serangan yang diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat, seperti diberitakan KSL.

Zelenskyy: Ukraina Bisa Targetkan Logistik Militer Rusia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim pasukannya kini mampu menjangkau hampir seluruh jalur logistik militer Rusia di wilayah pendudukan setelah serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi Moskow.

Menurut Zelenskyy, antara Januari hingga Mei 2026, Ukraina telah menyerang 15 kilang minyak Rusia, yang berdampak pada pasokan bahan bakar dan kemampuan logistik Rusia.

"Para pejuang kita sekarang memiliki kemampuan untuk menjangkau logistik militer Rusia di hampir seluruh wilayah yang diduduki sementara. Praktis tidak ada jalan aman yang tersisa bagi penjajah di selatan dan timur negara kita," ujarnya.

Pernyataan itu muncul setelah Korps Angkatan Darat Ketiga Ukraina melaporkan bahwa drone mereka telah menguasai sejumlah jalur pasokan penting Rusia di wilayah pendudukan Luhansk. Di saat yang sama, wilayah Krimea yang diduduki Rusia mulai mengalami kelangkaan bahan bakar hingga memaksa otoritas setempat membatasi penjualan bensin.

Zelenskyy juga menyoroti bahwa Rusia telah melarang ekspor bensin dan bahan bakar penerbangan serta mempertimbangkan pembatasan ekspor solar.

Menurutnya, hingga Mei 2026 hampir 40 persen kapasitas penyulingan minyak utama Rusia tidak beroperasi, menunjukkan dampak signifikan dari kampanye serangan Ukraina terhadap sektor energi Rusia, lapor Kyiv Independent.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina secara terbuka pecah pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Meski demikian, akar konflik kedua negara sebenarnya telah berkembang jauh sebelumnya, terutama sejak Ukraina memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991.

Setelah merdeka, Ukraina mulai menentukan arah kebijakan dalam negeri dan luar negerinya secara independen. Dalam beberapa dekade berikutnya, Kyiv semakin mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara anggota Uni Eropa. Ukraina juga menunjukkan keinginan untuk bergabung dengan NATO, aliansi pertahanan yang dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan strategisnya.

Ketegangan meningkat tajam pada tahun 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan yang berujung pada lengsernya Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Moskow. Tak lama setelah itu, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dan memberikan dukungan kepada kelompok separatis pro-Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk, kawasan yang dikenal sebagai Donbas. Konflik bersenjata di wilayah tersebut kemudian berlangsung selama bertahun-tahun.

Sejumlah upaya diplomatik sempat dilakukan untuk meredakan konflik, termasuk melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi Prancis dan Jerman. Namun, implementasi kesepakatan tersebut menghadapi banyak hambatan karena kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.

Pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer di Ukraina. Moskow menyatakan langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina dan mencegah ekspansi NATO. Sebaliknya, Ukraina bersama banyak negara Barat menilai tindakan itu sebagai invasi yang melanggar kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina.

Sejak perang berlangsung, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah negara sekutu memberikan bantuan militer, ekonomi, serta kemanusiaan kepada Ukraina. Sementara itu, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menyasar sektor keuangan, energi, perdagangan, dan ekonomi secara luas.

Dampak perang tidak hanya dirasakan oleh Rusia dan Ukraina, tetapi juga memengaruhi kondisi global. Konflik tersebut memicu gangguan pasokan energi dan pangan dunia, meningkatkan inflasi di sejumlah negara, serta memperbesar ketegangan geopolitik internasional.

Hingga kini, pertempuran masih terus berlangsung meskipun berbagai upaya diplomasi dan negosiasi perdamaian terus diupayakan.

Namun, proses dialog yang sebelumnya mendapat dorongan dari Amerika Serikat mengalami perlambatan setelah Washington terlibat dalam konflik dengan Iran, sehingga perhatian diplomatik AS kini juga terfokus pada perkembangan krisis di kawasan Timur Tengah.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas