Upacara Bendera Menyelamatkan Ribuan Anak-anak dari Gempa
Gempa kuat itu menewaskan sedikitnya 37 orang di Filipina, dengan sebagian besar korban tertimpa reruntuhan bangunan.
Penulis:
Hasanudin Aco
Dia berterima kasih kepada Tuhan karena telah menyelamatkan mereka.
Dalam video tersebut menunjukkan beberapa siswa menutupi kepala mereka dengan tangan saat berjalan menuju tempat aman.
Sementara siswa lain dengan tenang berdiri atau duduk di lapangan saat gempa bumi yang terjadi pada hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran tersebut.
Karena para siswa, guru, dan orang tua sudah berada di luar ruangan untuk upacara pengibaran bendera, mereka dapat melakukan prosedur keselamatan di tengah gempa bumi dan menghindari terjebak di dalam gedung yang terancam runtuh.
Babantuan mengatakan tidak ada seorang pun dari sekolah mereka yang terluka.
Berdasarkan penilaian awal, sembilan jembatan dan 19 jalan mengalami kerusakan akibat gempa.
Otoritas Filipina memperkirakan kerugian akibat kerusakan infrastruktur mencapai lebih dari 900 juta peso.
Pihak berwenang mencatat 1.889 rumah yang rusak, di antaranya sekitar 1.500 rumah hancur total, sekolah, gedung pemerintahan, dan toko-toko.
Gempa di Sulut
Saat bersamaan gempa bumi melanda wilayah Sulawesi Utara (Sulut) dengan kekuatan Magnitudo 7,7.
Berdasarkan rilis BMKG, pusat gempa terjadi di arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe di kedalaman 105 Km.
Kepulauan Sangihe berada di perairan utara Pulau Sulawesi yang membentang ke arah utara hingga berbatasan langsung dengan perairan Davao del Sur, Filipina.
Kepulauan Sangihe merupakan sebuah kabupaten mandiri beribu kota di Tahuna.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengakhiri atau mencabut status peringatan dini tsunami untuk wilayah Indonesia pada Senin (8/6/2026) pagi pukul 10.15 WIB.
Belum dilaporkan korban jiwa dalam gempa itu, termasuk kerusakan bangunan.