Peringatan Trump ke Netanyahu: Hati-hati atau Kau Akan Sendirian Sebentar Lagi
Donald Trump memperingatkan Benjamin Netanyahu bahwa Israel bisa kehilangan dukungan AS jika kembali memicu eskalasi perang dengan Iran.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Donald Trump memperingatkan Benjamin Netanyahu bahwa Israel bisa kehilangan dukungan AS jika kembali memicu eskalasi perang dengan Iran.
- Trump mengaku telah meminta Netanyahu menahan diri dan mengatakan beberapa negara di kawasan mendesaknya untuk menghentikan konflik.
- Trump menegaskan negosiasi damai dengan Iran masih berlangsung dan memperingatkan bahwa perang besar akan menimbulkan biaya ekonomi serta geopolitik yang sangat besar.
TRIBUNNEWS.COM - Iran dan Israel saling menyerang pada Senin (8/6/2026) untuk pertama kalinya sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada April lalu.
Perang yang berlarut-larut itu turut berdampak pada Indonesia, terutama karena konflik di Selat Hormuz membuat harga minyak dunia melonjak.
Presiden AS Donald Trump lantas memperingatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa ia mungkin akan sendirian dalam waktu dekat jika perang kembali terjadi.
"Saya berkata, 'Bibi, sebaiknya kau berhati-hati, atau kau akan sendirian dalam waktu dekat,'" kata Trump dalam wawancara telepon dengan Axios pada Senin (8/6/2026) waktu setempat.
Axios melaporkan bahwa Trump menelepon Netanyahu pada Minggu malam dan memintanya untuk tidak membalas serangan Iran setelah Teheran melancarkan serangan ke Israel.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengklaim bahwa Israel memberi pemberitahuan yang sangat terlambat kepada AS mengenai serangan pada Minggu tersebut.
"Mereka sudah dalam perjalanan. Tetapi akhirnya saya membatasi (serangan Israel)," kata Trump.
Trump juga mengatakan kepada Axios bahwa ia menerima panggilan dari lima negara berbeda di kawasan yang memintanya mendesak Netanyahu untuk berhenti.
"Negara-negara ini sangat prihatin. Mereka menyukai kesepakatan yang telah kami negosiasikan," kata Trump.
Trump juga mengklaim bahwa pemerintahannya menerima pesan dari Iran pada Senin pagi yang menyatakan kesediaan untuk berhenti menembak jika Israel melakukan hal yang sama.
"Mereka menghubungi kami dan mengatakan bahwa mereka tidak akan melakukan serangan lagi serta meminta kami memberi tahu Israel agar tidak melakukan serangan lagi," kata Trump.
Selain itu, dalam percakapan telepon dengan Netanyahu, Trump mengatakan kepada ABC News bahwa ia meminta PM Israel itu untuk menggunakan penilaiannya sendiri.
Baca juga: 5 Populer Internasional: Israel Serang Iran - Bangunan Ambruk Akibat Gempa M 7,8 Filipina
Trump memperingatkan Netanyahu agar tidak merusak upayanya mencapai kesepakatan damai dengan Iran.
"Saya tidak ingin melakukan apa pun yang akan merusak kesepakatan itu, tetapi saya berkata, 'Kau harus menggunakan penilaianmu sendiri.' Pergilah dan gunakan penilaianmu sendiri, tetapi saya tidak ingin kesepakatan itu dirugikan," kata Trump kepada Kepala Koresponden ABC News di Washington, Jonathan Karl, dalam wawancara telepon pada Senin.
Trump menegaskan bahwa negosiasi dengan Iran masih berlangsung secara aktif dan bahwa pihaknya sedang berusaha menyelesaikannya.
"Sebenarnya cukup sederhana. Yang berkuasa adalah yang menang. Kita memiliki semua kekuasaan," ujarnya.
Trump mengatakan bahwa dimulainya kembali serangan militer AS dalam skala besar akan memakan biaya mahal dan mengakibatkan Selat Hormuz ditutup lebih lama selama berbulan-bulan.
Dalam unggahan di media sosial, Trump mengatakan pembicaraan damai menuju kesepakatan sedang berlangsung, kecuali jika terhambat oleh ketidaktahuan atau kebodohan.
Ketika ditanya apa maksud pernyataan tersebut, Trump mengatakan kepada ABC News, "Jika orang-orang bodoh, kita akan berakhir pada situasi di mana kita harus menghancurkan seluruh infrastruktur suatu negara, dan saya rasa itu bukan hal yang baik, karena seseorang harus membangunnya kembali."
Ia menyarankan bahwa jika AS menghancurkan infrastruktur Iran, AS kemungkinan akan membantu membiayai pembangunan kembali negara tersebut.
Baca juga: Di Balik Perang Iran, Gelombang Eksekusi Diam-Diam Meluas
"Seseorang harus membangun semua infrastruktur itu, jembatan baru, ini dan itu, pembangkit listrik baru. Anda tahu, mereka berbicara tentang satu triliun dolar, mungkin lebih. Dan Anda tahu itulah mengapa kita mungkin akan terlibat dalam pembangunan kembali, membantu mereka membangun kembali," katanya.
Ketika ditanya apakah itu akan seperti Marshall Plan untuk Iran, Trump menjawab, "Ya," lalu dengan cepat menambahkan, "Tapi kita akan mendapatkan setengah dari minyak mereka."
Mengutip Britannica, Marshall Plan atau Rencana Marshall adalah program bantuan ekonomi besar-besaran yang disponsori AS dan mulai diberlakukan pada 1948.
Program tersebut menyediakan lebih dari 13 miliar dolar AS (setara dengan sekitar 180 miliar dolar AS saat ini) untuk membantu 16 negara di Eropa Barat dan Selatan membangun kembali ekonomi mereka yang hancur akibat perang, memodernisasi industri, serta mencegah penyebaran komunisme.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.