AI Semakin Dikritik, Tapi Penggunanya Justru Menembus Rekor 1 Miliar
Penggunaan AI global terus meningkat meski kekhawatiran terhadap dampak teknologi ini semakin besar.
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
- Penggunaan AI global terus meningkat meski kekhawatiran terhadap dampak teknologi ini semakin besar.
- ChatGPT berhasil mencapai satu miliar pengguna bulanan dan menjadi aplikasi tercepat yang mencapai angka tersebut.
- Para analis menilai kritik publik tidak akan menghentikan perkembangan AI karena teknologi ini semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja.
TRIBUNNEWS.COM - Seiring para lulusan perguruan tinggi mencemooh penyebutan kecerdasan buatan (AI) dalam pidato wisuda, serta tokoh seperti Paus dan perusahaan teknologi besar Anthropic yang memperingatkan risiko pengembangan AI tanpa pengendalian, pandangan publik terhadap teknologi ini mulai berubah dibandingkan antusiasme besar pada masa awal kemunculannya.
Namun, meskipun kritik publik terhadap AI semakin meningkat, penggunaan AI secara global justru melonjak ke tingkat tertinggi sepanjang sejarah.
Mengutip CNBC.com, OpenAI melalui ChatGPT telah mencapai sekitar satu miliar pengguna aktif bulanan (MAU) pada Mei, berdasarkan perkiraan terbaru dari perusahaan intelijen pasar Sensor Tower.
Aplikasi AI lain seperti Claude milik Anthropic juga mencatat pertumbuhan pengguna hingga tiga digit dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan pencapaian satu miliar pengguna bulanan tersebut—sekitar 3,5 tahun setelah diluncurkan pada November 2022—ChatGPT menjadi aplikasi tercepat yang mencapai angka tersebut.
ChatGPT melampaui rekor sebelumnya yang dipegang Google Maps, yang membutuhkan sekitar lima tahun sejak peluncuran untuk mencapai jumlah penggunaan serupa, menurut Sensor Tower.
OpenAI, yang tidak memberikan tanggapan terhadap permintaan komentar dari CNBC, sebelumnya menyebut pada Februari bahwa ChatGPT memiliki lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan di berbagai platform web dan perangkat seluler.
Perusahaan juga mengklaim jumlah kunjungan web dan sesi penggunaan aplikasi ChatGPT lebih dari enam kali lipat dibandingkan platform AI terbesar berikutnya.
Baca juga: Adopsi AI oleh Perbankan dan Tambang Indonesia Sangat Tinggi, Cyber Security Harus Diperkuat
Menurut Sensor Tower, model AI besar milik OpenAI tersebut masih memimpin pasar, diikuti oleh pesaing seperti Gemini dari Google, Doubao dari ByteDance, serta Claude dari Anthropic.
Meski ChatGPT masih unggul dalam jumlah pengguna bulanan, pesaingnya mulai mengejar dengan cepat. Penggunaan bulanan Claude dan Meta AI masing-masing meningkat 640 persen dan 973% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara ChatGPT tumbuh sekitar 62%, berdasarkan perkiraan Sensor Tower.
Menurut Abe Yousef, analis senior Sensor Tower, meskipun ChatGPT memiliki keunggulan sebagai pelopor, pertumbuhan pesaingnya didorong oleh peningkatan kemampuan model AI serta perubahan positif dalam pandangan pasar.
Yousef mencontohkan kesepakatan OpenAI pada Februari dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk menggunakan model AI mereka pada jaringan rahasia Pentagon sebagai salah satu faktor yang memengaruhi persepsi publik.
Data Sensor Tower menunjukkan bahwa pencopotan aplikasi ChatGPT meningkat sekitar 295?lam satu hari pada 28 Februari, sehari setelah OpenAI mengumumkan kerja sama tersebut.
Sebaliknya, Anthropic mendapat dorongan positif karena sikapnya terhadap isu tersebut. Claude berhasil menduduki posisi teratas di App Store pada akhir pekan yang sama, mengalahkan ChatGPT dalam jumlah unduhan di Amerika Serikat untuk pertama kalinya setelah Anthropic menolak keterlibatan dalam operasi Pentagon.
Baik Anthropic maupun OpenAI kini mulai mempersiapkan langkah menuju penawaran saham perdana (IPO). OpenAI yang dipimpin Sam Altman mengajukan dokumen IPO pada Senin sore di Amerika Serikat, setelah Anthropic mengajukan prospektus IPO kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) seminggu sebelumnya.
Penggunaan AI Tetap Tumbuh Meski Ada Kekhawatiran
Walaupun pertimbangan etika pengguna dapat memengaruhi penggunaan AI dalam beberapa kasus, seperti konflik Anthropic dengan Departemen Pertahanan, para analis menilai tren pertumbuhan AI secara keseluruhan kemungkinan besar tidak akan berhenti hanya karena perubahan sentimen publik.
“Pertumbuhan adopsi AI yang kuat tidak menunjukkan tanda-tanda melambat,” ujar Hanno Stegmann, direktur pelaksana dan mitra di tim AI dan teknologi Boston Consulting Group (BCG X).
Pernyataan tersebut muncul ketika kekhawatiran terhadap AI semakin meningkat. Anthropic baru-baru ini menyerukan penghentian sementara pengembangan AI global karena memperingatkan bahwa perkembangan tanpa pengawasan dapat menjadi sulit dikendalikan.
“Jika sistem AI mampu sepenuhnya membangun penerusnya sendiri, cara kita mengamankan, memantau, dan mengatur perilakunya menjadi jauh lebih penting,” tulis perusahaan tersebut dalam sebuah unggahan blog.
Peringatan Anthropic sejalan dengan pernyataan sebelumnya dari Paus Leo dalam surat yang diterbitkan pada 25 Mei, yang memperingatkan meningkatnya ketimpangan dan risiko terhadap keselamatan publik akibat permintaan AI yang terus berkembang.
Kekhawatiran serupa juga muncul dalam acara wisuda perguruan tinggi di Amerika Serikat, ketika banyak lulusan baru mengejek penyebutan AI karena khawatir teknologi tersebut dapat menggantikan pekerjaan tingkat awal serta menimbulkan masalah etika dan lingkungan.
Sementara itu, survei CNBC pada Mei menunjukkan bahwa sebagian pekerja menghindari penggunaan AI karena alasan moral, lingkungan, atau privasi.
“Saya memahami mengapa generasi yang memasuki dunia kerja di tengah perubahan besar seperti ini merasa tidak yakin. Itu adalah respons yang wajar terhadap masa transisi yang nyata,” kata Stegmann.
Namun, ketika AI semakin menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, sentimen negatif terhadap teknologi ini kemungkinan hanya memberikan sedikit pengaruh terhadap jumlah pengguna secara keseluruhan.
Survei BCG terhadap sekitar 12.000 pekerja yang dirilis pada 3 Juni menunjukkan bahwa 74% pekerja rutin menggunakan AI, meningkat 23 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih dari 40% pengguna rutin mengatakan AI membantu mereka menghemat waktu kerja setara satu hari penuh setiap minggu.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan pasar AI yang terus berkembang dapat mencapai nilai lebih dari 4,8 triliun dolar AS pada 2033.
“Walaupun sentimen negatif terhadap AI semakin meningkat, konsumen tetap semakin banyak menggunakan dan bergantung pada platform-platform ini,” kata Yousef dari Sensor Tower.
(*)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.