Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Pokémon Go Bikin Geger! Data Pemain Diduga Dipakai Militer AS Petakan Dunia

Pokémon Go bikin geger! Data pemain diduga dipakai latih AI drone militer AS. Publik kini khawatir privasi digital disalahgunakan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Memuat video…
Ringkasan Berita:
  • Pokémon Go menjadi sorotan setelah data pemain diduga dipakai untuk melatih AI yang dapat membantu navigasi drone militer di zona perang.
  • Kontroversi muncul usai Niantic Spatial bekerja sama dengan Vantor yang mengembangkan sistem navigasi drone tanpa GPS, teknologi yang disebut penting dalam operasi militer modern.
  • Meski perusahaan membantah data pemain diberikan langsung ke militer, pengakuan bahwa data Pokémon Go dipakai melatih model AI memicu kekhawatiran global soal privasi digital..

TRIBUNNEWS.COM - Game Pokémon Go menjadi perhatian dunia usai data pemainnya disebut digunakan untuk melatih kecerdasan buatan atau AI yang dapat membantu navigasi drone militer AS di zona perang.

Isu itu mencuat setelah laporan media teknologi DroneXL mengungkap hubungan antara data pemindaian lokasi milik pemain Pokémon Go dengan pengembangan teknologi navigasi drone berbasis kecerdasan buatan.

Sorotan publik bermula dari fitur pemindaian lokasi atau “PokéStops Scan” yang diperkenalkan pengembang game, Niantic, pada tahun 2021.

Dalam fitur tersebut, pemain diberikan hadiah dalam game jika bersedia memindai lokasi nyata menggunakan kamera ponsel mereka.

Saat itu, banyak pengguna menganggap fitur tersebut hanya digunakan untuk meningkatkan kualitas pengalaman augmented reality dalam permainan.

Namun, seiring waktu, data visual yang terkumpul ternyata dimanfaatkan untuk mengembangkan model AI yang mampu memahami bentuk dan struktur dunia nyata secara detail.

AI Disebut Bisa Membantu Drone Militer

Isu ini semakin besar setelah perusahaan pecahan Niantic, yakni Niantic Spatial, mengumumkan kerjasama dengan Vantor pada Desember lalu.

Rekomendasi Untuk Anda

Mengutip dari The Guardian, Vantor diketahui mengembangkan sistem navigasi spasial untuk drone, termasuk teknologi yang digunakan oleh sejumlah militer.

Dalam pengumuman kerja sama tersebut, kedua perusahaan menyebut teknologi AI itu dirancang untuk membantu drone tetap dapat bergerak dan mengenali lingkungan secara akurat meski berada di wilayah tanpa GPS atau saat sinyal mengalami gangguan.

Baca juga: AS dan Iran Disebut Siap Teken Perjanjian Islamabad, Pesawat Militer AS Bergerak ke Eropa

Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran publik karena kemampuan navigasi tanpa GPS merupakan salah satu teknologi penting dalam operasi militer modern, terutama di zona perang.

Kecurigaan semakin menguat setelah Chief Product Officer Vantor, Peter Wilczynski, dalam sebuah wawancara menyebut medan perang modern akan dipenuhi sistem otomatis yang membutuhkan perangkat lunak navigasi canggih untuk mendukung operasi militer secara cepat dan presisi.

Terlebih beberapa waktu lalu, Niantic Spatial dan Vantor mengakui bahwa data pemindaian dari game tersebut memang digunakan untuk melatih model dasar AI milik Niantic.

Pengakuan inilah yang kemudian memicu perdebatan global mengenai privasi pengguna, keamanan data digital, serta kemungkinan pemanfaatan aplikasi hiburan untuk kepentingan militer dan teknologi perang modern.

Perusahaan Bantah Data Langsung Diberikan ke Militer

Meski isu ini terus menjadi sorotan publik, Niantic Spatial dan Vantor membantah bahwa data pemindaian pemain Pokémon Go diberikan secara langsung kepada pihak militer.

Kedua perusahaan menegaskan bahwa data tersebut hanya digunakan untuk melatih model dasar kecerdasan buatan atau AI milik Niantic dan tidak diserahkan langsung kepada Vantor.

Namun, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran publik. 

Sejumlah pengamat teknologi menilai kasus ini menunjukkan bagaimana data pengguna aplikasi digital dapat berkembang jauh melampaui tujuan awal penggunaannya.

Kepala kebijakan Digital Rights Watch, Tom Sulston, mengatakan penggunaan data warga sipil untuk kepentingan militer merupakan hal yang patut dikhawatirkan.

Menurutnya, sebagian besar pengguna biasanya tidak membaca secara rinci syarat dan ketentuan aplikasi saat memainkan game, sehingga banyak yang tidak menyadari bagaimana data mereka dapat dimanfaatkan di kemudian hari.

Sulston juga mendesak regulator teknologi untuk memperketat perlindungan terhadap pengguna agar perusahaan digital tidak mengeksploitasi data pribadi secara berlebihan.

Sementara itu, peneliti Universitas Sydney, Dr. Rob Nicholls, menilai kasus ini kemungkinan hanya sebagian kecil dari praktik pemanfaatan data aplikasi untuk kepentingan lain di luar tujuan awalnya.

Ia mencontohkan bagaimana data olahraga dari aplikasi Strava sebelumnya pernah digunakan untuk mengidentifikasi lokasi fasilitas militer di sejumlah negara.

Kekhawatiran publik semakin meningkat setelah Vantor pada Februari lalu mengumumkan kerja sama dengan Angkatan Darat Amerika Serikat senilai hingga 217 juta dolar AS untuk pengembangan perangkat lunak pelatihan militer.

Di sisi lain, Niantic juga diketahui telah menjual divisi game-nya kepada Scopely pada 2025 dengan nilai transaksi mencapai 3,5 miliar dolar AS.

Kasus ini kini memicu perdebatan global mengenai batas penggunaan data digital, perlindungan privasi pengguna, serta potensi pemanfaatan teknologi hiburan untuk kepentingan militer dan keamanan modern.

(Tribunnews.com / Namira)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas