Sarapan, Bukan Sekadar Mengganjal Perut
Para pakar gizi sepakat tujuan sarapan pagi bukan sekadar mengganjal perut dengan makanan
Editor:
Dewi Agustina
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Para pakar gizi sepakat tujuan sarapan pagi bukan sekadar mengganjal perut dengan makanan. Tapi memiliki korelasi signifikan terhadap kinerja otak dan metabolisme tubuh seseorang.
Dalam beberapa penelitian, orang yang terbiasa sarapan memiliki daya ingat yang terpelihara baik, terlatih disiplin, dan lebih peka terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.
Sekurangnya ada tiga poin penting untuk mendapatkan manfaat optimal sarapan. Poin pertama, menu yang mengandung zat gizi seimbang berupa karbohidrat kompleks, protein mengandung asam amino lengkap, vitamin, dan mineral. Tentu dengan takaran cukup sesuai usia.
Kedua, ketika sarapan diajurkan mengonsumsi nasi, roti, jagung, kentang, dan pasta. Sebab, jenis-jenis makanan tersebut tak cuma mengandung karbohidrat, tapi juga serat dan vitamin. Kombinasikan makanan utama itu dengan lauk-pauk sumber protein dan aneka sayuran bervitamin.
Menu sarapan dengan gizi berimbang yang kita konsumsi akan diproses di dalam sistem pencernaan. Sari makanan tersebut lalu diserap tubuh melalui darah. Rangkaian proses ini membuat kadar gula darah (glukosa) dan mikro nutrient dalam tubuh meningkat secara perlahan. Keduanya merupakan sumber energi metabolisme sistem kerja otak.
Poin ketiga, menciptakan suasana nyaman dan waktu yang cukup buat sarapan. Momentum ini bisa dimanfaatkan buat bercengkerama dengan pasangan hidup, rekan bisnis, anak-anak dan anggota keluarga lain. Waktu yang cukup membuat kita tidak tergesa mengunyah dan menelan makanan karena tergesa mengunyah makanan bisa membuat tersedak dan mengganggu sistem pencernaan.