Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Kenali Jenis Gula Tambahan dan Dampaknya

Nutrisi yang mengandung indeks glikemik (Glycaemic Index atau GI) dan beban glikemik (Glycaemic Load atau GL) akan mempengaruhi kerja

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Dewi Agustina
Memuat video…

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Masyarakat diharapkan mengenali jenis gula tambahan berlebih dan mewaspadai indeks dan beban glikemik yang tinggi pada kandungan nutrisi anak serta dampaknya.

Nutrisi yang mengandung indeks glikemik (Glycaemic Index atau GI) dan beban glikemik (Glycaemic Load atau GL) akan mempengaruhi kerja pankreas dan organ-organ lainnya akibat exposure dari gula darah yang tinggi.

GI dan GL yang tinggi akan membuat anak menjadi tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, mengalami kenaikan berat badan yang cepat serta kerusakan pada pankreas yang akan menyebabkan terganggunya produksi insulin dan berisiko menderita diabetes tipe 2 saat dewasa.

DR. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, Sp.GK, dari Departemen ilmu Gizi FKUI/RSCM menyatakan berdasarkan kategorinya, jenis gula tambahan adalah sirup jagung padat, sukrosa dan sirup glukosa padat.

"Sementara itu karbohidrat yang memiliki GI yang tinggi adalah glukosa dan roti tawar, GI sedang yakni sukrosa dan madu dan GI rendah yakni fruktosa," ungkapnya dalam talkshow Kenali Jenis Gula Tambahan, Indeks dan Beban Glikemik Serta Dampaknya pada Anak! di Jakarta, Kamis (23/2/2012).

Makanan dengan kandungan karbohidrat olahan yang tinggi seperti gula, tepung-tepungan dan maltodextrins memiliki beban glikemik yang tinggi. Hingga saat ini tingginya angka konsumsi karbohidrat olahan memicu penurunah kualitas nutrisi makanan yang dikonsumsi anak di seluruh dunia.

Rekomendasi Untuk Anda

"Karbohidrat olahan secara cepat melepaskan energi ke dalam tubuh. Sebaliknya, karbohidrat yang dicerna lebih lambat memiliki beban glikemik yang rendah dan secara bertahap melepaskan energi dalam tubuh dalam jangka waktu yang cukup lama,” ungkap Fiastuti.

Mengenai kandungan gula tambahan pada susu, Fiastuti mengungkapkan susu merupakan bahan pangan penting bagi anak. Di negara-negara Asia konsumsi susu anak sangat tinggi.

Selain mengandung protein, kalsium, riboflavin, vitamin A dan Zinc, susu berperan dalam menjadi alat transpor vitamin D dan zat besi. Produk susu yang mengandung gula tambahan seperti sukrosa, maltodextrins dan sirup glukosa dapat meningkatkan kepadatan energi, mengurangi nilai gizi susu dan kecenderungan kelebihan glikemia dan insulin.

"Karbohidrat tambahan dihitung dengan mengurangi total karbohidrat dalam produk susu dengan karbohidrat alaminya.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan bahwa asupan gula tambahan tidak melebihi 10 persen dari total energi yang dikonsumsi untuk menghindari kelebihan energi dalam tubuh anak.

"Sepuluh persen sama nilainya 4 sampai 5 sendok teh untuk anak usia 1-3 dan 5-8 sendok teh untuk anak usia 3 tahun keatas," ungkapnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas