Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Beras yang Semerbak dan Putih Justru Tak Sehat Dikonsumsi, Ini Alasannya

Beras yang semerbak wangi dan putih justru tak sehat dikonsumsi karena biasanya ditambah pemutih dan pewangi kimia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Beras yang Semerbak dan Putih Justru Tak Sehat Dikonsumsi, Ini Alasannya
Popmatters.com
Beras putih dan wangi belum tentu sehat dikonsumsi 

TRIBUNNEWS.COM - Beras yang berwarna putih bersih lebih disukai konsumen karena dianggap bermutu tinggi. Namun berhati-hatilah karena warna putih tersebut belum tentu berasal dari warna alami.

Saat ini, beberapa produsen nakal menambahkan pemutih pada beras agar terlihat lebih menarik.

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Agustin Kusumayati mengatakan, terlalu sering konsumsi makanan yang diberi pewarna dapat menyebabkan seseorang terkena kanker.

“Umumnya kalau makanan pakai zat tambahan itu ujungnya berupa keganasan, kanker di berbagai tempat,” ujar Agustin dalam diskusi keamanan pangan di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (1/4/2015).

Menurut Agustin, sulit membedakan beras yang diberi pemutih maupun tidak. Untuk itu, perlu waspada terhadap beras yang bewarna putih bersih. Selain diberi pemutih, ada pula beras yang diberi pewangi.

Padahal, makanan dan minuman yang dipergunakan untuk masyarakat harus didasarkan pada standar dan persyaratan kesehatan.

Hal senada dikatakan Kasubdit Penerapan dan Pengawasan Keamanan Pangan Kementerian Pertanian Ita Munardini. Menurut dia, saat ini banyak beras yang putih dan wangi tidak alami.

Rekomendasi Untuk Anda

“Jangan bangga dulu makan beras putih dan wangi. Bisa jadi ditambah pewangi dan pemutih,” kata dia.

Ita mengatakan, Kementerian Pertanian mengeluarkan nomor registrasi untuk pangan hasil pertanian dengan melihat revitalisasi penggilingan padi atau (rice milling unit/RMU).

“Konsumen apabila ingin mengonsumsi beras harus melihat nomor registrasi yang dikeluarkan Kementan. Kalau warung-warung memang belum ada. Semua tergantung pilihan konsumen,” kata dia.

Menurut Ita, untuk mengatasi keamanan pangan perlu melibatkan banyak pihak dan lintas sektor. (Dian Maharani)

Sumber: Kompas.com
Tags:
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas