Tribun Kesehatan
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Dalam Setahun Ada 267 Pasien Kasus Depresi Akibat Poligami Dirawat Di RS Hasan Sadikin

Data dari Poliklinik Dokter Jiwa RS itu menunjukkan ada 267 dari 2 ribuan kasus stres hingga gangguan jiwa dalam satu tahun ini yang diduga disebabkan

Dalam Setahun Ada 267 Pasien Kasus Depresi Akibat Poligami Dirawat Di RS Hasan Sadikin
screenshot
Dokter Spesialis Anak sekaligus anggota Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Anak PP Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Tubagus Rachmat Sentika, SpA, MARS dalam Diskusi Ilmiah virtual bertajuk 'Poligami Di Tengah Perjuangan Mencapai Ketangguhan Keluarga, Masyarakat dan Bangsa', Selasa (14/4/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dokter Spesialis Anak sekaligus anggota Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Anak PP Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Tubagus Rachmat Sentika, SpA, MARS mengatakan bahwa suami yang melakukan praktik poligami, tidak hanya akan berdampak pada istrinya namun juga anak.

Ia menjelaskan bahwa timnya sempat melakukan Focus Group Discussion (FGD) terkait hal ini di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, karena dirinya masih menjabat sebagai Dewan Pengawas di RS tersebut.

Data dari Poliklinik Dokter Jiwa RS itu menunjukkan ada 267 dari 2 ribuan kasus stres hingga gangguan jiwa dalam satu tahun ini yang diduga disebabkan oleh praktik poligami.

"Ternyata (poligami) sering menjadi penyebab stres dan depresi yang berujung menjadi penyakit jiwa. Di tempat Poliklinik Dokter Jiwa Rumah Sakit Hasan Sadikin, setidaknya setahun ada sekitar 267 dari sekitar 2 ribuan pasien yang prediksinya ujungnya karena persoalan poligami," ujar dr Rachmat, dalam Diskusi Ilmiah virtual bertajuk 'Poligami Di Tengah Perjuangan Mencapai Ketangguhan Keluarga, Masyarakat dan Bangsa', Selasa (14/4/2021).

Kasus depresi hingga gangguan jiwa ini, kata dia, lantaran sang suami menikah dengan perempuan lain.

Tindakan ini disebut dapat menimbulkan kekerasan psikologis terhadap perempuan, dalam hal ini istrinya.

"Jadi suaminya menikah lagi, kemudian ketahuan, ribut dan ujungnya adalah korbannya pada perempuan (mengalami) stres dan depresi," kata dr Rachmat.

Hal yang sama disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga yang mengatakan bahwa kaum perempuan dapat mengalami kekerasan psikologis (psikis) karena merasa adanya tekanan saat menjalani hubungan poligami.

Tidak sedikit kasus yang menunjukkan bahwa praktik poligami membuat perempuan yang mengalami hal ini merasa diperlakukan tidak adil oleh suaminya.

"Poligami menyebabkan perempuan mendapatkan kekerasan psikis atau menjadi tertekan, salah satunya karena tidak merasa diperlakukan dengaan adil," jelas Bintang, dalam agenda tersebut.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas