Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Nyeri Kepala dan Leher Jadi Indikator Salah Satu Penyakit Saraf yang Serius

Nyeri kepala dan leher tidak bisa dianggap remeh. Apabila tidak diatasi dengan segera, dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Willem Jonata
zoom-in Nyeri Kepala dan Leher Jadi Indikator Salah Satu Penyakit Saraf yang Serius
https://www.freepik.com/
Ilustrasi. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nyeri kepala dan atau rasa pegal linu di areal leher pada jangka waktu sesaat atau setidaknya dalam rentang waktu satu dua hari, dianggap hal normal oleh sebagian orang.

Sakit kepala atau nyeri pada leher bisa terasa ringan hingga berat. Umumnya sakit kepala dapat diobati dengan obat-obatan antinyeri yang dijual bebas. Namun untuk sakit kepala yang dipicu oleh penyakit serius, diperlukan penanganan lebih lanjut.

Dokter spesialis bedah saraf dari Rumah Sakit Siloam Semanggi MRCCC, Dr dr Agus Mahendra Inggas SpBS mengatakan, nyeri kepala dan leher tidak bisa dianggap remeh karena  apabila tidak diatasi dengan segera, dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan.

Baca juga: Sistem Saraf Manusia: Pengertian Sistem Saraf, Jenis Sistem Saraf, dan Gangguan pada Saraf

"Masyarakat harus memahami, kenapa rasa sakit kepala dan nyeri leher harus segera ditangani karena secara ilmu kesehatan, sakit kepala, misalnya adanya rasa pusing (biasanya) adanya gangguan keseimbangan contoh  vertigo dan lainnya.

Sedangkan nyeri (sakit) kepala merupakan kondisi dengan adanya 'sesuatu' yang tidak normal dalam kepala.

"Jika hal ini dirasakan secara kontinyu, segera diperiksa ke rumah sakit. Jangan ditunda," kata Agus Mahendra saat edukasi bincang sehat di Kanal Live Instagram MRCCC belum lama ini.

Rekomendasi Untuk Anda

Nyeri kepala diidentifikasi menjadi Primer dan Sekunder.

Primer adalah sakit atau nyeri kepala yang 'tidak diketahui' penyebabnya, adapun sakit kepala sekunder adalah sakit atau nyeri kepala yang diketahui penyebabnya.

Adanya metode VAS ( Visual Analog Score) digunakan untuk mengukur intensitas dan 'kadar' dari nyeri kepala. Dan penilaian 'Frekuensi' nyeri kepala dirasakan juga menjadi penting untuk menegakkan diagnosa.

"Ini artinya, adalah kita harus waspada. Aapabila frekuensi nyeri kepala yang dirasakan semakin sering dan berlangsung dalam kurun waktu cukup lama," kata Agus.

Ia mengingatkan, apabila Nyeri kepala yang dirasakan disertai dengan beberapa atau salah satu gejala samping (yang mengikuti rasa nyeri tersebut), yaitu misalnya suara serak, leher kaku dan menjalar ke bahu lengan, hingga penglihatan mata menjadi tidak fokus dan pendengaran terganggu.

"Karena nyeri kepala dapat sebagai indikator salah satu penyakit saraf yang serius, yaitu gejala timbulnya stroke, adanya tumor otak, kelainan pembuluh darah otak dan Infeksi otak. Ini berarti Diteksi dini dan penanganan medis segera diperlukan," tutur Agus.

Setelah penanganan melalui metode VAS, proses screening dengan Magnetic resonance imaging (MRI) masih dapat diandalkan. Atau bila perlu ditambahkan CT scan guna melihat kemungkinan kelainan di daerah otak.

"Dan tindakan operasi, radiasi, kemoterapi yang akan dilakukan dokter ahli yang akan sangat tergantung jenis dan tingkat kesulitan Nyeri kepala sekunder yang terdiagnosa," katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas