Tribun Kesehatan

Kenali Ablasi, Tindakan Minim Risiko untuk Penderita Gangguan Jantung Aritmia

Jika ditemukan gejala yang berat, penanganan ablasi merupakan pilihan yang tepat bagi pasien yang menderita aritmia. Ini alasannya!

zoom-in Kenali Ablasi, Tindakan Minim Risiko untuk Penderita Gangguan Jantung Aritmia
Shutterstock
Ilustrasi aritmia jantung. 

TRIBUNNEWS.COM - Aritmia adalah kondisi gangguan jantung yang ditandai dengan detak jantung yang tidak teratur atau jantung yang berdebar kencang. Kondisi ini terjadi ketika sinyal impuls listrik yang mengoordinasikan detak jantung tak berfungsi dengan baik.

Terdapat beberapa kategori dari gangguan jantung aritmia. Yang pertama adalah detak jantung lambat atau bradikardia, lalu detak jantung cepat atau takikardia, ketiga adalah detak jantung tidak teratur atau fibrilasi, dan terakhir yaitu detak jantung dini.

Menurut dr. Rerdin Julario, SpJP (K), Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia dan Intervensi dari Mayapada Hospital Surabaya, terdapat sejumlah faktor yang dapat menyebabkan aritmia.

“Yang paling sering adalah kelainan jantung koroner. Selain itu ada penyebab lain seperti gangguan metabolisme, elektrolit, kemudian kelainan genetik atau bawaan. Itu sering memunculkan gejala aritmia,” kata dr. Rerdin, Senin (29/8/2022).

Ia menambahkan, aritmia fibrilasi atau detak jantung tidak teratur adalah jenis aritmia yang paling kompleks untuk ditangani. Penanganan aritmia jenis ini harus menggunakan alat yang sudah tiga dimensi, dan alat tersebut baru tersedia di beberapa rumah sakit di Indonesia.

“Kalau aritmia fibrilasi penanganannya harus tiga dimensi. Karena tingkat keakuratannya lebih tinggi, detail kelainan aritmia akan terlihat lebih tinggi. Meski lebih kompleks, alat tiga dimensi bisa menangani aritmia fibrilasi ini dan bisa lebih dipermudah,” ujarnya.

Gangguan aritmia, sebutnya, memang cukup beragam. Yang mengkhawatirkan, masih banyak masyarakat yang menyepelekan kondisi ini. Padahal, aritmia dapat menimbulkan komplikasi yang lebih buruk pada beberapa kondisi tertentu, di mana seseorang bisa tak sadarkan diri atau pingsan saat mengidap gangguan jantung ini.

Namun, masyarakat dapat melakukan deteksi dini secara mandiri untuk menentukan adanya gejala penyakit tersebut. Ia pun menjelaskan langkah yang dapat dilakukan untuk mengetahui gejala aritmia.

“Jadi caranya cukup simpel, yaitu bisa meraba nadi sendiri (menari), kita bisa tahu jantung kita teratur atau tidak, ada kelainan atau tidak,” jelasnya.

Jika masih merasa ragu setelah melakukan deteksi dini mandiri dan menginginkan hasil yang akurat, masyarakat disarankan untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan ke dokter spesialis jantung di rumah sakit yang menawarkan fasilitas memadai.

Pemeriksaan awal ini diperlukan untuk menentukan langkah berikutnya. Sebab, terdapat beberapa kasus aritmia yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

“Melakukan rekam jantung, dalam hal ini EKG atau ESG, bisa menilai kelainan aritmia atau tidak,” lanjut dr. Rerdin.

“Kalau perlu, kita lakukan pemeriksaan lanjut yang namanya holter monitoring. Itu sama persis seperti ESG. Dari situ, kita lihat selama 24 jam apakah tingkatan aritmia banyak atau tidak. Jika banyak, lebih dari 10 persen, kita lakukan tindakan invasif non bedah,” sambungnya.

Ablasi sebagai tindakan penanganan aritmia

Sebelum menentukan tindakan, dokter juga akan melihat apakah pasien penderita aritmia memerlukan langkah elektrofisiologis atau EVS. Tindakan ini dilakukan untuk menentukan beratnya gejala aritmia yang dialami pasien.

Jika ditemukan gejala yang berat, penanganan ablasi merupakan pilihan yang tepat bagi pasien yang menderita aritmia. Berdasarkan data, angka keberhasilan tindakan ablasi sangat tinggi.

“Kalau berat kita lakukan ablasi. Kita bisa koreksi dan kendalikan dengan ablasi jantung,” ujar dr. Rerdin.

Lebih lanjut, ia memberikan penjelasan tentang bagaimana penanganan ablasi dilakukan untuk penderita aritmia.

“Ablasi jantung cukup simpel, bius lokal kemudian kalau tidak ada masalah satu hari bisa pulang. Tindakan ablasi tidak perlu dengan obat-obatan sama sekali untuk mengurangi aritmia,” ungkapnya.

Demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan penanganan aritmia yang komprehensif, Mayapada Hospital Surabaya menjadi rumah sakit swasta pertama se-Jawa Timur yang memiliki alat serta dapat melakukan tindakan pertama ablasi untuk kasus aritmia.

Dengan fasilitas dan teknologi lengkap yang disediakan Mayapada Hospital Surabaya, masyarakat tak perlu lagi melakukan pengobatan ke luar negeri untuk menangani jenis gangguan jantung ini.

“Di Mayapada lengkap mulai dari diagnosis, ESG, sampai tindakan yang paling advanced. Untuk Aritmia sendiri ada banyak pengobatan dan yang paling terakhir di Ablasi, dan kita sudah mampu dan bisa melakukan itu dengan hasil yang bagus,” kata dokter Ira dari Mayapada Hospital Surabaya.

“Masyarakat pun perlu tahu bahwa kami rumah sakit menyiapkan fasilitas untuk mendeteksi aritmia, dari mulai yang sederhana sampai kepada tindakan ablasi itu tersedia,” ujarnya.

Dengan alat yang mumpuni dari Mayapada Hospital Surabaya, penanganan ablasi bagi pasien aritmia pun dipastikan akan berjalan dengan baik.

“Untuk ablasi ini first time untuk masyarakat Surabaya. Mungkin juga untuk yang di Jawa Timur tidak banyak RS yang bisa melakukan tindakan ablasi. Meski Mayapada Hospital Surabaya baru berdiri pada November tahun lalu, kita sudah memberikan pelayanan ke masyarakat yang makin hari makin baik dan makin sempurna, melengkapi semua kebutuhan masyarakat,” katanya.

Maka itu, ia menyarankan agar masyarakat Surabaya jangan ragu dan segera melakukan pemeriksaan ke rumah jika mengalami gejala aritmia.

“Jika mengalami gejala yang tidak normal seperti biasanya, harus diperiksakan ke dokter,” ujar dia.

Mayapada Hospital Surabaya pun memiliki layanan Cardiac Emergency yang dihadirkan bagi pasien dengan serangan jantung.

Di pusat Cardiac Emergency, terdapat dokter spesialis jantung yang bertugas melakukan intervensi dan lab kateterisasi siaga 24 jam untuk tindakan kateterisasi jantung dan Primary Percutaneous Coronary Intervention, serta dokter spesialis bedah jantung yang mampu melakukan operasi bedah jantung dengan minimal invasive atau sayatan minimal.

Selain itu, terdapat pusat Stroke Emergency dengan dokter spesialis saraf dan bedah saraf yang siap menangani pasien stroke akibat sumbatan maupun perdarahan. Di sini, pasien bisa mendapatkan penanganan terapi trombolitik, intervensi, hingga operasi.

Dengan layanan komprehensif kegawatdaruratan 24 jam 7 hari yang terdiri dari Trauma Center, Cardiac Emergency, dan Stroke Emergency dari Mayapada Hospital Surabaya, masyarakat akan menerima tindakan dari tim yang cepat, sigap, serta berkomitmen dalam menangani pasien dengan berbagai kasus cedera yang membutuhkan tindakan segera.

Bila Anda merasakan gejala Aritmia atau keluhan lainnya, Anda dapat melakukan konsultasi dengan dokter di Mayapada Hospital Surabaya, rumah sakit swasta pertama se-Jatim yang menghadirkan tindakan pertama ablasi untuk para pasien penderita aritmia.

Klik link ini untuk berkonsultasi dengan dokter di Mayapada Hospital Surabaya sekarang juga:  https://mayapadahospital.com/askdoctor

Admin: Sponsored Content
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas