Tribun Kesehatan

BKKBN Perkuat Kemitraan dengan Pihak Swasta untuk Percepatan Penurunan Stunting

BKKBN dan swasta membuat Nota Kesepahaman Bersama menekan prevalensi stunting yang ditargetkan turun 14% pada tahun 2024.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in BKKBN Perkuat Kemitraan dengan Pihak Swasta untuk Percepatan Penurunan Stunting
Dok. BKKBN
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo. Ia menyebut masalah kesehatan erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dalam hal ini indikator terdekatnya adalah stunting. 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkuat kemitraan dengan pihak swasta dalam upaya percepatan penurunan stunting nasional melalui implementasi program gizi terintegrasi.

BKKBN bersama organisasi filantropi dan sejumlah perusahaan swasta membuat Nota Kesepahaman Bersama (MoU) untuk membantu menekan prevalensi stunting yang ditargetkan turun 14 persen pada tahun 2024.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan masalah kesehatan erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dalam hal ini indikator terdekatnya adalah stunting.

Baca juga: BKKBN Sebut Program KB Berkaitan Erat dengan Upaya Penurunan Stunting

"Kemudian seluruh pemerintah bergerak untuk meningkatkan human development index yang di dalamnya unsur kesehatan, unsur pendidikan, dan pendapatan per kapita," ujar Hasto melalui keterangan tertulis, Senin (26/9/2022).

Hasto menjelaskan stunting sangat berpengaruh terhadap kualitas kesehatan dan kualitas pendidikan.

Dampak dari stunting, kata Hasto, adalah kemampuan intelektual yang di bawah standar.

Menurutnya, hal ini akan menjadi masalah besar ketika Indonesia tengah menikmati manisnya bonus demografi namun disisi lain prevalensi stunting masih diangka 24,4%.

"Kemudian akhir-akhir ini indikator baru human capital index juga menjadi perhatian serius, karena baik di dalam human development index maupun human capital index maka unsur kualitas SDM menjadi focus of interest kita semua," kata Hasto.

Dirinya mengucapkan terima kasih kepada pihak swasta yang telah membantu BKKBN dalam upaya meningkatkan kualitas SDM dari hulu hingga hilir.

Mengambil contoh dari USAID dan Tanoto Foundation, Hasto mengajak berbagai pihak lainnya untuk turut berkolaborasi membantu program penurunan stunting.

Sementara itu, Tanoto Foundation, berkomitmen untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam program percepatan penurunan stunting melalui kerja sama ini.

“Tanoto Foundation meyakini bahwa kemitraan merupakan faktor kunci dalam program percepatan penurunan stunting di Indonesia. Tidak hanya pemerintah, keterlibatan pelaku usaha, media, akademisi, dan masyarakat menjadi penting,” ujar Head of ECED Tanoto Foundation, Eddy Henry.

Senada dengan Eddy, Mission Director USAID, Jeffery P. Cohen menyambut baik bergabungnya para mitra BKKBN dalam percepatan penurunan stunting. Menurutnya, program stunting tidak akan bisa berjalan jika hanya dilakukan oleh satu pihak saja.

“Saya berharap dapat memperluas kemitraan. Saya tidak sabar Indonesia menuju kemandirian. Kami menghormati mitra sektor swasta tidak hanya bisnis tapi perubahan sosial bagi masyarakat,” ujar Jeffery.

Baca juga: Penyebab Stunting pada Anak: Rendahnya Akses Terhadap Makanan Bergizi hingga Pola Asuh Ibu

MoU tersebut ditandatangani oleh Mission Director USAID, Jeffery P. Cohen, Head of ECED Tanoto Foundation, Eddy Henry, Kepala Departemen Dampak Sosial PT Amman Mineral Nusa Tenggara Priyo Prasetyo Pramono.

Lalu Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian Anis Purbasari dan Executive Vice President PT Bank Central Asia,Tbk. Hera F. Haryn.

Tidak hanya soal stunting, MoU antara USAID dan Tanoto Foundation, AMMAN, Yayasan Bakti Barito, dan BCA ini juga berkontribusi pada tujuan Strategi Kerja Sama Pembangunan Negara AS - Indonesia 2020-2025, dan Strategi Multi Sektoral USAID untuk Gizi dan Pencegahan Kematian Ibu dan Anak 2014-2025.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas