Tribun Kesehatan

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Tragedi Kanjuruhan, Gas Air Mata Disorot, Ketahui Bahan hingga Efeknya pada Pernapasan dan Kulit

Tembakan gas air yang dilakukan aparat kepolisian untuk menghalau ribuan suporter merangsek ke dalam lapangan saat laga Arema FC vs Persebaya.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Tragedi Kanjuruhan, Gas Air Mata Disorot, Ketahui Bahan hingga Efeknya pada Pernapasan dan Kulit
Surya Malang/Purwanto
Kericuhan suporter Areman FC yang bentrok melawan polisi buntut kekalahan Arema FC dalam pertandingan Liga 1 melawan Persebaya Surabaya dengan skor 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) malam. Dalam bentrok ini polisi menembakkan gas air mata dan 127 suporter termasuk 2 polisi dilaporkan tewas. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tembakan gas air mata oleh pihak kepolisian ke arah tribun penonton di Stadion Kanjuruhan, tempat digelarnya duel Arema FC vs Persebaya Surabaya jadi sorotan. 

Tembakan gas air yang dilakukan aparat kepolisian untuk menghalau ribuan suporter merangsek ke dalam lapangan.

Dalam Regulasi FIFA soal Keselamatan dan Keamanan Stadion, FIFA menyebutkan penggunaan gas air mata atau gas pengendali massa dilarang. Di sisi lain, gas air mata dituding menjadi penyebab jatuhnya ratusan korban. 

Baca juga: Ratusan Aremania Meninggal di Kanjuruhan, Bonek Bakal Gelar Salat Gaib

Lantas apa sebenarnya yang terkandung di dalam gas air mata, dan apa dampaknya jika terhirup dan masuk dalam pernapasan?

Menurut Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI / Guru Besar FKUI, Prof Tjandra Yoga Aditama memaparkan lima hal tentang gas air mata

Pertama, beberapa bahan kimia yang digunakan pada gad air mata dapat saja dalam bentuk chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA) dan dibenzoxazepine (CR). 

Kedua, secara umum dapat menimbulkan dampak pada kulit, mata dan paru serta saluran napas. 

Ketiga, gejala akutnya di paru-paru dan saluran napas. Dapat berupa dada berat, batuk, tenggorokan seperti tercekik, batuk, bising mengi, dan sesak napas. Pada keadaan tertentu dapat terjadi gawat napas ("respiratory distress"). 

"Masih tentang dampak di paru, mereka yang memiliki penyakit asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), jika terkena gas air mata maka dapat terjadi serangan sesak napas akut. Bukan tidak mungkin berujung di gagal napas ("respiratory failure")," ungkap Prof Tjandra pada keterangan resmi, Minggu (2/01/2022).

Baca juga: Kenang Momen Tonton Arema di Kanjuruhan, Arie Kriting: Tak Terbayang Tempat yang Sama Ada Tragedi

Keempat, selain di saluran napas maka gejala lain adalah rasa terbakar di mata, mulut dan hidung. Lalu dapat juga berupa pandangan kabur dan kesulitan menelan. Bisa alami semacam luka bakar kimiawi dan reaksi alergi.

Kelima, walaupun dampak utama gas air mata adalah dampak akut yang segera timbul, ternyata pada keadaan tertentu dapat terjadi dampak kronik berkepanjangan. 

"Hal ini terutama kalau paparan berkepanjangan, dalam dosis tinggi dan apalagi kalau di ruangan tertutup," pungkasnya. 

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas