Tribun Kesehatan

Benarkah Stres karena Kurang Ibadah? Ini Penjelasan Psikiater

Seringkali mendengar nasihat agar rajin beribadah saat sedang depresi maupun dilanda stres. Benarkah? Ini pendapat psikiater.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Anita K Wardhani
zoom-in Benarkah Stres karena Kurang Ibadah? Ini Penjelasan Psikiater
www.naukrigulf.com
Ilustrasi stres. Seringkali mendengar nasihat agar rajin beribadah saat sedang depresi maupun dilanda stres. Benarkah? Ini pendapat psikiater. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Seringkali mendengar nasihat agar rajin beribadah saat sedang depresi maupun dilanda stres.

Nasihat itu muncul karena banyak orang beranggapan bahwa seseorang yang depresi karena kurang dekat dengan Tuhan alias kurang ibadah.

Psikiater sekaligus Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Agung Frijanto, SpKJ menyatakan, meski anggapan itu keliru, sisi spiritual tetap memiliki hubungan dengan kondisi mental seseorang.

Baca juga: YouTuber Inggris Yang Top di Jepang Malahan Stres Kalau Pakai TikTok

"Jadi tidak langsung depresi karena kurang ibadah, tapi saling terkait. Karena ada orang yang secara genetik itu memang hormon depresi dan hormon kecemasannya tidak seimbang, sehingga rentan terhadap kesehatan jiwa," ujar dia beberapa waktu lalu.

Ia menerangkan, penyebab kesehatan mental sangat beragam mulai dari pola asuh yang membentuk daya tahan mental, kemudian lingkungan, maupun memaknai spiritualitas tertentu.

"Ada juga yang tidak tepat memaknainya misalkan mengikuti kelompok atau aliran-aliran yang ternyata sesat, itu juga bisa berpengaruh terhadap masalah kesehatan jiwanya," imbuh dokter Agung.

Meski demikian, terapi agama atau spiritual diungkap dokter Agung, bisa dijadikan salah satu terapi untuk menangani masalah kesehatan mental.

Baca juga: Stres Urus Anak Bahkan Putus Asa, Kapan Orangtua Harus Konsultasi ke Psikolog?

Ada empat terapi kesehatan mental yang bisa dilakukan, yakni obat-obatan dengan farmakoterapi.

Lalu, dengan konseling untuk psikologis dan edukasi. Kemudian, melalui lingkungan atau sosial, serta berbasis agama.

"Agama ada juga itu. Jadi itu saling terkait," ungkapnya.

Dalam undang-undang kesehatan dan kesehatan jiwa Nomor 18 Tahun 2014, dokter Agung menjelaskan seseorang dikatakan yang sehat jiwa dan mentalnya saat fisik, mental, sosial, dan spiritualnya harus sehat.

"Jadi contoh kesehatan spiritual itu adalah orang yang jujur, orang yang adil orang yang tidak melakukan tindakan kriminal itu sehat spiritual itu ya contoh-contohnya seperti itu. Namun ketika bermasalah dengan kesehatan jiwanya, maka penyebabnya bisa terkait dengan faktor biologis, psikososial, psikologis, pola asuh, lingkungan, dan spirtitualias," terang dokter Agung.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas